<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743</id><updated>2012-02-16T14:12:58.248+08:00</updated><category term='puisi'/><category term='artikel'/><category term='diari'/><title type='text'>Catatan Kontemplasi</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>25</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-8613470346790549969</id><published>2010-08-07T21:11:00.007+08:00</published><updated>2010-08-07T21:34:05.509+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Meneropong Masa Depan Indonesia</title><content type='html'>“Berikanlah aku kondisi masa kini, maka aku akan dapat menentukan masa depan,” kata seorang ilmuwan matematika sekaligus seorang filsuf: Gottfried W. Leibniz. Dan meneropong masa depan Indonesia dari kondisi sekarang, kemudian menerapkan ungkapan Leibniz di atas, maka akan tampaklah kesuraman yang pekat di masa depan bangsa kita. Betapa tidak, kerapuhan moral tampaknya telah melanda kita dimana-mana.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kerapuhan pertama dapat kita simak dari moral para politisi di gedung parlemen. Mereka yang sesungguhnya adalah wakil rakyat semestinya menyuarakan aspirasi rakyat. Tetapi kenyataannya kebanyakan di antara mereka lebih mementingkan mempertahankan kekuasaan mereka ketimbang memperjuangkan hak-hak rakyat. Skandal bank Century misalnya, yang dibuatkan pansus untuk mengusutnya memang sempat membuat rakyat optimis, tetapi akhirnya skandal ini pelan-pelan mengedap tanpa hasil sama sekali. Padahal milyaran uang rakyat telah dikeluarkan untuk membiayai kerja pengusutan ini. Tapi seiring dengan kepergian Sri Mulyani ke Washington DC, lalu terbentuknya Sekretariat Bersama Partai Koalisi, usailah sudah episode Pansus Bank Century ini. Tampaknya sebuah kepentingan telah tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain kerapuhan moral di parlemen adalah ngototnya usulan dana aspirasi yang diajukan oleh Partai Golkar. Usulan ini meskipun telah ditolak oleh sejumlah partai politik ternyata tetap muncul di draft anggaran dewan. Padahal sebelumnya sejumlah pakar dan pengamat menilai bahwa usulan ini melanggar wewenang dan fungsi lembaga legislatif dan berpotensi melanggar undang-undang serta dapat menjadi lahan korupsi baru bagi anggota dewan. Tapi begitulah adanya, usul ini tetap masuk dalam draft anggaran, hanya sedikit ada perubahan nomenklatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerapuhan yang kedua tampak di berbagai institusi penegak hukum negara. Para mafia hukum bertebaran di lembaga kejaksaan dan kepolisian. Sepak terjang para Mafioso ini bersama-sama dengan koruptor yang sulit diberantas telah menggerogoti kekayaan bangsa kita di tengah-tengah kesengsaraan rakyat. Bahkan gurita korupsi dan kongkalikong ini telah membelit dan menyeret mereka yang berada di kejaksaan dan kepolisian yang justru harus memberantas mafioso dan koruptor ini. Sulit mengharapkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan kondisi yang seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pembangunan bangsa kita ini akan berjalan untuk mencapai tujuan kemerdekaan seperti yang dimaklumatkan dalam konstitusi jika kondisinya sedemikian ini? Modal kapital tergerus untuk kepentingan pribadi dan segolongan kecil saja, pajak digelapkan, sumber daya alam yang potensial hampir semuanya dikuasai asing, penyelenggara negara lumpuh menjalankan program-program pembangunan kebangsaan akibat tersandera kepentingan segelintir golongan, penegak hukum dan keadilan tak bertaji menegakkan hukum dan keadilan. Dan, generasi muda kita? Pelanjut tongkat estafet pembangunan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menunjukkan kerapuhan yang ketiga. Generasi bangsa yang akan melanjutkan gerak roda pembangunan telah terpapar perilaku tak bermoral yang tersaji di depan mata mereka di hampir segala lini. Dari gedung wakil rakyat, dari pemerintah, lembaga penegak hukum, institusi pendidikan, semua menunjukkan negasi atas nilai-nilai dan norma-norma moral yang mereka ketahui. Di usia mereka yang labil mereka lalu menjadikan artis sebagai figur. Tetapi, para artis yang diidolakan justru menawarkan moral yang tidak lebih baik. Pergaulan bebas, narkoba, gaya hidup glamour, adalah warna yang melekat di figur-figur artis itu. Bahkan belakangan ini sebuah video mesum yang melibatkan sejumlah artis papan atas, yang pasti banyak diidolakan generasi muda kita, telah menghebohkan tanah air hingga ke mancanegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih parah lagi, kasus video ini dieksploitasi habis-habisan oleh media massa, elektronik maupun cetak, menampilkan pro dan kontra hukuman bagi pelakunya. Eksploitasi ini telah mengesankan bahwa seks bebas bukanlah lagi hal yang tabu sekarang. Sungguh kita telah membenamkan mereka ke jurang kebobrokan moral yang tiada tara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa mengerikannya kerapuhan demi kerapuhan moral di negara kita ini. Wajarlah masa depan negeri ini tampak suram. Penyelenggara negara, modal pembangunan, dan generasi pelanjut kita, hampir semuanya menunjukkan kerapuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita hendak memperbaikinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar dari semua kerapuhan di atas sesungguhnya adalah moralitas kita yang telah luntur tergerus oleh zaman. Zaman dengan kemajuan teknologi dan informasi ini telah menumbuhkan benih individualisme tanpa kita. Jauh-jauh hari sebelumnya, seorang filsuf yang juga fisikawan: Fritjof Capra, telah mengingatkan kita bencana yang dibawa oleh zaman ini. Menurut Capra zaman dengan segala kemajuan seperti sekarang ini sangat berpotensi mengasingkan pribadi kita ke dalam jurang egoisme. Di zaman ini kita tanpa sadar telah memaknai diri kita terlepas dari keberadaan orang lain di sekitar kita. Kita beraksi dan bereaksi tanpa memedulikan sekitar kita. Empati dan kebersamaan yang kita miliki telah hilang yang berimplikasi pada merosotnya moral kita. Padahal dengan semangat kebersamaan dan empati inilah, para pejuang pendahulu kita menegakkan fondasi awal negara dan kehidupan berbangsa kita. Alangkah mustahilnya membayangkan negara kita akan berdiri seperti sekarang ini andai para pejuang kita dahulu adalah orang-orang dengan mental dan moral seperti yang kita miliki sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka demi membenahi kerapuhan demi kerapuhan yang telah melanda kita, kita harus memulainya dengan membenahi moral dan mental kita masing-masing. Menyingkirkan jauh-jauh sifat individualistis kita. Berhentilah kita saling mencari kesalahan hanya demi mementingkan kepentingan diri pribadi atau golongan. Berhentilah kita menggerogoti milik rakyat hanya untuk kepentingan diri sendiri. Saatnya kini kita bahu membahu untuk bekerja sama berbuat yang terbaik demi mencapai cita-cita negara yang diamanatkan sekarang di pundak kita. Semuanya harus dimulai dari masing-masing diri kita! Kebersamaan dan empati kita harus kita bangkitkan kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalannya pemerintahan harus kita dukung dan kontrol, korupsi dan guritanya harus kita berantas, kasus penggelapan pajak harus kita tuntaskan, hukum dan keadilan harus kita tegakkan, generasi muda kita bina sedini mungkin, semuanya kita lakukan secara bersama-sama, secara holistik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jalan inilah masa depan Indonesia yang tampak suram kita harapkan akan menjadi cerah di depan sana. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;/br&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php"&gt;Suka? Bagikan ke yang lain!&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/br&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-8613470346790549969?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/8613470346790549969/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=8613470346790549969&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/8613470346790549969'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/8613470346790549969'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2010/08/meneropong-masa-depan-indonesia.html' title='Meneropong Masa Depan Indonesia'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-2058720184137057429</id><published>2010-06-13T17:34:00.004+08:00</published><updated>2010-06-13T17:45:56.450+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Membuang SDM dan Mimpi Menjadi Negara Maju</title><content type='html'>Namanya Profesor Nelson Tansu, pria kelahiran Medan, dengan usianya yang masih sangat muda, telah menjadi profesor (ketika itu profesor termuda) di belantara akademika Amerika Serikat. Tidak tanggung-tanggung, dia guru besar di salah satu universitas ternama di negeri Paman Sam: Lehigh University, Pensylvania. Sejumlah hak paten atas penemuannya dalam bidang material semikonduktor dan superkonduktor yang terdaftar di Amerika ada digenggamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi dan reputasi ini telah membuat banyak negara menginginkannya untuk menjadi warga negaranya. Bahkan beberapa negara maju secara langsung telah mengklaimnya sebagai berkewarganegaraan negara itu. Tapi Profesor Nelson tidak pernah melupakan dirinya sebagai orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ironisnya, di tengah rebutan negara-negara maju ini, negerinya sendiri seakan tidak terlalu peduli pada potensi besar yang dimilikinya. Ketika negara-negara maju ramai dan berebut untuk menjadikannya sebagai warga negaranya, negaranya sendiri seolah tak peduli. Ini adalah petunjuk jelas bahwa kita sesungguhnya tidak membutuhkan orang-orang yang luar biasa semacam Profesor Nelson. Padahal keahlian dan potensi yang dimilikinya sangat mungkin untuk dapat mengantarkan kita menjadi salah satu negara pelopor kemajuan teknologi. Tampaknya kita jauh lebih senang dengan predikat yang melekat pada kita sebagai negeri dengan konsumsi terbesar produk-produk teknologi ketimbang berupaya menjadi pelopor teknologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu memang kita pernah punya mimpi untuk menjadikan negara kita sebagai salah satu negara dengan teknologi yang maju. Impian itu terbetik sejak beberapa dekade yang lalu tetapi melihat kenyataan seperti di atas, sepertinya impian itu hanya utopia belaka. Puluhan tahun belakangan ini kita hanya berasyik masyuk pada persoalan politik yang membingungkan, menguras energi dan biaya yang tidak sedikit namun hasil yang diperoleh tidak cukup signifikan untuk kemajuan negeri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal apakah yang harus kita punyai untuk dapat mengantarkan kita agar dapat menjadi negara yang bisa bersaing di kancah internasional?&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya tentu antara lain adalah sumber daya alam dan sumber daya manusia. Sumber daya alam kita tak usah diragukan lagi kelimpahannya. Tetapi mengenai sumber daya manusia, beberapa hal telah membuat kita miris.&lt;br /&gt;Pertama adalah pembangunan bidang pendidikan yang setengah hati, dan yang kedua adalah pengabaian kita pada sumber daya manusia kita yang telah nyata sangat kita butuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pendidikan yang setengah hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan sebagai wahana untuk membangun dan membentuk sumber daya manusia kita sampai sekarang masih setengah hati kita urusi. Padahal pendidikan adalah bidang yang sangat penting untuk diberi perhatian penuh. Jepang telah mengajarkan kita arti penting pemrioritasan pendidikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tahu bahwa Jepang pernah hancur justru di saat kita akan mencapai kemerdekaan kita. Namun sekarang Jepang telah sangat jauh meninggalkan kita. Ketika Jepang hancur, pemerintah Jepang tahu bahwa untuk membangun kembali negeri mereka akibat bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, maka pendidikan adalah hal pertama yang harus dibenahi. Mereka harus memiliki sumber daya manusia yang akan memikul bertanggung jawab membangun negeri mereka. Dan pendidikan adalah jalan utama untuk itu. Oleh karena itu Jepang memulai pembangunan negaranya dengan mengirimkan dan memfasilitasi sumber daya manusia mereka untuk mereguk ilmu sebanyak mungkin dari seluruh negeri di dunia lalu para ilmuwan Jepang ini ditarik kembali ke negeri mereka sendiri. Tak lebih dari tiga dekade kemudian, Investasi Jepang di bidang pendidikan ini telah menampakkan hasilnya. Dewasa ini Jepang adalah salah satu negara maju dalam bidang teknologi yang disegani oleh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertentangan dengan Jepang, sejak kita memproklamasikan kemerdekaan bangsa kita, hingga saat ini kita bahkan belum dapat menemukan bentuk demokrasi yang pas bagi negara kita. Padahal dengan usia kemerdekaan yang telah setengah abad lebih seharusnya kita telah mapan dalam bidang politik sehingga kita bisa beralih ke bidang yang lainnya terutama dalam bidang pendidikan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, hingga saat ini peri kehidupan politik kita seolah belum beranjak dewasa. Kisruh politik masih sangat sering terjadi. Dan kekisruhan ini menyedot begitu banyak energi dan biaya, serta perhatian  yang tidak sedikit yang menyebabkan terabaikannya sektor-sektor yang lain. Termasuk bidang pendidikan.&lt;br /&gt;Selain kekisruhan demi kekisruhan pada bidang politik, hingga saat ini, dalam tataran implementasinya, pemerintah kita juga belum begitu menyadari pentingnya pembangunan bidang pendidikan. Meskipun konstitusi kita sangat jelas mengatakan bahwa salah satu tujuan pendirian negara kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah masih setengah hati mengalokasikan anggaran yang memadai untuk membangun bidang pendidikan kita. Perlu jalan panjang dan berliku untuk kemudian dapat memenuhi 20% dari APBN kita untuk bidang pendidikan. Sekali lagi itu pun dengan setengah hati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu saja, untuk dapat memanggil Profesor Nelson Tansu ke negerinya kembali –jika pun kita sadar bahwa kita membutuhkannya– kita harus berani menganggarkan lebih dari 20% itu untuk mendukung pelaksanaan riset-riset yang akan dilakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ironi Sri Mulyani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor Nelson Tansu di atas mungkin cerita yang telah klasik tentang fenomena ‘membuang’ sumber daya manusia kita. Yang sedikit lebih aktual adalah ketika orang sekaliber Sri Mulyani, mantan menteri keuangan Indonesia mengundurkan diri dari jabatannya karena diangkat menjadi salah satu direktur eksekutif Bank Dunia tanpa sepengetahuannya sama sekali. Sri Mulyani adalah seseorang yang memiliki reputasi internasional yang tidak sembarang orang dapat  mencapainya, menduduki jabatan penting di negerinya, toh ‘dibuang’ dengan cara yang sangat elegan demi memuaskan hasrat berkuasa penguasa yang, meminjam istilah Sri Mulyani, merupakan perkawinan politikus dan pengusaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun dikesankan bahwa pengunduran diri Sri Mulyani adalah atas kehendaknya sendiri, publik tidak semudah itu akan terkecoh. Logika awam pasti akan seperti ini: jika memang kita mengakui kualitas dan kompetensi seorang Sri Mulyani dan sangat dibutuhkan untuk kemajuan perekonomian bangsa kita, mengapa kita dengan begitu ikhlas dan senang hati melepaskan dia untuk menjadi direktur eksekutif di Bank Dunia? Bukankah kita jauh lebih membutuhkannya dibanding Bank Dunia yang toh bisa mencari calon lain dari seluruh penjuru dunia? Betapa pun bergengsinya jabatan baru yang diembannya, Sri Mulyani pastilah lebih suka bekerja dan berbuat untuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya adalah nasionalis sejati”, kata Sri Mulyani ketika ditanya tentang kepergiannya ke Washington menduduki jabatan baru adalah karena dia tidak senang lagi bekerja di Indonesia seperti di wartakan dalam harian Kompas, 16 Mei 2010. Jawaban singkat ini jelas menyiratkan bahwa sesungguhnya Sri Mulyani masih ingin melakukan yang terbaik untuk negerinya.&lt;br /&gt;Sekali lagi inilah contoh faktual ‘pembuangan’ sumber daya manusia kita. Kita lebih suka membiarkan orang-orang yang potensial untuk membawa kemajuan di negeri kita menjadi tersingkir, bekerja bukan untuk kepentingan kemajuan negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, jika sekarang kita masih memimpikan bahwa suatu saat Indonesia akan menjadi negara maju, impian itu adalah utopia belaka. Sebab sampai saat ini kita masih lebih suka membuang sumber daya manusia kita yang potensial dan masih setengah hati berinvestasi demi kualitas pendidikan kita. Nelson Tansu dan Sri Mulyani adalah sekedar contoh sumber daya manusia potensial yang kita miliki tetapi bekerja untuk kemajuan negara lain. Pendidikan yang tersendat-sendat dan carut marut adalah bukti kesetengah-hatian pemerintah kita mengurusi pendidikan. Implikasinya adalah negeri kita tak pernah maju-maju sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php"&gt;Suka? Bagikan ke yang lain!&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-2058720184137057429?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/2058720184137057429/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=2058720184137057429&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2058720184137057429'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2058720184137057429'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2010/06/membuang-sumber-daya-manusia-dan-mimpi.html' title='Membuang SDM dan Mimpi Menjadi Negara Maju'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-2014459189921114684</id><published>2010-05-27T20:51:00.003+08:00</published><updated>2010-05-27T20:57:00.344+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diari'/><title type='text'>Intermezo : Kisah Kecil Tentang Namaku</title><content type='html'>Nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku waktu aku masih kecil dulu bukanlah nama yang kupakai sekarang. Tapi karena saya sering sakit-sakitan dengan nama asliku dulu itu, maka lazimnya orang-orang tua dulu aku harus ganti nama. Dan otoritas menentukan nama itu sepenuhnya diberikan padaku. Alhasil, aku pun ganti nama seperti yang kupakai sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu, di tahun 80-an televisi bukanlah barang lazim seperti sekarang ini. Di kampungku hanya satu orang yang punya. Sebuah televisi hitam putih yang di saat menontonnya nyata sekali bahwa citra yang terlihat di layar tabung itu dibentuk oleh bintik-bintik yang sangat kasar. Tapi di zaman itu, dengan kualitas gambar yang sedemikian itu, memadailah untuk menarik minat banyak orang berbondong-bondong sehabis shalat isya mengerubuti rumah pemilik televisi itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak ketinggalan. Di malam yang gelap dan becek, om ku dengan senang hati selalu, mendukungku di pundaknya. Membawaku melihat berbagai kejadian di tempat lain lewat televisi itu di rumah tetangga yang jaraknya kurang lebih 10 rumah dari rumahku di pinggir lapangan.  &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dan program acara yang paling kuminati adalah acara Hankamnas. Mungkin karena waktu itu tidak banyak alternatif lain selain acara itu. Maklum satu-satunya penyedia layanan siaran televisi waktu itu hanyalah TVRI yang muatan acaranya penuh dengan doktrinasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di acara Hankamnas itulah aku terpana pada figur seorang tentara yang saat itu menjabat sebagai Panglima ABRI. Seorang jenderal bersahaja dari Sulawesi Selatan: Jenderal M. Yusuf. Aku kagum pada banyak hal yang ada padanya, yang tak dapat kugambarkan lagi kini. Dan sebagai bentuk kekagumanku padanya aku pun memakai nama kecil sang Jenderal idolaku itu : Momang Yusuf. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Aku ingat waktu pertama kali masuk sekolah dasar. Guruku menanyakan nama kepadaku dan dengan lantang ku jawab: “Yusuf”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guruku mengernyit. Mungkin karena dia tahu betul bahwa namaku sesungguhnya bukan itu. Tapi aku menegaskan. “Yusuf, Bu. Nama saya Yusuf.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia pun menulis namaku itu di buku absennya. Tapi dia tambahkan menjadi M. Yusuf. Ketika aku diharuskan menuliskan secara lengkap nama yang harus dituliskan di ijazah waktu akan tamat SD beberapa tahun kemudian, kupanjangkan menjadi Momang Yusuf, seperti nama yang kupakai sekarang ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi itulah sekelumit asal usul namaku yang bagi banyak orang agak aneh. Kalau ada yang tanyakan apa makna nama itu, maka jawabnya adalah saya ingin mengabadikan nama kecil tokoh idolaku waktu kecil dulu. Aku ingin meneladaninya! Tapi jika ditanyakan apa arti nama itu, hanya Allah yang Maha Tahu tentang itu, atau haruskah kutanyakan ke Almarhum Jenderal M. Yusuf, yang telah mengilhamiku tentang nama itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php"&gt;Suka? Bagikan ke yang lain!&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-2014459189921114684?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/2014459189921114684/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=2014459189921114684&amp;isPopup=true' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2014459189921114684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2014459189921114684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2010/05/intermezo-kisah-kecil-tentang-namaku.html' title='Intermezo : Kisah Kecil Tentang Namaku'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-5792266491031366493</id><published>2010-05-02T14:48:00.005+08:00</published><updated>2010-05-02T15:13:13.018+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diari'/><title type='text'>Tanda-tanda</title><content type='html'>Sebuah rasa yang tidak nyaman, yang sulit diurai musababnya kadang-kadang adalah tanda-tanda yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Tanda-tanda itu disebut firasat. Mungkin membutuhkan tingkat “kesucian” tertentu atau bahkan perlu “spiritualitas seorang wali” untuk bisa mengetahui secara tepat tentang petunjuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, ketika Rasulullah menyampaikan khotbahnya yang terakhir pada Haji Wada’ sekian abad yang lampau, tentulah Beliau telah diberikan sebuah tanda-tanda tentang sesuatu hal. Dan sebagai seorang yang memiliki tingkat kesucian yang tertinggi yang dapat dimiliki oleh manusia di jagad raya ini, pastilah Rasulullah mampu membaca dengan tepat apa makna tanda-tanda itu. Makna tanda-tanda itu, dapat dibaca dari siratan khotbahnya yang mengarah kepada akan berpisahnya ia dengan segala anugerah kehidupannya, umatnya beserta seluruh sahabat-sahabatnya, dan perjuangannya mendakwahkan dan menegakkan agama Allah.  Tepatnya, Rasulullah telah tahu bahwa ajalnya telah dekat saat itu, lewat tanda-tanda yang dibacanya.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Dan sebuah rasa yang tak nyaman tiba-tiba pula mendera saya malam ini. Bahkan telah bermula pada sore hari sabtu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt; Sebagai orang awam, jauh dari “tingkat kesucian seorang wali”, rasa tak nyaman itu belum dapat kupahami sebagai sebuah tanda-tanda. Pikiran rasional-logis yang kumiliki masih mendominasi akalku sehingga menutupi kalbuku yang sedang berupaya mengingatkan bahwa rasa itu adalah sebuah tanda-tanda. Sebuah firasat tentang sesuatu yang akan terjadi. Dan sebagai orang yang sangat awam pula, dalam keadaan bagaimanapun tak akan pernah dapat kubaca dengan jelas dan sadar pesan firasat itu pada saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkinkah aku akan sakit?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau adakah aku telah menyantap sesuatu yang tidak higienis, atau aku kurang beristirahat, atau sesuatu hal lain yang tak sengaja kulakukan sehingga mengganggu metabolisme tubuhku, dan muncullah rasa tak nyaman ini sebagai reaksi gangguan metabolisme tubuh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan pendekatan rasional-logis itu kucoba menelusuri akar rasa tak nyaman itu. Tapi tentu saja tanda-tanda semacam itu bukanlah gejala metabolisme yang salah. Maka jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diagnosa itu nihil. Buntu tentu saja, sebab tanda-tanda seperti itu hanya dapat dibaca oleh kalbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larut malam, rasa tak nyaman itu kian mendera, membawa insomnia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kebuntuan nalar logis-ku dengan pendekatan rasionalismenya, aku beralih pada kemungkinan bahwa rasa tak nyaman itu berasal dari kalbu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya Al-Qur’an itu penyejuk bagi hati.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata sebuah bisikan dari dalam kalbuku. Ia telah menundukkan rasionalitas otak yang kini tak berkutik. Beruntunglah kita memiliki sisi spiritualitas yang, walaupun kita sering mengabaikannya karena kita lebih mengunggulkan rasio, potensi kemampuannya jauh melebihi rasio itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kuraih Qur’an, dan membuka surah ke-36: Yasin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan kueja kata demi kata dalam surah yang sangat besar fadhilahnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Yasin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah,.... “ (Q.s. 36 : 1-2)&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh tawadhu, kuresapkan ayat-ayat suci itu semampuku. Walaupun jauh lebih banyak ayat yang tak kutahu artinya, jadinya aku lebih banyak hanya sekedar membaca, tetaplah hikmah surat itu mampu merayap dan memberikan relaksasi pada syaraf-syaraf otakku. Rasa tak nyaman itu pun pelan-pelan luruh. Hingga di akhir ayat surat itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Maka Maha Suci (Allah) yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Q.s. 36: 83)&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Rasa tak nyaman itu pun mengalami netralisasi. Kini hanya insomnia yang tersisa. Hal yang lumrah padaku jika melewati pukul 00.30 tetapi aku belum memicingkan mata juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah makna rasa tak nyaman yang kurasakan sebelumnya? Adakah itu sebuah tanda-tanda? Atau firasat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang awam, makna tanda-tanda itu baru dapat terbaca olehku kemudian. Setelah pesan yang dibawanya menjelma. Seperti jawaban yang datang di dini hari ini, pukul 04.00.&lt;br /&gt;Rasa tak nyaman yang sempat menderaku itu mengabarkan makna pesan yang dibawanya lewat sebuah panggilan di handphone-ku pada saat yang tidak biasanya. Dini hari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di seberang telepon, adalah suara tante di kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu sedang apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seseorang telah berniat mencelakakan kakakmu dengan cara membakar rumahnya. Ludes, semuanya ludes. Tak ada yang tersisa. Untunglah mereka berhasil selamat sebelum api membakar mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kejadiannya sekitar pukul 02.00 dini hari tadi.” Sambungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membeku, rasa pilu mengiris. Itulah makna rasa tak nyaman itu. Sebuah tanda-tanda yang Dia berikan kepadaku. Sebuah firasat yang mengabarkan tentang musibah yang akan menimpa kakak saya nun di sana. Entah, motif apa di balik niat jahat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;“Tiada daya upaya, juga tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”.&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;“Duh, Rabb.... Seperti Engkau menimpakan musibah kepada kami, berikan pula kepada kami kekuatan dan ketabahan atas semua cobaan ini....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php"&gt;Suka? Bagikan ke yang lain!&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-5792266491031366493?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/5792266491031366493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=5792266491031366493&amp;isPopup=true' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/5792266491031366493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/5792266491031366493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2010/05/tanda-tanda.html' title='Tanda-tanda'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-2241996895483591005</id><published>2010-04-22T20:09:00.008+08:00</published><updated>2010-04-22T21:59:19.765+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Hukum, Seperti Sabit?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/S9BFSyG60WI/AAAAAAAAASk/kkz3Ur_W0Gk/s1600/SocialJustice.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 131px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/S9BFSyG60WI/AAAAAAAAASk/kkz3Ur_W0Gk/s320/SocialJustice.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462942536991166818" /&gt;&lt;/a&gt;Konon, hukum di negeri kita ini bekerja seumpama sabit. Tumpul di atas tajam di bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti di ujung jalan itu. Seorang tukang becak, diam tak sanggup berkata-kata di depan seorang petugas berkemeja biru muda dengan celana warna biru gelap. Nyalinya ciut, dengan jelas terpancar rasa takut dari wajahnya. Dia  hanya menatapi ujung jari kakinya. Raut mukanya yang sudah tua memelas. Di hadapannya seorang lelaki tegap, bersepatu kulit tinggi hingga betis, mencatat-catat sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan tukang becak tua itu. Mukanya garang, membuat sang tukang becak hanya mampu mengedip-ngedipkan kelopak matanya tanpa berani memandang sekalipun lelaki tegap dan tinggi itu.&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Lelaki tua itu hanya mampu membisu. Sekolahnya mungkin tak tamat sekolah dasar. Dengan tingkat pendidikan itu, tentu ia sama sekali tak punya kemampuan berargumentasi untuk bisa beretorika dengan licin. Baginya apa yang disangkakan oleh lelaki muda di depannya adalah benar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang benar, bahwa ia telah melanggar memasuki daerah yang seharusnya tak boleh ia masuki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya dia hanya tidak ingin melewatkan seorang calon penumpang yang mungkin membutuhkan jasa transportasinya. Ketika dilihatnya calon penumpang itu bersimbah peluh, dengan banyak barang bawaan, dia yakin bahwa penumpang itu membutuhkan jasanya. Maka tanpa pikir panjang dihampirinya sang calon penumpang. Dia sama sekali tak menyadari bahwa daerah itu adalah daerah yang tidak boleh dimasuki alat transportasi  tradisional seperti miliknya: becak. Atau mungkin saja dari gambar becak yang disilang, yang terpasang di daerah itu, dia tahu bahwa di tempat itu adalah daerah larangan. Tetapi karena persoalan rezeki dari seorang calon penumpang, dia tetap mencoba menerobos. Hitung-hitungannya, tokh dia tak lama di tempat terlarang itu. Hanya butuh beberapa menit saja untuk mengangkut calon penumpangnya, lalu mengayuh becaknya sesegera mungkin berlalu. Tak ada resiko apa-apa bagi pengguna jalan lain, selain mungkin agak macet. Tetapi dia sungguh sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekonyong-konyong, muncullah lelaki tegap berseragam biru muda-biru tua yang kini menginterogasinya. Nomor becaknya dicatat, dan entah hukuman apa yang akan diterimanya. Mungkin becaknya, tumpuan harapan satu-satunya untuk mencari nafkah, akan diangkut paksa ke mobil petugas itu, atau becak itu akan dirusakkan seperti yang sering terlihat di ibukota beberapa masa yang lampau? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, aturan begitu tanggap bagi orang tua tukang becak itu. Petugas begitu sigap menangkapnya. Dan karena sadar akan pelanggarannya, maka tukang becak itu hanya bisa memelas untuk bisa dimaklumi. Tak sanggup berkelit. Apa pula yang harus dikelitkan? Tokh, dari awal dia tahu dirinya melanggar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum memang bekerja seperti sabit. Tajam di ujungnya, memotong rumput-rumput, bahkan mencabuti akar-akarnya. Hukum bekerja sangat baik untuk orang tua tukang becak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kita membaca kisah orang kecil di atas, nun di ibukota sana, lewat siaran kotak kaca tivi, kasus dana talangan bank Century begitu sulitnya diurai. Mungkinkah karena banyak orang yang terlibat sehingga tak dapat didekati secara sigap oleh petugas? Untuk dilakukan penangkapan? Atau juga tentang kasus mafia pajak yang tak kalah sulitnya diurai. Mungkinkah karena terbentur pada persoalan siapa yang akan melakukan penangkapan itu? Dan sebagainya, dan sebagainya. Begitu berseliweran kasus-kasus sedemikian, yang hanya akan memiriskan jika diingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti pada kasus-kasus itu, pada umumnya melibatkan, atau sekedar menyerempet, orang-orang atas yang berpendidikan tinggi. Mereka tentu saja punya kemampuan argumentasi yang dahsyat, membuat kebenaran menjadi diragukan. Atau kalau tak bisa, toh mereka mampu membayar orang lain untuk melakukan hal itu baginya. Bahkan pada banyak kasus, mereka yang terlibat atau yang terserempet adalah mereka yang membuat aturan, atau mereka yang akan menegakkan aturan. Hukum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hukum bukankah akan bekerja seperti sebuah sabit? Tumpul di atas pada bagian gagangnya. Siapa pula yang hendak memegang sabit kalau justru akan melukainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum mungkin memang bekerja bagai sabit di negeri kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="fb_share" type="button_count" href="http://www.facebook.com/sharer.php"&gt;Suka? Bagikan ke yang lain&lt;/a&gt;&lt;script src="http://static.ak.fbcdn.net/connect.php/js/FB.Share" type="text/javascript"&gt;&lt;/script&gt;&lt;br /&gt;&lt;/br&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-2241996895483591005?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/2241996895483591005/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=2241996895483591005&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2241996895483591005'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2241996895483591005'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2010/04/hukum-seperti-sabit.html' title='Hukum, Seperti Sabit?'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/S9BFSyG60WI/AAAAAAAAASk/kkz3Ur_W0Gk/s72-c/SocialJustice.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-4584239022040967253</id><published>2010-04-18T17:50:00.004+08:00</published><updated>2010-04-19T21:33:00.935+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diari'/><title type='text'>Cobaan Itu Bernama Stroke</title><content type='html'>Terakhir kali dia dapat menikmati kesempurnaannya  -–kesempurnaan sebagai manusia yang dilengkapi panca indera yang masih normal dan organ-organ tubuh yang masih berfungsi dengan baik–- adalah  ketika ia datang berbela sungkawa di rumah sepupunya. Kurang lebih 150 km jauhnya dari kampungnya sendiri. Di tempat itu, sebuah tempat di Kabupaten Bulukumba, seorang kerabat menjamunya gulai kambing. Dengan menu itu, seketika nafsu makannya terbit sehingga dilahapnya santapan itu. Tanpa disadarinya, menu itulah sesungguhnya utusan takdirnya. &lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itulah terakhir kali dia menikmati enaknya daging apapun. Setelah itu cobaan pun bermula. Tepatnya dalam perjalanan pulang ke kampungnya sendiri: Manipi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di atas motor, diboncengkan keponakannya, dia tiba-tiba hilang kesadarannya. Saat itu mereka tengah  berada di daerah yang sunyi tanpa pemukiman penduduk satu pun. Sang pembonceng begitu kagetnya, tak tahu apa yang sedang dialaminya. Mendadak saja boncengannya terkulai lemas. Hilang kesadaran. Dalam situasi sedemikian itu betapa panik dan terjepitnya ia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Motor dihentikan dan dengan segenap daya upaya, diusahakannya mengembalikan kesadaran pamannya. Cukup lama ia berjibaku mencari cara itu. Diguncang-guncangkannya tubuh sang paman, dipercikkannya air dimukanya, tetapi hingga berselang lama semua usaha itu sia-sia. Sang paman tak menunjukkan tanda-tanda apa pun akan siuman. Di puncak usahanya, dalam cengkeraman kepanikan yang makin kuat, diputuskannya untuk melanjutkan perjalanan bersama sang paman yang hilang kesadaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka diikatnya badan sang paman dengan ikat pinggangnya ke badannya sendiri untuk mempertahankan badan ringkih itu agar tetap di atas sadel motor selama perjalanan. Tangan sang paman diselempangkan ke bahu memeluknya dan sekali lagi dikencangkannya dengan ikat pinggang yang lain. Sembari melanjutkan perjalanan yang masih berkilo-kilo untuk mendapatkan sebuah kampung dimana rumah kerabat dapat disinggahi, ia masih tetap mencoba mengembalikan kesadarannya. Berkali-kali dihentak-hentaknya badan beliau dengan harapan segera sadar dari pingsannya. Namun masih sia-sia, sebab sedikitpun tidak ada respons. Tubuh sang paman tetap lunglai. Nafasnya telah tak terasa. Dengan air mata yang berderai-derai mengaburkan pandangannya, sang ponakan masih terus berusaha.  Tapi masih tetap nihil. Badan pamannya masih lunglai tanpa detak napas, terikat erat di badannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan semakin berliku, semakin sepi, gelap juga semakin pekat, sementara panik dan gundah terus mendera, namun perjalanan masih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung daerah Bulukumba, sebelum masuk Kabupaten Sinjai, di Tanete, sang ponakan berharap bantuan sekedar meringankan kepanikan dan kegundahannya. Di tempat itu, di rumah seorang kerabat, ia mampir. Bersusah payah, dengan sangat hati-hati melepaskan ikatan pamannya dari badannya dan mengangkatnya dari motor ke rumah kerabat. Keadaan sang paman sangat menggiriskan. Sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan siuman. Koma. Malam itu juga, dengan menggunakan mobil kerabat, diantarkannya ke Rumah Sakit Umum Sinjai. Sekitar 40 km dari tempat itu. Dan dokter di rumah sakit itu pun tak berdaya untuk dapat mengembalikan kesadarannya. Vonis stroke pun jatuh dan dia harus dirujuk ke RS di Makassar: RS. Labuang Baji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pertama kali aku melihat secara nyata bentuk penyakit stroke itu. Sebelumnya, aku hanya membacanya di koran-koran dan tak pernah menduga bahwa kasus itu akan menimpa Bapakku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu tahun 2005, saya masih tertatih-tatih meretas masa depanku. Masih kuliah sarjana. Dan berita tentang kondisi Bapakku yang koma, menusuk telingaku pukul 02.00 dinihari. Gelap pandanganku ketika itu. Aku bersama kakak yang sulung dan ibu yang kebetulan juga dari Bulukumba tapi pulangnya menuju Makassar, langsung bersiap untuk menuju Sinjai Utara, 180 km dari Makassar via Malino. Jarak mungkin boleh dibilang cukup dekat, tapi medan jalan, waktu dan kelelahan sangat menyiksa. Kakak dan Ibu baru sejam yang lalu tiba dari Bulukumba juga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah sakit Sinjai kulihat bapakku terbaring koma. Tak terlihat tanda-tanda akan siuman. Denyut nadi di lengannya terasa sangat lemah. Tak sanggup kutahankan air mata yang menggenangi mataku. Mengalir di kedua pipiku. Aku pasrah bahwa Bapakku tak lama lagi akan meninggalkan kami. Tinggal hitungan hari saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi Tuhan rupanya belum menghendakinya. Maka setelah beliau di bawa ke Rumah Sakit Labuang Baji Makassar, setelah tiga hari, Bapak mulai siuman. Namun sesuatu telah hilang darinya. Bagian kiri tubuhnya tak dapat lagi berfungsi normal. Bahkan di awal siumannya, dia harus berjuang keras untuk mengembalikan ingatannya. Termasuk, tak seorang pun di antara kami yang dikenalnya. Dia seperti orang asing. Padanya, kami harus mengenalkan kembali diri kami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kurang lebih tiga minggu di rumah sakit, kami merasa itulah kemajuan terbaik kesehatan bapak: telah sadar dari koma dan sedikit telah kembali ingatannya. Maka memasuki minggu keempat, kami membawanya kembali ke rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itulah meskipun kesehatan dan daya ingat bapak semakin membaik, tetapi bapak telah merasa orang yang sangat kesepian. Kehilangan fungsi tubunya sebelah kiri telah membuatnya tak dapat melakukan apa-apa lagi. Tak dapat kemana-mana, selain sebatas di dalam rumah. Bapak tak sanggup lagi merayakan saat wisudaku setahun kemudian. Mendampingiku mengenakan toga, seperti yang telah dilakukannya kepada kedua kakakku yang lainnya. Tapi kami bersyukur bahwa setelah sekian lama, bapak tak lagi perlu dibantu bangun dari tempat tidurnya, atau disuapkan nasi ke dalam mulutnya, atau memapahnya ke kamar kecil dan bapak memaksakan berbelok ke arah yang tidak ada pintu sama sekali! Setelah sekian lama, beliau mampu melakukannya sendiri lagi walau hanya dengan mengandalkan bagian tubuhnya sebelah kanan saja.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saban kali jika kulihat bapak duduk di teras rumah memandangi halaman, aku dapat membayangkan rasa perihnya. Kadang-kadang harus kutahankan air mata ku untuk tidak mengalir. Aku tahu bapak sangat rindu menyabit rumput-rumput yang tumbuh liar, atau menyapu daun-daun cengkeh kering yang jatuh dari pohonnya, atau memangkas dahan-dahan mangga yang mengganggu kawat listrik, seperti yang dulu sering dilakukannya setiap pagi dan sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun halnya saat hari lebaran, bapak hanya bisa duduk mandangi orang-orang yang berduyun-duyun menuju tanah lapang di dekat rumahnya untuk menunaikan shalat Ied. Pada tatapan matanya yang hampa, terlihat dia menanggungkan rasa rindu untuk melakukan aktivitas yang dulu-dulu sering dilakukannya. Sebelum penyakit stroke itu merenggut sebagian fungsi tubuhnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerinduan-kerinduan itulah yang sesungguhnya menjadi cobaan maha dahsyat yang harus ditanggungkannya selama bertahun-tahun. Dalam kehampaan dan kerinduan itu, bapak hanya dapat melipurnya dengan membaca buku-buku agama dan Qur’an.  Hingga akhirnya semua cobaan yang telah ditanggungnya dalam kepasrahan itu, dianggap paripurna juga oleh Allah SWT di bulan Februari tahun 2010 ini.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-4584239022040967253?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/4584239022040967253/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=4584239022040967253&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/4584239022040967253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/4584239022040967253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2010/04/terakhir-kali-dia-dapat-menikmati.html' title='Cobaan Itu Bernama Stroke'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-6395592642368976437</id><published>2009-10-18T22:41:00.005+08:00</published><updated>2009-11-20T18:18:08.447+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diari'/><title type='text'>Penggal Kisah 1</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/Stss6a5mJKI/AAAAAAAAANQ/uW5JMH2zMEQ/s1600-h/capture+her2.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 162px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/Stss6a5mJKI/AAAAAAAAANQ/uW5JMH2zMEQ/s200/capture+her2.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5393954360871232674" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;(Buat : A)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telusuri jalan itu&lt;br /&gt;di suatu malam yang lelah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku telah menunggu lama sejak kukejutkan kau dengan kedatanganku yang tak kau sangka-sangka.&lt;br /&gt;Dalam gugupmu, kutahu itu, seperti halnya kegugupanku, kau menundanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berilah aku waktu untuk berpikir”, demikian pintamu.&lt;br /&gt;Lewat pesan elektronik setelah waktu yang kaku kita lewatkan&lt;br /&gt;Ada harapan sekaligus keragu-raguan dalam sejarah waktu sekian menit lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telusuri jalan itu&lt;br /&gt;Di suatu malam yang lelah&lt;br /&gt;Dari ujung ke ujung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari manakah energi sebesar itu?&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Oh, begitulah adanya... Bunga itulah sumbernya seperti halnya Nektar bunga-bunga adalah sumber energiku.”, timpal seekor lebah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia memang begitu indah saat itu&lt;br /&gt;Segalanya berubah menjadi bunga-bunga yang menebarkan aroma-aroma semerbak&lt;br /&gt;Kupu-kupu dan lebah-lebah bernyanyi-nyanyi riang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di ujung jalan itu, kita berhenti.&lt;br /&gt;Kau masih memainkan waktu. Begitu tak adil.&lt;br /&gt;Hingga akhirnya seekor lebah tiba-tiba menjelma bidadari mahacantik&lt;br /&gt;Membawaku terbang di hamparan permadani bertabur bunga&lt;br /&gt;Semerbak seluruh ruang-ruang&lt;br /&gt;Warna-warni berkilau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“I hope you won’t disappoint me...”, katamu dalam pesan elektronik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba aku ingin waktu berhenti untuk selamanya di titik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-6395592642368976437?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/6395592642368976437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=6395592642368976437&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/6395592642368976437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/6395592642368976437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2009/10/penggal-kisah-1.html' title='Penggal Kisah 1'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/Stss6a5mJKI/AAAAAAAAANQ/uW5JMH2zMEQ/s72-c/capture+her2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-2925180553452750313</id><published>2009-03-27T13:20:00.003+08:00</published><updated>2009-11-20T18:25:59.651+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diari'/><title type='text'>Kontemplasi: Ruang Pameran</title><content type='html'>Sebuah ruang pameran. Sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung sesekali datang. Masuk di dalamnya, melihat-lihat, menjelajah sudut-sudut ruang maya. Kedatangan mereka kadang hanya digiring oleh kesesatan, namun beberapa memang sengaja bertandang. Sekedar menjenguk. Di antara mereka mungkin banyak yang kecewa lantaran tak menemu sesuatu yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu melulu.&lt;br /&gt;Berhari-hari, berminggu-minggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi sang empunya stan entah berada dimana. Pertanyaan yang mengganjal di hati, menggantung menimbulkan rasa penasaran. Sekedar untuk menyapa pun, mau menyapa kepada siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika yang datang adalah mereka yang tersesat, tak jadi soal. Sebab semudah itu mereka segera bisa berlalu. Tetapi, bagaimana dengan mereka yang memang dari awal berniat mencari sesuatu yang fresh di tempat ini? Di sini rasa kecewa siap menjemput. Lantaran tak ada hal-hal yang baru dipajang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ruang pameran yang tak menawarkan apa-apa&lt;br /&gt;Selain sebagai tempat melepas penat dari rutinitas yang menghimpit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimanakah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-2925180553452750313?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/2925180553452750313/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=2925180553452750313&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2925180553452750313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2925180553452750313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2009/03/kontemplasi-ruang-pameran.html' title='Kontemplasi: Ruang Pameran'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-7856206100149900310</id><published>2009-01-01T20:47:00.006+08:00</published><updated>2009-11-20T18:28:45.721+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Tahun Baru: Kontemplasi</title><content type='html'>Suasana sedikit berubah. Tempat-tempat yang jadi sasaran berlibur tiba-tiba padat. Jalan-jalan menuju ke tempat itu macet. Wisma-wisma, penginapan-penginapan, mendadak telah habis dipesan orang beberapa hari sebelumnya. Penjualan petasan atau mercon serta merta meningkat. Penjual terompet di pinggir-pinggir jalan seperti cendawan di akhir musim hujan. Tiba-tiba bermunculan satu demi satu. Semakin larut aktivitas transaksi mereka semakin meningkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah situasi yang lazim menjelang pergantian tahun. Terompet dan petasan, adalah propertinya yang paling khas, sementara kemacetan dan kepadatan pengunjung di tempat-tempat wisata adalah lumrah karena libur yang didedikasikan untuk momen pergantian tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali dua kali pesan singkat masuk di handphone bututku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimana merayakan tahun baru ini Kawan?”&lt;br /&gt;&lt;div class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus dirayakan pada malam pergantian tahun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hemat saya, tak ada kejadian fenomenal apa pun di waktu itu. Selain bahwa bumi kita ini untuk yang kesekian kalinya dengan begitu patuhnya kembali menggenapkan fitrahnya berevolusi mengitari matahari satu putaran penuh. Selebihnya tak ada apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya, sesungguhnya tahun baru, bulan baru, hari baru itu adalah sama. Semuanya hanyalah satuan sekuens-sekuens waktu, yang satu berdurasi lebih panjang dari yang lain, yang dibuat manusia yang diasosiasikan dengan pergerakan sistem matahari, bumi, dan bulan.&lt;br /&gt;Tahun baru berarti genap sudah satu kali putaran bumi mengedari matahari yang dijadikan pusat. Bulan baru pun berarti genap sudah bulan mengitari bumi satu kali putaran lengkap. Hari baru juga berarti genap sudah bumi terpusing di porosnya satu kitaran lengkap. Itu yang terjadi berulang-ulang. Lalu mengapa harus ada perayaan untuk tahun baru sementara bulan baru dan hari baru tidak? Terlalu sering jika semua harus diperingati? Terlalu banyak biaya? Energi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi hampir semua orang, pertanyaan di atas mungkin adalah pertanyaan yang hanya akan diajukan oleh mereka yang kolot. Maka termasuklah saya ke dalam golongan yang kolot itu. Tidak mengapa. Entah ada berapa orang lagi yang masuk kategori kolot itu selain saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pun demikian, tahun baru sebagai sebuah sekuens waktu yang setara dengan waktu yang dibutuhkan oleh bumi mengitari matahari tentu tetap memiliki arti penting. Dapat dibayangkan betapa anehnya hidup ini jika kita tidak menetapkan sebuah penanda skala waktu. Kita akan hidup seolah-olah berada dalam keabadian. Hari ini melulu hari ini. Hari dimana kita lihat pergantian siang-malam terjadi berkali-kali. Tetapi kita tidak menandai itu sebagai pergantian hari. Dan mendadak kita akan terkejut saat maut telah menjemput seseorang di antara kita. Dia telah tiada. Sangat paradoksal: abadi tetapi mendadak tiada. Dan nyatanya, memang tidak ada sesuatu pun yang akan abadi. Semua hanya tampak abadi karena kita tidak memenggal kejadian-kejadian itu dalam sekuens-sekuens waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi tetaplah momen tahun baru itu memiliki makna yang penting. Namun tak perlu dirayakan begitu rupa sebab dia tak lebih dari pergantian hari, seperti halnya hari-hari kemarin yang senantiasa berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya sendiri, momen tahun baru ini hanyalah berati bahwa impian-impian saya yang telah saya tasbihkah di waktu lalu kini semakin dekat jaraknya untuk saya capai. Tak ada kemenangan apa-apa yang mesti kurayakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru ini juga saya maknai bahwa kesempatan saya untuk menggapai segala cita-cita dan impian saya yang belum tercapai semakin sempit. Sebab saya menyadari sepenuhnya bahwa saya hanya memiliki penggalan jatah waktu tertentu, yang disebut umur, untuk melewati sekuens-sekuens waktu itu sendiri yang telah lama berjalan.&lt;br /&gt;Maka dari itulah, di malam tahun baru ini ketimbang ikut dengan hingar bingar mereka yang modern (tidak kolot), aku lebih memilih untuk berdiam diri di rumah. Menghitung impian demi impian yang ingin kucapai, menetapkan skala prioritas bagi impian-impian itu demi efektivitas waktu yang tersisa. Juga aku hendak mengevaluasi hari-hari yang telah kulalui. Tentang seberapa bermakna dan seberapa efektifkah aku telah melaluinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di momen tahun baru ini, aku ingin menginventarisir semuanya: niat, sikap, perbuatan, cita-cita, perencanaan, kemudian bertekad membenahi kekurangan-kekurangannya untuk efektivitas waktu yang tersisa. Sekaligus juga aku akan mengevaluasi tentang kesiapan diri saya untuk menghadapi masa yang akan bermula tepat pada saat jatah waktuku telah habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, maka di tengah hingar-bingar hampir seluruh penduduk dunia merayakan momentum tiap 365 hari ini, aku ingin tetap di rumah. Seperti hari-hari sebelumnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontemplasi! Itulah yang akan kulakukan di malam pergantian tahun baru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak akan kemana-mana. Hanya di rumah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian akhirnya kubalas pesan singkat dari sejumlah kawanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-7856206100149900310?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/7856206100149900310/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=7856206100149900310&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/7856206100149900310'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/7856206100149900310'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2009/01/tahun-baru-kontemplasi.html' title='Tahun Baru: Kontemplasi'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-2928526416706590493</id><published>2008-12-12T09:37:00.009+08:00</published><updated>2008-12-13T20:44:03.950+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Blog dan Tanggung Jawab Moral</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SUHLBnqet3I/AAAAAAAAALE/ADvE-GP01eM/s1600-h/snapthanks.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 172px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SUHLBnqet3I/AAAAAAAAALE/ADvE-GP01eM/s200/snapthanks.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5278723466942396274" /&gt;&lt;/a&gt;“Kawan, blogmu sudah sangat bagus. Kini saatnya saya mencabut status saya sebagai admin blogmu”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian Kawan saya menuliskan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;comment&lt;/span&gt;-nya di &lt;span style="font-style: italic;"&gt;shoutbox&lt;/span&gt; saya tempo hari. Tiba-tiba aku terenyuh membacanya. Entah kenapa, dan lahirlah tulisan ini yang baru kini dapat kuposting. Tulisan tentang awal mulanya aku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;ngeblog&lt;/span&gt; dan siapa yang mengajariku hingga akhirnya blog saya seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengenal blog pertama kali darinya, dari kawan saya itu, &lt;a href="http://tokonjo.co.cc" target='_blank'&gt;Syarif&lt;/a&gt;, hampir setahun yang lalu. Dia menunjukkan kepada saya alamat blognya yang dapat dikunjungi di &lt;a href="http://tokonjo.co.cc" target='_blank'&gt;alamat ini&lt;/a&gt;. Pertama kali membaca blognya dan membaca tulisan-tulisan pengalaman sehari-harinya yang tersaji dengan bahasa yang lugas saya langsung tergugah ingin memiliki blog. Tetapi perasaan tergugah saja tidak cukup bagiku untuk bisa memiliki blog, sebab keinginan itu kemudian timbul tenggelam. Kata teman-teman saya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;panas-panas tahi ayam&lt;/span&gt;. Bukan apa-apa, mendengar kata tentang edit mengedit bahasa html, saya jadi membayangkan sesuatu yang rumit. Yang namanya bahasa komputer pasti ada kesulitan tertentu mempelajarinya. Namun &lt;a href="http://tokonjo.co.cc" target='_blank'&gt;Syarif&lt;/a&gt; tak sekedar menggugah keinginan saya belaka. Dia juga menyuntikkan semangat dengan dosis tertentu kepada saya untuk segera membangun blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingat waktu itu, larut malam tiba di Makassar berdua dari Bulukumba, kampung halamannya. &lt;a href="http://tokonjo.co.cc" target='_blank'&gt;Syarif&lt;/a&gt; masih semangat mencari warnet yang buka untuk segera menunjukkan kepada saya bagaimana membuat blog. Sayang, di pukul 01.00 dini hari itu sudah sulit menemukan warnet yang masih buka. Barangkali masih ada, namun kelelahan telah menyergap kami sebelum akhirnya menemukannya. Maka tertundalah proyek membuat blog. Aku lantas melupakan keinginanku yang hangat-hangat tahi ayam itu. Tapi &lt;a href="http://tokonjo.co.cc" target='_blank'&gt;Syarif&lt;/a&gt; tidak!&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Awal tahun 2008, sekonyong-konyong &lt;a href="http://tokonjo.co.cc" target='_blank'&gt;Syarif&lt;/a&gt; mengirimiku pesan singkat berupa undangan untuk berjalan-jalan ke tempatnya bekerja di Pare-pare. Waktu itu &lt;a href="http://tokonjo.co.cc" target='_blank'&gt;Syarif&lt;/a&gt; masih bekerja sebagai staf di Sistem Sekolah Cerdas Indonesia di samping sebagai seorang PNS di lingkungan Departemen Pendidikan Pare-pare. Tempat kerja &lt;a href="http://tokonjo.co.cc" target='_blank'&gt;Syarif&lt;/a&gt; di SSCI adalah tempat yang pas untuk belajar bikin blog sebab di tempat itu akses internet cukup cepat. Apalagi setelah lepas waktu kerja. Kusambut baik undangan itu, sekaligus bersilaturrahim dengannya. Maka bersama Ikhsan, seorang teman karib lainnya, saya berkunjung ke tempat &lt;a href="http://tokonjo.co.cc" target='_blank'&gt;Syarif&lt;/a&gt; di SSCI Pare-pare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari satu malam di Pare-pare, di bawah bimbingan kawan &lt;a href="http://tokonjo.co.cc" target='_blank'&gt;Syarif&lt;/a&gt;, lahirlah blog ini. Awalnya bernama Catatan Keresahan. Tampilannya mirip dengan milik &lt;a href="http://tokonjo.co.cc" target='_blank'&gt;Syarif&lt;/a&gt;. Kemiripan ini setidaknya adalah pembenaran atas teori pencitraan yang dikenal dalam psikologi belajar. Seorang murid awalnya akan mencitra dirinya sesuai dengan gurunya. Maka template blog Guru saya &lt;a href="http://tokonjo.co.cc" target='_blank'&gt;Syarif&lt;/a&gt;, saya adopsi di blog saya Catatan Keresahan dengan penyesuaian-penyesuaian sekadarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kita tidak becus membalas jasa guru jika selamanya kita menjadi murid”, Kata Nietzche.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar bulan September kemarin, saya mengubah template blog ini. Mengadopsi template dari &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://www.aborregate.com" target='_blank'&gt;Plantillas blogger Aborregate&lt;/a&gt;&lt;/span&gt; dan lepas dari templat guru saya. Meskipun saya tidak pernah dapat mengajari Guru Blog saya dalam hal blogging, saya berharap metamorfosa ini merupakan salah satu jalan balas jasa saya kepada guru saya secara lebih becus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama Catatan Keresahan karena mengandung konotasi negatif menurut saya, keadaan yang senantiasa resah, juga saya ubah menjadi Catatan Kontemplasi. Esensinya tetap sama, tetapi dengan nama ini saya berhasrat dapat mengisi blog saya dengan konten-konten hasil permenungan yang memiliki semangat positif. Perubahan ini tidak lepas dari masukan &lt;a href="http://bugishq.blogspot.com" target='_blank'&gt;Bang Ishaq&lt;/a&gt;, seorang senior saya, sahabat, kakak, guru, sekaligus partner, yang saya tulari virus blogging. Meskipun belakangan membangun blog dari saya, tapi kemajuan blognya jauh melebihi saya. Nampaknya dia lebih menjiwai ungkapan Nietzche di atas. Anda dapat mengunjungi blognya &lt;a href="http://bugishq.blogspot.com" target='_blank'&gt;di sini&lt;/a&gt; sekaligus menyerap ilmu yang tersaji dalam konten blognya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, blog ini juga tidak lepas dari seorang guru lain, &lt;a href="http://kolom-tutorial.blogspot.com" target='_blank'&gt;Kang Rohman&lt;/a&gt;. Kawan pembaca mungkin tidak asing lagi dengan nama pengelola blog yang alamat blognya dapat dikunjungi &lt;a href="http://kolom-tutorial.blogspot.com" target='_blank'&gt;di sini&lt;/a&gt;. Saya adalah murid tidak resminya karena &lt;a href="http://kolom-tutorial.blogspot.com" target='_blank'&gt;Kang Rohman&lt;/a&gt; tidak pernah tahu bahwa saya banyak menyerap ilmu dari situsnya.  Kadang kala saya masuk ke situsnya dan mengajukan pertanyaan di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shoutbox&lt;/span&gt;-nya sekaligus menyatakan diri sebagai muridnya, namun pertanyaan itu hanya menggema di ruang &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shoutbox&lt;/span&gt; itu lalu hilang ditelan puluhan pertanyaan lain dari murid-murid resminya. Kubayangkan diriku sebagai seorang anak kecil yang melongok-longok dari balik jendela ruang kelasnya. Mencuri dengar pelajaran yang disampaikan Sang Guru di tengah murid-muridnya di ruang kelas. Pertanyaan yang ingin kusampaikan hanya menggema dalam hati saja, sebab saya adalah murid tak resmi yang hanya mendengar dari balik jendela kelas. Tetapi tetap saja dia adalah guru bagi saya, dan template yang dibuatnya, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;magazine template&lt;/span&gt;, saya adopsi di blog saya yang lain yang sedang saya kelola, &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;a href="http://amateur-physics.blogspot.com" target='_blank'&gt;Amateur-Phyisics&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, Kawan… membaca tulisan ini sampai di sini, Anda mungkin akan bertanya dimanakah hubungan antara judul tulisan ini dengan isi tulisannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maafkan Kawan sebab tulisan ini sebenarnya masih panjang. Kelak saya akan menyambungnya. Untuk sementara tulisan ini sebenarnya adalah balasan komentar buat kawan saya &lt;a href="http://tokonjo.co.cc" target='_blank'&gt;Syarif&lt;/a&gt; nun di Pare-pare sana serta dedikasi buat para konstributor lain blog ini baik secara langsung maupun tak langsung.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-2928526416706590493?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/2928526416706590493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=2928526416706590493&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2928526416706590493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2928526416706590493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/12/blog-dan-tanggung-jawab-moral.html' title='Blog dan Tanggung Jawab Moral'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SUHLBnqet3I/AAAAAAAAALE/ADvE-GP01eM/s72-c/snapthanks.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-2321940452020224439</id><published>2008-10-16T14:13:00.002+08:00</published><updated>2008-10-16T14:40:15.800+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>ANDREA HIRATA DAN NOVEL LASKAR PELANGI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SPbfRrL-hsI/AAAAAAAAAGg/lWDSwI1Zm-w/s1600-h/mhokart_cartoon.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SPbfRrL-hsI/AAAAAAAAAGg/lWDSwI1Zm-w/s400/mhokart_cartoon.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5257635109745362626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejak terbit pertama kali pada bulan September 2005 silam, Novel Laskar Pelangi (Tetralogi) yang ditulis oleh Andrea Hirata telah terjual lebih dari ratusan ribu eksemplar. Jika ditaksir-taksir secara kasar dengan asumsi bahwa tiap kali cetak sebanyak 10.000 eksemplar, maka hingga pada bulan Mei 2008 pada cetakan ke-22-nya setidaknya telah terjual kurang lebih 220.000 eksemplar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rata-rata harga jual novel ini adalah Rp. 60.000,-. Jadi nominal uang hasil penjualannya adalah sebesar Rp. 13.200.000.000,-. Sangat fantastis! Sebagaimana lazimnya 10% dari nominal ini adalah hak sang penulis, yang jika dirupiahkan akan sebesar Rp. 1.320.000.000,-. Ini baru satu buku, padahal akan ada empat buku dengan tingkat kelarisan yang bisa dipastikan akan setara. Maka akan mengalir uang kurang lebih Rp. 5.000.000.000,-, ke kantong Andrea Hirata. &lt;br /&gt;Dengan jumlah kekayaan sebanyak itu, Ikal tidak sekedar meloncati nasibnya yang melarat tetapi meloncat dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Maka kini Ikal adalah seorang Milyarder. Subhanallah!....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun,&lt;span id="fullpost"&gt;Andrea Hirata tetaplah Ikal yang dulu. Ikal yang telah menyatu dengan pahit getir kehidupan, Ikal yang pekerja keras, yang bersubuh-subuh hari telah sempoyongan memikul ikan besar dari pantai ke los pasar ikan demi biaya pendidikan, Ikal yang rela memecahkan tabungan ayam jagonya demi sebuah radio transistor kecil buat Weh yang hidup terasing. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun rasanya semua orang sepakat untuk menahbiskan Andrea Hirata sebagai seorang Milyarder baru, sedikit pun Andrea Hirata tidaklah nampak seperti itu. Andrea tetaplah dengan kesederhanaannya. Sebagai orang yang akrab dengan kemiskinan bahkan boleh dibilang kemiskinan telah imanen dengan dirinya, empatinya terhadap orang-orang miskin begitu dalam. Andrea dengan solidaritas Laskar Pelangi justru menggunakan semua keuntungan materialnya itu demi kepentingan orang-orang miskin di Belitong. Royaltinya dengan orde magnitudo milyaran rupiah dimanfaatkan untuk membangun sekolah gratis mulai dari tingkat TK sampai SMA di Belitong. Betapa luhur jiwanya, padahal nominal uang sebesar itu dapat saja menyebabkan orang-orang tertentu mabuk kepayang seperti seekor ayam jago menelan pil Bodrex. Tak usah dibilang uang itu memang jatahnya, jatah orang lain saja akan dirampasnya, digasak tanpa rasa berdosa sedikit pun. Anda pasti tahu dan tidak kesulitan menemukan contoh orang-orang yang demikian ini yang memang bertebaran di Republik kita ini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala kita bandingkan dengan sejumlah kasus-kasus korupsi yang jadi andalan negeri ini, maka Andrea Hirata lewat Novelnya Laskar Pelangi adalah “antitesis” dari semua kasus-kasus tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini kita semua sama tahu begitu banyak kasus korupsi, sogok-menyogok dengan nilai milyaran rupiah yang dilakukan oleh orang-orang elit yang dekat dengan pusat kekuasaan. Hanya demi kepentingan kemewahan sendiri. Bumi kita dengan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dieksploitasi habis-habisan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara yang semampu-mampunya demi kepentingan orang-orangnya yang sesedikit-sedikitnya. Untuk sanak famili dan dirinya saja. Kalau mereka tidak mampu mengeksploitasi sendiri, maka mereka akan menyerahkannya kepada orang asing dengan membagi hasilnya untuk mereka berdua saja. Padahal di sekeliling mereka bertebaran anak-anak bangsa yang juga memiliki hak terhadap kekayaan bumi ini, yang sangat kesulitan hidupnya. Mereka butuh sekadarnya untuk memenuhi kesejahteraannya  yang dirampok secara elegan dan sombong. Mereka butuh untuk membiayai pendidikan mereka yang kian mahal.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Sudah beberapa kejadian media massa memberitakan seorang anak sekolah yang bunuh diri lantaran tidak mampu membayar ongkos sekolah. Atau pun seorang Bapak atau Ibu bunuh diri karena tidak sanggup membiayai sekolah anak-anaknya yang begitu bersemangat untuk meraih pendidikan. Begitu sulitnya akses pendidikan di tanah air ini sehingga bagi rakyat kecil seakan mustahil untuk dijangkau. Terjerembablah mereka ke dalam rasa keputusasaan yang diselesaikan dengan kematian. Sungguh tragis!  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kehadiran Andrea Hirata dengan novel tetralogi Laskar Pelanginya adalah ibarat oase di tengah padang pasir. Menawarkan sebuah kesejukan, spirit dan optimisme lewat jalinan kata-kata dan kalimat yang dirangkai secara piawai oleh Andrea. “Andrea adalah seniman kata-kata”, kata Nicola Horner, seorang jurnalis di London.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel Laskar Pelanginya memang sungguh luar biasa. Membaca novel ini akan terasa memiliki daya spiritualitas yang kuat. Novel ini seperti memiliki sebuah roh yang dapat menggerakkan pembacanya (semua karya sastra berkualitas memang memiliki potensi ini. Hanya tingkat daya geraknya yang barangkali bervariasi). Betapa tidak, setelah membaca novel ini, seorang remaja, Nico, tiba-tiba memiliki semangat dan tekad yang kuat untuk dapat terlepas dari ketergantungan narkoba. Padahal remaja ini telah dua kali menjalani rehabilitasi dan tidak pernah mampu menyelesaikan program rehabilitasinya. Alhasil, setelah membaca novel Laskar Pelangi, dia mampu menjalaninya dan terbebas dari ketergantungan narkoba. &lt;br /&gt;Setelah membaca novel ini, sejumlah pengusaha keturunan Tionghoa yang sukses di Jakarta dan punya pertalian darah dengan komunitas Tionghoa Belitong --kampung asal Ikal beserta 9 orang sahabat kecilnya— terpanggil dan berbondong-bondong untuk kembali menengok kampung halaman leluhur sembari membawa bingkisan Rp 20 juta untuk Lintang. &lt;br /&gt;Sejumlah guru-guru di daerah-daerah terpencil setelah membaca novel ini tiba-tiba memiliki semangat dan bertekad untuk mengabdi sepenuh hati di daerah medan pengabdian mereka. Mengikuti contoh yang telah ditunjukkan oleh Ibu Muslimah. Kita merasa seolah berada di tengah-tengah anggota Laskar Pelangi saat menerima nasihat Pak Harfan bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima apalagi mengambil atau merampok sebanyak-banyaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sejumlah fakta-fakta yang menunjukkan betapa novel Laskar Pelangi memang memiliki daya gugah yang sangat kuat. Daya gugah nilai pengabdian tanpa pamrih. Sebuah nilai yang sepertinya telah sangat menipis di negeri ini. Maka novel Laskar Pelangi dapatlah menjadi sebuah alat terapi moral tersendiri terhadap sejumlah penyakit-penyakit kejiwaan akut negeri ini yang ditimbulkan oleh mentalitas yang serakah, egois, dan pesimistis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman, jika sedemikian hebatnya pengaruh novel ini terhadap mereka yang telah membacanya, kira-kira mampukah juga untuk mengubah mentalitas para koruptor jika mereka diminta membaca dan meresapi baik-baik novel Laskar Pelangi ini? &lt;br /&gt;Barangkali ini adalah sebuah kajian penelitian sosial yang cukup menarik. Sampel untuk penelitian ini pun tersedia banyak, sebab bukankah koruptor di negeri kita ini adalah makhluk yang banyak bergentayangan dimana-mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tertarik menelitinya? Saya tunggu hasilnya! &lt;br /&gt;Bravo Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya....&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-2321940452020224439?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/2321940452020224439/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=2321940452020224439&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2321940452020224439'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2321940452020224439'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/10/andrea-hirata-dan-novel-laskar-pelangi.html' title='ANDREA HIRATA DAN NOVEL LASKAR PELANGI'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SPbfRrL-hsI/AAAAAAAAAGg/lWDSwI1Zm-w/s72-c/mhokart_cartoon.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-4289794729703598333</id><published>2008-09-12T21:39:00.000+08:00</published><updated>2008-09-12T21:40:36.084+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>SELAMAT DATANG</title><content type='html'>Selamat datang akhirnya&lt;br /&gt;Kau kini tiba di hadapanku&lt;br /&gt;Mendekati aku sekian lama&lt;br /&gt;Dekaplah aku kini&lt;br /&gt;Erat&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ku tahu telah lama kaurindukan aku&lt;br /&gt;Kau lihatlah sekujur hatiku berdarah&lt;br /&gt;Bawalah aku dalam keheningan&lt;br /&gt;yang mendalam&lt;br /&gt;Pada rumahmu&lt;br /&gt;yang sering kusinggahi&lt;br /&gt;Membalut luka-luka&lt;br /&gt;Lalu pergi tanpa pamit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada akhirnya kau temukan aku&lt;br /&gt;Tatkala kau lihat cercah-cercah darah&lt;br /&gt;Di tapak-tapak jalanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pasrah dalam dekapmu kini&lt;br /&gt;Selamat Datang, Sayang!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-4289794729703598333?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/4289794729703598333/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=4289794729703598333&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/4289794729703598333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/4289794729703598333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/09/selamat-datang.html' title='SELAMAT DATANG'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-241630427365977982</id><published>2008-09-12T21:37:00.001+08:00</published><updated>2008-09-12T21:38:53.825+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Tentang Bunga Mawar</title><content type='html'>Lepas wangi bunga mawarku&lt;br /&gt;Semerbak dibawa angin kemana-mana&lt;br /&gt;Menggoda kumbang mendekati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu adalah Sang Penguji&lt;br /&gt;Dalam musim rindu&lt;br /&gt;Dimana daun-daun berguguran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah bunga mawar&lt;br /&gt;Masih suci untukku?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-241630427365977982?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/241630427365977982/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=241630427365977982&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/241630427365977982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/241630427365977982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/09/tentang-bunga-mawar.html' title='Tentang Bunga Mawar'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-257352180980850675</id><published>2008-09-10T22:31:00.005+08:00</published><updated>2008-09-16T16:34:55.199+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Tak Putus Dirundung Malang</title><content type='html'>Tak putus dirundung malang!!!... Itulah frase yang tepat buat kita, sang rakyat jelata nan malang. Hidup terlunta-lunta di negeri sendiri yang kaya-raya. Baru-baru ini Pertamina menaikkan harga elpiji setelah sebelumnya pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak. Tak terperi kesulitan yang kita rasakan. Segala-galanya bagaikan mimpi buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada siapa kita akan mengadukan tentang derita ini? Kepada pemerintah kita? Yang kutahu pemerintah kita hanya bisa memerintah kita untuk beralih dari memakai minyak tanah ke pemakaian elpiji. Lalu mengapa setelah setengah terpaksa kita beralih memakai elpiji, tiba-tiba pertamina menaikkan harga elpiji? Apakah ini tidak berarti jebakan? Atau barangkali Pertamina berpikir: Urusan rakyat adalah urusan pemerintah, Pertamina tidak mengurusi itu. Kami di Pertamina hanya berpikir dengan logika perusahaan. Harga elpiji harus dinaikkan karena perusahaan terus merugi dengan harga elpiji sekarang.  Lantas dengan takzimnya pemerintah mengangguk setuju dan tak bisa melakukan apa-apa atas kenaikan harga itu sebab kenaikan harga elpiji ditentukan oleh mekanisme pasar. Lagi-lagi pemerintah kita memihak pada para kapitalis. Bukan suatu hal yang baru. Dan kita rakyat kecil yang sama sekali tidak paham tentang kapitalisme-kapitalismean semakin terseok-seok. Frustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan nyatalah pemerintah memang tidak berniat menyubsidi elpiji. &lt;span id="fullpost"&gt;Pemimpin kita yang teratas di struktur organisasi kenegaraan kita telah menyatakan itu. Maka jadilah kita hanya bisa mengurut dada melihat pengingkaran senyata-nyatanya janji pemerintah untuk menyejahterakan masyarakatnya. Amanah undang-undang agar negara memenuhi hajat hidup masyarakat tidak berarti sama sekali. Bisa apa undang-undang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alternatif lain pengaduan: bagaimana jika kita sampaikan kepada anggota dewan kita yang terhormat itu? Bukankah mereka adalah wakil kita? Jawabannya: Jangan makan hati! Ruang dewan sangat kedap suara-suara dari luar. Pagar kantor mereka tertutup rapat bagi masyarakat kecil seperti kita. Lagi pula setahu saya para anggota dewan itu salah paham atas pemaknaan mereka atas status sebagai representasi rakyat. Anggota dewan hanya sukses merepresentasi kita dalam hal menikmati kekayaan negara. Itu saja! Mereka tidak mewakili kita atas hal kemiskinan dan kemelaratan kita. Maka jangan harap mereka akan berpikir bagaimana kesulitan kita. Kita mengelus dada, mengencangkan ikat pinggang di sini, mereka di dalam ruang kantornya yang berlebihan fasilitas bertepuk dada merasa paling mewakili rakyat, melonggarkan ikat pinggang sembari tidur-tidur ayam kekenyangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita tidak akan terseok-seok? Luluh lantak? Hampir segala kebutuhan kita yang prinsipil semakin tidak terjangkau. Urusan dapur kita yang banyak bergantung kepada elpiji semakin sulit dipenuhi. Jangan usulkan memakai minyak tanah sebab Pertamina tidak pernah becus menanggulangi kelangkaan minyak tanah di berbagai tempat. Lagi pula sudah kusebutkan bahwa tokh pemerintah sendiri yang telah bersusah payah meminta kita untuk beralih ke gas elpiji yang konon lebih murah. Kenyataannya apa? Saat kita mulai mengikuti program pemakaian elpiji itu Pertamina hanya dengan mantra-mantra sulap: simsalabim tiba-tiba menaikkan harga elpiji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak habis pikir saya. Benar-benar tak habis pikir. Rasa-rasanya bisa gila akal ini mencari tahu kemana harus mengadu atas kesulitan-kesulitan ini. Pemerintah cuek, wakil rakyat asyik masyuk saling atur saling bagi jatah, lalu siapa lagi? Mungkin karena kegilaan yang sudah mulai merasuk akhirnya saya simpulkan bahwa penguasa negeri kami memang ingin menindas rakyatnya. Menindas sehebat-hebatnya biar mereka mampus. Bukankah semakin sedikit rakyat semakin banyak yang bisa dinikmati? Akh,... jika memang simpulan gila ini benar, saya yakin mereka akan kecele. Sebab penindasan seperti itu tidak akan mampu membunuh kami. Terseok-seok iya, tapi mampus jauh. Sejarah kita adalah sejarah yang penuh dengan penindasan. Ratusan tahun dijajah penjajah, puluhan tahun ditindas penguasa otoriter, sekarang sedang berada di bawah alienasi oleh pemerintah sendiri yang katanya demokrat. Namun hingga sekarang kita masih bisa hidup, survive sambil merangkai sejarah penindasan demi penindasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja! Kita rakyat kecil selalu dapat cara agar bisa bertahan hidup. Meskipun elpiji, sembilan bahan pokok, pendidikan, listrik dan segala-galanya dijauhkan dari daya jangkau kita. Untunglah Ramadhan kini telah tiba. Ramadhan bagi kami secara ekonomis adalah penghematan. Dan coba dengarkan pula kata orang-orang di Pertamina: Selama Ramadhan ini, elpiji tidak akan naik. Boleh kutambahkan sedikit sinistis: Tapi tunggulah setelah Ramadhan saat kalian merasa tidak berhemat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berhemat lagi? Sejujurnya kata “hemat” sudah tidak relevan lagi bagi kami, sebab apa lagi yang bisa dihemat selain sisa-sisa kesabaran? Tapi jangan salah, kesabaran juga ada batasnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-257352180980850675?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/257352180980850675/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=257352180980850675&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/257352180980850675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/257352180980850675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/09/tak-putus-dirundung-malang.html' title='Tak Putus Dirundung Malang'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-2657516920752190508</id><published>2008-08-07T17:48:00.007+08:00</published><updated>2008-08-07T18:23:10.778+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Membuat Toolbar Special</title><content type='html'>Kawan yang lagi nyasar di blog ini, pernahkan memerhatikan toolbar apa saja yang mejeng di browser Anda?&lt;br /&gt;Coba alihkan beberapa detik perhatian ke toolbar browser yang Anda gunakan. Bandingkan dengan toolbar yang ada pada browser saya seperti pada gambar di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SJrGhWNA89I/AAAAAAAAAGA/q0rcFUL6-T0/s1600-h/Untitled-1+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SJrGhWNA89I/AAAAAAAAAGA/q0rcFUL6-T0/s400/Untitled-1+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231712193342403538" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah toolbar khas yang mudah-mudahan menarik Anda. Sebuah toolbar yang me-link ke blog saya. Di bagian sebelah kanan, Kawan tentu melihat kata-kata “Catatan Kontemplasi Mhomank”. Ini adalah “brand” blog saya. Jika saya klik panah kecil di ujung kanan kata itu, maka menu-menu yang ada di blog saya akan ditampilkan. Coba perhatikan gambar di bawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SJrHJXbb8YI/AAAAAAAAAGI/xLFx37dJ8JE/s1600-h/contoh+toolbarku+copy.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SJrHJXbb8YI/AAAAAAAAAGI/xLFx37dJ8JE/s400/contoh+toolbarku+copy.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231712880866095490" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tanpa membuka alamat blog saya, tetapi hanya dengan membuka browser,  saya dapat dengan mudah mengakses blog saya. Langsung ke menu yang saya inginkan.&lt;br /&gt;Bagi saya, ini adalah sesuatu yang cukup menarik. Seorang pengunjung yang menyenangi blog kita dapat memasang toolbar kita di browsernya. Cara memasangnya cukup dengan mengklik banner yang kita sediakan untuk itu, dan mereka akan diarahkan untuk mengunduh toolbar blog kita kemudian menginstallnya di browsernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Kawan butuh eksperimen, silahkan klik banner toolbar blog saya di sidebar, dan anda akan diarahkan untuk mengunduh toolbar blog saya kemudian secara otomatis menginstallnya di browser Anda. Perlu saya beritahu kalau fasilitas ini untuk sementara hanya bisa berjalan di browser Internet Explorer dan firefox saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah kawan sepakat dengan saya bahwa toolbar khas ini memang menarik? Bila jawabannya adalah iya, atau Kawan masih ragu tetapi berniat mecobanya, maka berikut ini adalah langkah-langkah membuatnya.&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;1. Langkah pertama adalah buka alamat penyedia layanan toolbar ini. Ketikkan alamat www.conduit.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Setelah halaman conduit terbuka, silahkan klik start now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Anda akan diminta untuk memasukkan alamat situs atau blog yang Anda miliki. Ketikkan alamat situs Anda atau alamat blog anda. Karena sekarang menjelang hari dirgahayu RI, jangan lupa memilih pilihan bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Setelah itu, silahkan lanjut dengan mengklik next.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Pada halaman yang akan tampil, Anda akan diminta untuk mengetikkan nama yang akan tampil di toolbar Anda. Agar lebih jelas, Anda bisa melihat toolbar saya pada gambar di bawah ini. Nama yang saya ketikkan adalah “mhomank.blogspot”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SJrH1ygTIoI/AAAAAAAAAGQ/hqRsoAw6BsQ/s1600-h/contoh+toolbarku+copy+1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SJrH1ygTIoI/AAAAAAAAAGQ/hqRsoAw6BsQ/s400/contoh+toolbarku+copy+1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231713644048491138" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetikkan nama, pilih model tulisan yang diinginkan. Pada contoh saya di atas saya memilih bentuk yang pertama. Anda diberikan pilihan sebanyak sembilan macam model. Sebenarnya anda dapat membuat model sendiri, kemudian melakukan kostumasi terhadap model yang Anda pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Setelah menemukan tulisan dan model yang pas, anda boleh melanjutkan dengan menekan next.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pada halaman berikutnya, anda akan diminta memasukkan search engine yang akan memasang toolbar Anda. Untuk bagian ini saya memilih google yang merupakan search engine yang paling top. Jika telah selesai, silahkan klik next.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. pada bagian selanjutnya, Anda harus memilih bentuk button yang ingin ditampilkan pada toolbar Anda. Ada banyak pilihan di sini, silahkan memilih sesuai dengan selera. Jangan lupa di field isikan nama khas blog Anda. Sebagai contoh untuk toolbar saya, saya ketikkan “catatan kontemplasi mhomank”. Perhatikan gambar sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Jika telah selesai klik kembali next. Pada halaman-halaman selanjutnya setelah menekan next, Anda akan diarahkan untuk menyertakan fasilitas semacam RSS Reader, dan mengikuti program reward conduit. Jika anda memilih untuk menyertakan kedua fasilitas ini, jangan lupa memberi tanda centang pada box yang disediakan sebelum menekan next.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Apabila seluruh langkah-langkah di atas telah Anda jalankan, silahkan klik create. Selanjutnya Anda diharuskan memasukkan data-data berupa: nama toolbar, password dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SJrIYDMnKnI/AAAAAAAAAGY/MURkOANdgoM/s1600-h/gambarisian.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SJrIYDMnKnI/AAAAAAAAAGY/MURkOANdgoM/s400/gambarisian.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5231714232644872818" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa nama toolbar Anda beserta passwordnya sebab ini adalah nama untuk log in ke conduit jika Anda ingin mengostumasi selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Jika semua data yang dibutuhkan telah terisi silahkan lanjut untuk tahapan berikutnya. Pada tahapan ini, conduit akan mengecek web atau blog Anda, membuat toolbar yang anda inginkan baik untuk browser IE maupun firefox, kemudian menginformasikan kepada Anda bahwa toolbar Anda telah dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Sekarang Anda sudah dapat menginstall toolbar Anda atau mengostumasinya termasuk mengopy script yang dapat anda pasang di blog untuk diunduh oleh pengunjung baik dalam bentuk banner atau bentuk lain yang telah disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kawan langkah-langkahnya. Akan lebih jelas jika Anda mencobanya sekarang. Selamat mencoba! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-2657516920752190508?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/2657516920752190508/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=2657516920752190508&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2657516920752190508'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2657516920752190508'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/08/membuat-toolbar-special.html' title='Membuat Toolbar Special'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SJrGhWNA89I/AAAAAAAAAGA/q0rcFUL6-T0/s72-c/Untitled-1+copy.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-2922571684969555144</id><published>2008-07-19T02:05:00.001+08:00</published><updated>2008-07-19T02:08:41.340+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Jelang "Masa Kemudahan"</title><content type='html'>Ibarat musim semi di mana kuncup-kuncup bunga, buah, atau pucuk daun mencuat bermunculan di sana-sini. Ataupun laksana akhir musim hujan dimana jamur bertumbuhan di mana-mana, begitulah bulan-bulan ini di tahun 2008 sampai 2009. Begitu Komisi Pemilihan Umum mengibarkan bendera start awal kampanye partai politik kontestan pemilihan umum 2009, maka saat itu pulalah akan segera bermunculan, cuat-mencuat, dan bertebaran janji-janji manis ‘lip-service’ parpol-parpol untuk menarik simpati masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa ini adalah masa dimana ‘bargaining position’ rakyat kecil mendadak naik. Masyarakat akar rumput yang &lt;span id="fullpost"&gt;berada di pelosok-pelosok terpencil sekalipun bersiap-siaplah menerima kunjungan demi kunjungan tokoh-tokoh yang sedari dulu sangat diimpi-impikan kedatangannya tapi tidak kunjung tiba. Saat ini adalah saat dimana impian itu akan terkabul, justru pada saat kita tidak pernah berharap untuk dikunjungi. Tapi begitulah, saatnya memang baru tiba sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bagai orang yang baru bangun dari tidur hendak bersih-bersih kamar, tiba-tiba di ruang tamu kita yang sederhana telah duduk dengan anggunnya seorang tamu agung. Begitu rapi, anggun, sangat bersahabat, dan penuh perhatian duduk menunggui kita. Begitu baik dia saat ini. Wajah kusut kita yang baru bangkit dari pembaringan dengan muka yang bentol-bentol digulati kutu bantal dan kasur, di depan mata mereka terlihat bagai muka malaikat. Dan di halaman rumah kita yang sempit, berdesak-desakan pengantar tamu kita dengan senyum yang tak kalah ramah. Mereka membawa bermacam-macam sembako yang sangat kita butuhkan. Tentu saja semua itu akan diberikan kepada kita. Tak ketinggalan dari barang-barang mereka itu pasti ada baju kaos. Tentu saja harapan mereka setelah kita menerima semua pemberian itu adalah kita mengingatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh beruntungnya kita pada masa-masa seperti itu. Dikunjungi oleh orang-orang kenamaan. Bagi kita yang ‘ngefans’ artis, jangan khawatir mereka akan mengajak serta artis-artis tertentu. Bagi kita yang punya keluh kesah atau berharap ada perbaikan nasib, tak usah sungkan. Utarakan saja unek-unek kita langsung kepada mereka dan mereka akan mendengar dan mengingatnya, lalu kemudian berjanji untuk memenuhi unek-unek kita. Betul-betul merupakan sebuah masa kemudahan. Tak perlu birokrasi berbelit-belit untuk menyampaikan sesuatu, juga tidak perlu aksi curi-curi perhatian, atau malah rampok perhatian (melalui demonstrasi misalnya), tetapi  langsung saja dialog. Istilahnya : si’langsungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sayang, keadaan itu hanya akan berlangsung selama beberapa bulan; bahkan tidak cukup setahun. Setelah hari-hari itu, kita akan kembali terlupakan. Terhempas di ruang-ruang pengap negeri. Terjepit di tengah-tengah perebutan kekuasaan yang justru kepunyaan kita. Menjadi kaum marginal. Unek-unek yang dulunya didengar dan diingat baik-baik oleh mereka tiba-tiba hilang tanpa bekas di ingatan. Tak pernah ada realisasi sedikit pun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun tiba-tiba ingin bertemu mereka mengingatkan tentang unek-unek dan keluh kesah kita. Tapi jangan harap kemudahan-kemudahan itu masih menjadi milik kita sebab untuk menemui mereka saja, kita harus menempuh sejumlah prosedur birokrasi yang berbelit-belit. Itupun pada akhirnya kadang kala mereka yang ingin kita temui enggan atau ogah-ogahan menerima kita. Apakah kita mesti menunggu kurang lebih lima tahun lagi untuk kemudian menagih realisasi janji? Sangat mustahil. Sebab lima tahun kemudian saat bendera start yang sama kembali dikibaskan, itu bukanlah pertanda untuk merealisasikan janji tetapi pertanda untuk kembali menabur janji-janji baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, masa-masa ini sesungguhnya adalah masa-masa memetik janji-janji yang bertaburan. Setelah masa ini tibalah masa paceklik. Janji-janji itu tak berarti apa-apa lagi pada masa itu. Kita hanya menunggu untuk masa memetik janji berikutnya lima tahun kemudian. Celakanya, masa memetik janji jauh lebih singkat daripada masa pacekliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak bisa disangkal sebab berpuluh tahun telah berulang-ulang. Kalaupun ada yang hendak menyangkal, lakukanlah dengan membuktikan bahwa keadaannya memang tidak seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-2922571684969555144?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/2922571684969555144/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=2922571684969555144&amp;isPopup=true' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2922571684969555144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2922571684969555144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/07/jelang-masa-kemudahan.html' title='Jelang &quot;Masa Kemudahan&quot;'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-8806012069189050763</id><published>2008-07-18T01:59:00.004+08:00</published><updated>2008-07-18T02:47:24.647+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>Menyandingkan Sains dan Sastra : Antara Yohanes Surya dan Taufiq Ismail</title><content type='html'>Salah satu dari sekian tokoh pendidikan di negara kita dalam bidang sains fisika yang punya perhatian begitu dalam terhadap anak-anak muda adalah Yohanes Surya. Tenaga pengajar di Universitas Pelita Harapan Jakarta ini selain punya nama besar di kancah fisikawan Indonesia, juga seorang fisikawan kaliber Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuntutan profesinya memang mengharuskannya untuk banyak bergelut dengan para mahasiswa dan sejumlah penelitian-penelitian untuk pengembangan ilmu pengetahuan fisika yang digelutinya, serta memimpin beberapa organisasi profesinya. Tetapi&lt;span id="fullpost"&gt; di tengah kesibukan-kesibukan itu, dia masih meluangkan banyak waktu untuk membina dan mendidik putra-putri Indonesia yang masih duduk di bangku sekolah menengah, baik sekolah lanjutan pertama maupun sekolah lanjutan atas. Tentu saja dalam bidang fisika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukannya ini tanpa pamrih apa pun kecuali demi satu impian: menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara peraih nobel bidang fisika. Jika hal ini dapat diwujudkan, betapa nama Indonesia akan terangkat di kancah sains internasional, peraih nobelnya akan mendapatkan medali atau penghargaan atau apapun yang bersifat material, dan Yohanes Surya sendiri sekedar mendapatkan rasa bangga dan kepuasan yang tiada tara atas keterwujudan cita-citanya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berawal dari pembentukan TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) bersama rekan-rekannya sekitar tahun 1991, Yo (panggilan akrab Yohanes Surya) membimbing sejumlah siswa sekolah menengah dan berupaya mengikutsertakan mereka dalam olimpiade fisika sedunia. Awalnya memang begitu sulit dan butuh perjuangan, tetapi TOFI setapak demi setapak mendekati cita-citanya. Kini TOFI telah menjadi sebuah tim yang disegani dalam bidang fisika di seluruh belahan dunia dan telah banyak menyumbangkan medali emas dalam lomba fisika tingkat internasional (Olimpiade Fisika Internasional). Untuk sementara waktu, prestasi ini tentu saja telah mengukir keharuman nama Indonesia di tengah-tengah berbagai predikat negatif yang dilekatkan pada negara kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alumni-alumni TOFI kini telah banyak tersebar di perguruan-perguruan tinggi ternama di seluruh dunia. Hal ini akan membuka akses mereka terhadap begawan-begawan fisika dunia termasuk fisikawan peraih nobel. Dari interaksi mereka dengan para peraih nobel bidang fisika ini tidak berlebihan jika Yo berharap mereka dapat memperoleh banyak pengalaman dalam bidang penelitian fisika yang kelak akan mengantarkan mereka menjadi salah satu pemenang nobel beberapa masa mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Yohanes Surya, nama Taufiq Ismail juga pantas disebutkan sebagai salah satu tokoh yang memiliki interest yang mendalam terhadap dunia pendidikan generasi muda. Bedanya, kalau Yohanes Surya dalam bidang sains fisika, maka Taufiq Ismail bergerak dalam bidang sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak mengenal Taufiq Ismail. Dia adalah salah seorang sastrawan kawakan Indonesia. Sastrawan angkatan 66 ini sebenarnya adalah seorang dokter hewan yang justru pernah bekerja di PT. Unilever. Sebuah perusahaan yang bergerak bukan dalam bidang yang pernah dikaji olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping bekerja di PT. Unilever, Taufiq Ismail hingga sekarang adalah salah seorang redaktur senior bahkan sekaligus sebagai salah seorang penggagas berdirinya satu-satunya majalah sastra yang terkenal di tanah air, Majalah Horison.&lt;br /&gt;Melalui Majalah Horison ini, Taufiq Ismail berupaya mengkampanyekan kebiasan membaca di kalangan generasi muda. Kebiasan yang kelihatannya begitu dihindari oleh anak-anak muda jaman sekarang yang ironisnya justru merupakan sumber wawasan yang luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut penelitian yang pernah dilakukan oleh Taufiq tentang kebiasaan membaca siswa-siswa sekolah menengah di seluruh dunia, ternyata sekolah-sekolah di Indonesia memiliki predikat dengan 0 (nol) buku (Majalah Horizon, Maret 2007). Tidak mengherankan jika Taufiq berupaya keras untuk membangun kebiasaan membaca bagi anak-anak sekolah sang generasi pelanjut melalui bacaan-bacaan sastra bermutu. Melalui kegiatan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang diadakan tiap tahun, Taufiq beserta sejumlah sastrawan-sastrawan lain “turun gunung” merambah sekolah demi sekolah untuk mengkampanyekan kebiasan membaca sekaligus menanamkan rasa cinta dan apresiasi siswa terhadap sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan baik oleh Yohanes Surya maupun Taufiq Ismail begitu penting dan fundamental. Hal itu terutama karena apa yang mereka lakukan bersentuhan langsung dengan generasi penerus bangsa kita. Fisika penting sebab ia adalah salah satu jantung teknologi yang mau tidak mau akan terus berkembang. Negara yang menguasai iptek sudah pasti akan menjadi negara yang maju. Lihatlah negara-negara Asia yang dekat dengan kita. Jepang, China, Korea Selatan, bahkan Malaysia adalah negara-negara yang maju karena penguasaan mereka terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian pula negara Pakistan yang pernah punya fisikawan peraih nobel : Abdus Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, sastra adalah sebuah karya seni yang sarat dengan nilai-nilai budaya dan nilai-nilai moral yang sangat dibutuhkan dalam mengiringi perkembangan sains dan teknologi. Sastra akan menyebabkan pembacanya menjadi pribadi yang bijaksana karena dengan sastra pembaca akan diajak mengalami dan menyelami secara langsung sejumlah kategori-kategori moral dan kategori-kategori sosial yang disuguhkan dalam karya itu beserta segala dinamikanya. Ruang-ruang yang tersedia dalam karya sastra akan membuka peluang bagi pembaca untuk tumbuh menjadi kritis dan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika dalam ceramah kuliahnya, Einstein mengeluh di hadapan mahasiswa California Institute of Technology, “Dalam peperangan ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal. Dalam perdamaian dia membuat hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu... Mengapa ilmu yang amat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih murah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit sekali kepada kita?” (Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, 1997). Apa yang dikemukakan oleh Albert Einstein ini secara tidak langsung mewanti-wanti kita mengenai masalah yang dapat timbul sebagai akibat dari hakikat ilmu (sains) itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilmu termasuk sains yang di dalamnya adalah fisika bersifat netral dan bebas nilai. Sains tidak mengenal sifat baik atau buruk juga tidak memiliki penilaian moral. Sehingga, jika perkembangan sains hanya dibiarkan berjalan tanpa diimbangi dengan perkembangan nilai-nilai budaya dan moralitas, bukan mustahil apa yang dikeluhkan oleh Einstein di atas akan semakin menjadi-jadi terutama pada abad sekarang ini.&lt;br /&gt;Di sinilah sasta tampil sebagai sumber nilai-nilai budaya dan moral yang akan terintegrasi dalam diri generasi pelanjut bangsa yang memiliki apresiasi yang tinggi terhadap sastra disamping kemampuan penguasaan sains dan iptek yang tinggi. Dengan demikian, perkembangan sains dan teknologi yang kita harapkan ke depan dapat mengarah pada kemaslahatan masyarakat Indonesia khususnya dan kemaslahatan umat manusia di seluruh dunia umumnya. Bukan justru sumber malapetaka dan bencana. Majunya Ilmu pengetahuan dan teknologi yang kelak akan dicapai oleh generasi muda kita harus bersanding dengan tingginya nilai-nilai budaya luhur dan moralitas para generasi muda bangsa yang kesemuanya dapat direguk dari sastra.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-8806012069189050763?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/8806012069189050763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=8806012069189050763&amp;isPopup=true' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/8806012069189050763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/8806012069189050763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/07/menyandingkan-sains-dan-sastra-antara.html' title='Menyandingkan Sains dan Sastra : Antara Yohanes Surya dan Taufiq Ismail'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-7391924765302859268</id><published>2008-07-14T19:05:00.003+08:00</published><updated>2008-07-14T19:15:10.528+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Syair Rindu dari Tibona</title><content type='html'>Kusampaikan rinduku padamu pada malam&lt;br /&gt;Dan malam membalasnya sebagai air mata di atas rerumputan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusampaikan salamku padamu pada pohon jati&lt;br /&gt;Dan pohon jati menjelmakannya sebagai ranggas dedaunnya di atas tanah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusampaikan rinduku padamu pada air kali&lt;br /&gt;Dan air kali membalasnya sebagai gemuruh isak tangis di antara batu-batu kali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusampaikan rinduku padamu pada bayanganmu&lt;br /&gt;Dan bayangmu menjelmakannya sebagai belati yang mengiris perih di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tibona, 27 Maret 2005&lt;/span&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-7391924765302859268?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/7391924765302859268/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=7391924765302859268&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/7391924765302859268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/7391924765302859268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/07/syair-rindu-dari-tibona.html' title='Syair Rindu dari Tibona'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-8873137856468789002</id><published>2008-06-07T20:34:00.004+08:00</published><updated>2008-11-13T12:03:41.342+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Edelweis</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SEqBAt5HtZI/AAAAAAAAADQ/ZCDEKSdO7Gc/s1600-h/edelwaisku.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SEqBAt5HtZI/AAAAAAAAADQ/ZCDEKSdO7Gc/s400/edelwaisku.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5209117768326559122" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;Kita telah tapaki penjelajahan&lt;br /&gt;Bukit-bukit asmara yang luas&lt;br /&gt;Rumput-rumput hijau menjadi cokelat kering&lt;br /&gt;Lalu kembali menghijau segar&lt;br /&gt;Lalu kembali menjadi cokelat kering&lt;br /&gt;Mengikuti irama musim&lt;/center&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;Kita basuh peluh di atas cahaya matahari&lt;br /&gt;Setelah riang bernyanyi menari-nari&lt;br /&gt;Bunga-bunga harum semerbak bermekaran warna-warni&lt;br /&gt;Kumbang-kumbang, burung-burung, hinggap mengisap-ngisap sari&lt;br /&gt;Begitu ceria hari-hari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita basuh air mata di atas kelabu mega&lt;br /&gt;Setelah luka menganga giris terasa di dada&lt;br /&gt;Bunga-bunga tunduk layu terbata-bata&lt;br /&gt;Kumbang-kumbang, burung-burung lemas tak berdaya&lt;br /&gt;Hilang cericit ceria sirna&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berputar-putar semua digilir waktu&lt;br /&gt;Tapi kita tetap pada penjelajahan ini&lt;br /&gt;Di bukit asmara yang luas&lt;br /&gt;Biarpun musim berganti&lt;br /&gt;Sebab kita telah tanam kuntum bunga ini&lt;br /&gt;Di dalam masing-masing hati&lt;br /&gt;Bunga Edelweis&lt;br /&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;Sungguminasa, Juni 08.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-8873137856468789002?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/8873137856468789002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=8873137856468789002&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/8873137856468789002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/8873137856468789002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/06/edelweis.html' title='Edelweis'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SEqBAt5HtZI/AAAAAAAAADQ/ZCDEKSdO7Gc/s72-c/edelwaisku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-1866095925348655276</id><published>2008-05-29T16:40:00.007+08:00</published><updated>2008-11-13T12:03:41.431+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diari'/><title type='text'>NOSTALGIA TANJUNG BIRA</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SD5sQcbDONI/AAAAAAAAADI/aqf0DxFdnwI/s1600-h/Tanjung+bira.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SD5sQcbDONI/AAAAAAAAADI/aqf0DxFdnwI/s400/Tanjung+bira.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5205717249050228946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;Berbilang tahun aku baru mengunjungi lagi pantai indah ini. Terakhir kalinya aku menjejakkan kakiku di halusnya pasir putih pantai ini pada tahun 2004 lalu. Tepatnya sekitar bulan April 2004 silam. Saat itu saya bersama teman-teman panitia Temu Mahasiswa Fisika Indonesia Wilayah III IHAMAFI sedang mengajak sejumlah kawan-kawan delegasi mahasiswa fisika dari berbagai perguruan tinggi lain melepas penat dari padatnya agenda Musawarah Wilayah III IHAMAFI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah sekira empat tahun lewat semenjak itu. Kini kujejakkan lagi kakiku di tempat ini. Pasir putih Pantai Bira masih tetap menawan hati. Sambil memandang lepas pantai, anganku berkelana ke sana kemari. Rasa rindu bangkit satu per satu. Pada teman-teman IHAMAFI yang ada di Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Brawijaya Malang, Institut Teknologi 10 November Surabaya, bagaimanakah kabar mereka? Sudah jadi apakah mereka sekarang? Apakah tanah asal mereka tidak masuk dalam target bencana alam lumpur di Sidoarjo sana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kepada kawan-kawan di Universitas Haluleo Kendari, Universitas Tadulako Palu, Universitas Khaerunnisa Ambon, Universitas Pattimura Ambon, Universitas Cendrawasih Papua, sedang apakah mereka kini? Masihkah menggema tentang nama besar IHAMAFI di dada mereka? Dan yang paling dekat teman-teman dari Universitas Hasanuddin, apa kabar mereka sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh,… betapa menggigitnya rasa rindu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlahan kutelusuri pantai ini sembari mendengarkan berita bisu yang dikabarkan gelombang pantai. Di atas butiran-butiran pasir inilah kami bermain bola, saling mengikat keakraban, menjalin persaudaraan pada detik-detik terakhir perpisahan kami.&lt;br /&gt;Di sela hembus angin pantai, aku berbisik: adakah rasa rindu juga menyapa mereka di tengah aktivitas mereka kini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-1866095925348655276?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/1866095925348655276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=1866095925348655276&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/1866095925348655276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/1866095925348655276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/05/nostalgia-tanjung-bira.html' title='NOSTALGIA TANJUNG BIRA'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SD5sQcbDONI/AAAAAAAAADI/aqf0DxFdnwI/s72-c/Tanjung+bira.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-6608824010343715950</id><published>2008-03-20T02:25:00.003+08:00</published><updated>2008-03-20T02:31:15.338+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>LUMPUR</title><content type='html'>Di masa kecilku, aku senang sekali jika turun hujan. Jika saat itu tiba, maka aku akan berlari turun ke tanah dari rumahku yang berbentuk panggung. Lalu di bagian belakang rumah pada tanah kosong yang menjadi bagian pekarangan aku akan berlari sekencang-kencangnya dan tepat pada bagian tanah yang bertekstur agak halus berwarna coklat muda kehijau-hijauan karena sedikit lapisan lumut di atasnya aku menghentikan lariku secara mendadak, membiarkan hukum pertama Newton, hukum kelembaman, berlaku padaku. Anda tahu kan hukum pertama Newton? Bahwa benda cenderung mempertahankan keadaan awalnya. Jika awalnya bergerak maka dia akan tetap mempertahankan keadaannya yang bergerak. Sedangkan jika diam, maka benda pun akan tetap mempertahankan keadaan diamnya. Maka ketika itu meluncurlah aku dengan telapak kakiku yang mungil di atas permukaan tanah halus berlumut yang licin dibasahi hujan. Betapa senang hatiku. Gembira ria bersorak-sorak. Meskipun kadang-kadang saya harus kehilangan keseimbangan dan terjerembab di tanah dengan muka jatuh duluan aku tidak peduli. Segera bangkit kembali, sumringah dengan muka belepotan lumpur lalu mulai lagi dari awal. Berlari kencang-kencang, lalu berhenti mendadak, dan ciurrrrrrr….. aku meluncur lagi. Demikian berulang-ulang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa kecil itu terlalu bahagia sampai saya tidak pernah berpikir tentang kelelahan ibu saya yang harus mencuci celanaku yang penuh lumpur di musim hujan dengan sabun cuci yang belum memiliki kemampuan mengucek sendiri. Kini kusadari betapa lelahnya lengan ibuku mengucek-ucek celanaku itu setelah kurasakan bagaimana capainya mencuci pakaian sendiri. Pun saya tidak berpikir bagaimana sekiranya sedikit pecahan beling mencuat dari dalam tanah di atas lintasan luncuranku mengiris membelah telapak kaki mungilku dan sebagai akibatnya aku harus di bawa ke rumah sakit untuk pengobatan. Aku bergidik membayangkannya. Tapi begitulah adanya. Saat hujan turun, serta merta di benakku muncul bayangan tanah yang licin beserta lumpurnya, kesempatan untuk meluncur-luncur dan bermain lumpur tiba dan rasa bahagia segera akan menyeruak di dadaku. Demikian berkali-kali sehingga sampai beberapa waktu lamanya, cukup dengan mendengarkan kata lumpur saja hatiku sudah tidak ketulungan gembiranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun keadaan berbalik 180 derajat sekarang.&lt;span id="fullpost"&gt;Mendengar dan melihat lumpur di dalam dadaku berkecamuk beraduk-aduk rasa miris, jengkel, dan kecewa. Sebenarnya adonan rasa itu bukan hanya tiga rasa ini. Melainkan sangat banyak, kait-mengait secara kompleks sehingga saya tidak bisa menemukan kata yang bisa melukiskannya. Namun demikian, perasaan yang paling jelas dan dapat kukatakan hanyalah ketiga rasa itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan yang akhirnya menjadi terbalik itu tidak lain disebabkan oleh semacam trauma ketika pertama kali melihat penderitaan akibat semburan lumpur PT. Lapindo yang menimpa saudara sebangsa dan setanah-airku di Sidoarjo Jawa Timur sana. Penderitaan yang sulit kupahami dan kini telah berlangsung sekian lama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati siapa yang tak kan miris menyaksikan rumah-rumah yang kini tinggal bubungannya saja yang terlihat? Sisanya amblas ditelan lumpur. Tidak terhitung banyaknya investasi yang telah ditanamkan pada rumah-rumah itu, baik dalam bentuk materil maupun nonmateril. Betapa rumah-rumah itu telah mereka bangun dari nol lewat berbagai-bagai upaya mengais-ngais remah-remah kehidupan di negeri yang subur dan kaya raya tetapi hanya dinikmati oleh secuil orang saja. Dapat sedikit remah-remah mereka yang serakah, ditumpuk dihemat bertahun-tahun, sebagian dijadikan rumah tempat berlindung dan melepas lelah sembari menyaksikan pembagian jatah besar-besaran di gedung perwakilan mereka, sisanya dipakai untuk hidup, kini hanya dalam bilangan beberapa minggu semua itu amblas tak tanggung-tanggung. Tinggal bubungannya saja yang terlihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah terlalu sering kulihat gambar orang tua yang seluruh hidupnya telah dikerjarodikan demi membangun rumah mereka itu kini menatap nanar lingkungan termasuk rumah dan seluruh harta benda di dalamnya yang kini hanya tinggal lautan lumpur dengan buih-buih besar di permukaannya. Buih-buihnya itu adalah bubungan rumah mereka. Siapa pun sulit menerima kenyataan ini. Berulang-ulang mereka menggosok mata, seolah tidak percaya bahwa ini adalah kenyataan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bisa saja kehilangan tempat tinggal secara mendadak, misalnya karena kebakaran, atau karena sesuatu hal diamuk massa. Tapi beberapa waktu ke depan mereka dapat membangun kembali rumahnya di tempat yang sama. Tapi untuk mereka yang terkena musibah lumpur Sidoarjo, bukan hanya rumah mereka  tetapi sekaligus mereka kehilangan tempat untuk membangun kembali rumahnya. Padahal di negeri ini sejengkal tanah pun rasanya sudah tidak ada lagi yang lowong. Lihatlah di sejumlah tempat dimana orang-orang yang telah puluhan tahun tinggal di situ tiba-tiba harus terusir tanpa mengalami pirasat apapun sebelumnya. Hanya karena ditempat mereka itu harus dibangun sebuah rumah untuk tempat tinggal mobil-mobil mewah. Atau untuk pertokoan yang isinya tidak pernah terlintas untuk dibeli oleh mereka kecuali yang tinggal di rumah-rumah mewah dengan lingkungan yang nyaman dan tenteram, pekarangan yang lengkap dengan kolam renang dan kebun yang luas berhektar-hektar. Hati siapa yang tidak miris? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tiba-tiba saya menjadi jengkel saat melihat kenyataan bahwa untuk kapasitas penderitaan semacam itu, ternyata orang-orang yang seharusnya mempertanggungjawabkan mereka tidak melakukan apa-apa. Hanya dibiarkan begitu saja. Kalaupun ada yang dilakukan, di situ terlihat jelas adanya ketidakikhlasan, setengah-setengah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, semburan lumpur terjadi karena kesalahan pengeboran pipa gas sebuah perusahan bernama Lapindo Brantas. Lumpur itu pun diberi nama lumpur lapindo. Oleh karena itu dengan rasa penuh tanggung jawab pihak Lapindo Brantas akan mengganti kerugian masyarakat yang menjadi korban lumpur lapindo itu. Tapi begitulah,… yang namanya setengah-setengah, pasti proses penggantian itu akan berbelit-belit dan makan waktu yang sangat lama. Karena harus diperhitungkan sedemikian rupa agar kerugian akibat pengeluaran kompensasi itu seminimal mungkin bagi perusahaan. Padahal jika mendengarkan hati nurani, nominal uang berapa pun rasanya tak kan sanggup mengganti kerugian para korban. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbelit-belitnya prosedur pemberian ganti rugi, lamanya waktu pemberian ganti rugi, pertimbangan nominal jumlah ganti rugi yang harus tetap menguntungkan keuangan perusahaan, adalah seretan demi seretan pada korban untuk menuju pada titik kulminasi putus asa. Pada titik ini, para korban akan melakukan apa pun dan jatuh pada berbagai macam penyakit psikologis. Orang bisa dikatakan tolol jika melakukan aksi mogok makan, tapi pada situasi para korban ini, lakukanlah dulu kontemplasi sebelum melakukan penghakiman. Orang bisa dikatakan bodoh jika menutup jalan, tapi pada kondisi para korban ini, lakukanlah dulu refleksi terhadap diri anda sebelum melakukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;judgement&lt;/span&gt;. Ujung-ujungnya, yang harus bertanggung jawab itu pun tidak mampu menunjukkan inisiatif semunya untuk bertanggung jawab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bilang pemerintah tidak peduli. Sebab pemerintah telah membentuk badan khusus untuk masalah ini. BPLS atau Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo. Nah, kini namanya diubah. Dari lumpur lapindo menjadi lumpur sidoarjo. Tapi hasil kerja badan ini juga begitu-begitu saja. Termasuk ketika pemerintah kembali membentuk badan lain sebagai ganti badan ini karena sudah selesai masa kerjanya namun pekerjaannya belum tuntas, tetap tidak ada perubahan. Lumpur hingga kini masih tetap jadi persoalan. Korban tetap masih banyak yang mendapatkan haknya. Satu-satunya yang nyata adalah perubahan nama itu tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika aku pertanyakan mengapa pada persoalan penggantian ganti rugi itu pemerintah tidak menekan saja Lapindo Brantas agar memenuhi permintaan korban? Bukankah pemerintah punya jalan dan kuasa untuk itu? Jawabannya sudah pasti akan kita tebak: akan lari ke sisi gelap politik. Kita tahu siapa pemilik Lapindo Brantas itu dan siapa pula pemerintah itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang membuat aku kecewa akhirnya adalah ternyata setelah mereka yang seharusnya bertanggung jawab, baik Lapindo Brantas maupun pemerintah, tidak mampu menemukan hitungan yang tepat dalam persoalan nominal ganti rugi kepada korban, akhirnya mereka membebankannya pada dana talangan dari APBN. Ini berarti bahwa ganti rugi ini harus dibayar oleh saudara-saudara mereka sendiri sebangsa dan setanah air, senasib dan sepenanggungan dalam kemiskinan! Sungguh beraduk-aduknya perasaan. Tapi apa boleh buat. Tokh, saya sendiri sudah benci dengan lumpur sekarang. Usia saya juga sudah tidak memungkinkan saya untuk kembali bermain luncur-luncuran lagi di musim hujan. Di samping karena sudah trauma pada lumpur, saya juga sadar bahwa uang itu secara tidak langsung kini harus dibayarkan untuk ganti rugi pembayaran ganti rugi korban lumpur di Sidoarjo. Rumit dan tulisannya jelek? Tolong sederhanakan dan berikan perbaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-6608824010343715950?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/6608824010343715950/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=6608824010343715950&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/6608824010343715950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/6608824010343715950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/03/lumpur.html' title='LUMPUR'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-5833205828284937345</id><published>2008-02-08T16:22:00.000+08:00</published><updated>2008-02-08T16:27:52.773+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='artikel'/><title type='text'>TETRALOGI LASKAR PELANGI : SANG PEMIMPI, DAN DAYA MOVERE SASTRA</title><content type='html'>Saya baru saja usai membaca buku kedua tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata: Sang Pemimpi. Sungguh mengagumkan! Betapa sebuah buku bergenre sastra yang patut dikoleksi. Benar-benar mencerahkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba lembaran-lembaran memori masa kecil saya seolah-olah diproyeksikan kembali di depan saya melalui sebuah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;in focus&lt;/span&gt;. Begitu jelas dan nyata. Entah bagaimana caranya sehingga semua kenangan masa kecil saya terkuak kembali setelah puluhan tahun tersimpan dalam lipatan-lipatan waktu. Padahal, masa-masa kecil saya sangat jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh tokoh-tokoh Ikal, Arai, dan Jimbron, dalam buku Sang Pemimpi. Sebuah masa kecil yang penuh dengan kemanjaan, rengekan-rengekan keinginan yang lebih banyak menyusahkan orang tua, dan sepertinya hidup hanya untuk bermain kala itu. Sepertinya saya ingin kembali ke masa kecil saya dan menjalaninya kembali dengan cara yang lebih bermakna. Tapi mungkinkah? Saya bukan orang konyol yang obsesif kompulsif (karakter yang diberikan Andrea Hirata pada beberapa tokoh-tokoh novelnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tiba-tiba merasa iri pada beberapa orang yang saya ketahui hidupnya begitu penuh perjuangan. Mencari sesuap nasi dan menghidupi dirinya sendiri jauh dari ketergantungan orang tua. Saya membayangkan betapa nikmatnya mengunyah nasi sesuap demi sesuap yang diperoleh dari hasil pergumulan hidup dengan tenaga sendiri. Dengan cara yang halal dan dibasahi tetesan keringat. Apa lagi jika hasil tetesan keringat ini juga dapat dinikmati orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingin rasanya saya menceritakan isi novel ini kepada para penyapu jalanan, anak-anak kecil yang memunguti sampah-sampah plastik, penjaja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;jalangkote&lt;/span&gt;, pisang goreng dan makanan ringan lainnya, penjual-penjual koran di jalanan, yang hari-hari mereka adalah hari-hari kerja keras di tengah kesibukan waktu sekolahnya demi biaya pendidikan yang kian menanjak kurvanya dalam bentuk kurva kuadrat dalam kuadran pertama. Saya ingin menceritakan kepada mereka tentang perjuangan hidup Arai dan Ikal yang tidak jauh berbeda dengan mereka, tetapi berkat kekuatan bermimpi mereka mampu mengenyam pendidikan tinggi. Ke luar negeri malah!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saya ingin mendaraskan isi buku ini kepada para wakil rakyat di ruang pertemuan mereka. Terutama tentang ketulusan Jimbron menyerahkan celengan miliknya yang isinya dikumpulkannya selama kurang lebih tiga tahun kepada sahabatnya Arai dan Ikal saat akan merantau ke Jawa. Celengan yang memang telah dipersiapkannya sejak awal untuk kedua sahabatnya itu. Tentu saja kepada para wakil  rakyat ini saya harus mengkontekstualkannya secara langsung dalam darasan saya. Khawatir mereka salah memaknainya dengan cara hanya memikirkan kroni-kroninya saja. Bukannya memikirkan rakyak yang diwakilinya. Sesuatu yang memang seharusnya mereka lakukan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;* * *&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa tiba-tiba perasaan-perasaan dan keinginan-keinginan di atas muncul setelah membaca sebuah novel berjudul Sang Pemimpi karangan Andrea Hirata?&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sastra, novel dalam hal ini, memang punya kekuatan menggerakkan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;movere&lt;/span&gt;) dari dalam yang luar biasa. Dengan cara yang unik dan mengejutkan dapat memberi kita pengetahuan, juga bisa membuat kita menjadi pribadi yang berbeda. Lewat untaian kata-kata dalam jalinan kalimat-kalimat, penulis novel yang berkualitas dapat membimbing imajinasi kita, menarik emosi kita larut dalam alur cerita yang dibangun. Dan dengan cara yang begitu halus membawa kita untuk mengambil bagian dalam rangkaian peristiwa-peristiwa yang berbagai-bagai, mendebarkan, dramatis, mengucurkan air mata, lucu, membuat kita terpingkal-pingkal, dan menegangkan tanpa dikenai resiko gawat dari peristiwa bersangkutan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Agus R. Sarjono dalam Catatan Kebudayaan-nya yang dimuat dalam Majalah Horison edisi Februari 2006, sastra dapat mengajak pembaca berhadapan dan mengalami secara langsung kategori-kategori moral dan kategori-kategori sosial dengan segala parodi dan ironinya. Ruang-ruang yang tersedia dalam karya sastra itu akan membuka peluang bagi pembaca untuk tumbuh menjadi pribadi yang kritis pada satu sisi, dan pribadi yang bijaksana karena pengalaman membaca sastra telah membawanya bertemu berbagai macam tema dan latar manusia, serta membawanya pula bertemu dengan beragam manusia dengan beragam karakter, ideologi, kecemasan, kegirangan, dan harapan-harapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian hebatnya kekuatan sastra. Dan untuk dapat mengalami semua itu, tentu prasyarat mutlaknya adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;CINTA MEMBACA&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat berutunglah kita karena saat ini gerakan cinta membaca telah ramai diiklankan dan dipromosikan lewat berbagai program. Program Makassar Gemar Membaca, bertumbuhnya kafe-kafe buku, turun gunungnya suhu-suhu sastra ke sekolah-sekolah, dan sebagainya. Ini juga didukung dengan menghijaunya penerbitan-penerbitan buku, lahirnya penulis-penulis berbakat, terbitnya buku-buku berkualitas yang best seller dan mencerahkan termasuk buku tetralogi Laskar Pelangi yang menginspirasi lahirnya tulisan “celoteh sok” ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;center&gt;* * *&lt;/center&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup!!!.... Tiba-tiba aku terlonjak. Buku Sang Pemimpi yang kubaca adalah buku yang sudah masuk cetakan keduabelas. Saya mendadak merasa malu. Sepertinya saya adalah orang yang paling belakangan membaca buku ini. Tapi kok, mengapa saya merasa paling &lt;span style="font-style:italic;"&gt;confidence&lt;/span&gt; dengan membuat tulisan ini? Akhh…, muka saya rasanya berubah bersemu merah, cuping telinga rasanya agak panas, senyum saya terasa agak kikuk, malu! Saya seperti seorang sarjana S1 yang dengan percaya diri tinggi membual tentang sel surya, yang saya ketahui ─padahal pengetahuan saya sangat cetek─ hanya karena kebetulan menjadi bahasan skripsi saya dulu, di depan orang-orang yang tampak sangat awam. Padahal mereka itu adalah M. Barmawi, Wilson W. Wenas, Jasruddin, dan sebagainya yang semuanya adalah professor-profesor dan doktor dalam bidang sel surya. Idihhhh….. Saya rasanya seperti seorang mahasiswa yang sedang asyik menyontek catatan pada waktu ujian sementara dosen pengawas ujian itu telah berada tepat di samping saya tanpa saya sadari dan memberi tahu saya di halaman mana materi ujian itu berada….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya berani menjamin bahwa nun jauh di kampung saya sana, di Manipi, saya masuk dalam daftar lima besar yang telah membaca novel ini. Bahkan mungkin peringkat pertama!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari itu semua saya tetap ingin mengatakan, meskipun harus menekan rasa malu, bahwa buku Tetralogi Laskar Pelangi ini sangat perlu dibaca dan dikoleksi terutama untuk perpustakaan sekolah-sekolah. Demi pencerahan tentu saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-5833205828284937345?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/5833205828284937345/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=5833205828284937345&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/5833205828284937345'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/5833205828284937345'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/02/tetralogi-laskar-pelangi-sang-pemimpi.html' title='TETRALOGI LASKAR PELANGI : SANG PEMIMPI, DAN DAYA MOVERE SASTRA'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-2861860646702936111</id><published>2008-01-24T14:19:00.000+08:00</published><updated>2008-01-24T14:32:24.589+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>SAJAK BUAT KAWANKU</title><content type='html'>&lt;center&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;: Syarif yang telah sarjana&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan, kamu tentu bangga&lt;br /&gt;telah ujian meja, yudisium dan tinggal tunggu wisuda&lt;br /&gt;Ijazah tinggal diurus, kau sudah jadi sarjana&lt;br /&gt;Hak menyandang gelar:&lt;br /&gt;Sarjana Pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan,&lt;br /&gt;Kamu tentu belum lupa&lt;br /&gt;Jalan panjang menuju wisuda&lt;br /&gt;Dibasuh peluh orang tua&lt;br /&gt;Berbarel-barel jumlahnya&lt;br /&gt;Jangan sampai sarjanamu sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan,&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Kamu tentu tidak akan lupa&lt;br /&gt;Ketika kita masih mahasiswa&lt;br /&gt;Sewaktu suasana menjerat leher kita&lt;br /&gt;Tatkala pendidikan jadi lahan bisnis&lt;br /&gt;dan SPP maba naik berjuta-juta&lt;br /&gt;Dan kita harus terlunta-lunta&lt;br /&gt;Rela akademik jadi tumbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan,&lt;br /&gt;Kau tentu tidak akan pernah lupa&lt;br /&gt;Tentang romantika&lt;br /&gt;Kita ketika mahasiswa&lt;br /&gt;hidup yang penuh derita&lt;br /&gt;rakyat yang makin sengsara,&lt;br /&gt;Meski kau telah sarjana&lt;br /&gt;kelak dapat kerja&lt;br /&gt;digaji oleh rakyat.&lt;br /&gt;Kau tentu tidak akan jadi pelupa,&lt;br /&gt;Kawan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguminasa, Agustus 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/center&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-2861860646702936111?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/2861860646702936111/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=2861860646702936111&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2861860646702936111'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/2861860646702936111'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/01/sajak-buat-kawanku.html' title='SAJAK BUAT KAWANKU'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-7855820456080368460</id><published>2008-01-24T14:09:00.000+08:00</published><updated>2008-01-24T14:16:47.622+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>PERKENANKAN AKU MENCINTAIMU</title><content type='html'>Perkenankan aku mencintaimu&lt;br /&gt;dan kutemui kau sering&lt;br /&gt;dalam hening dan linangan air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenankan aku merinduimu &lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;dalam setiap setiap penjuru waktu&lt;br /&gt;dan kutemui kau&lt;br /&gt;melepaskan rinduku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkenankan aku mencintaimu&lt;br /&gt;merindukanmu dalam setiap deru napas waktu&lt;br /&gt;dalam linangan air mata&lt;br /&gt;hingga kutemui Kau&lt;br /&gt;Khidmat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sungguminasa, Februari 2006&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-7855820456080368460?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/7855820456080368460/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=7855820456080368460&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/7855820456080368460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/7855820456080368460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/01/perkenankan-aku-mencintaimu.html' title='PERKENANKAN AKU MENCINTAIMU'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-170979554487225743.post-4353229143902134433</id><published>2008-01-20T11:54:00.000+08:00</published><updated>2008-01-21T11:23:10.491+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='diari'/><title type='text'>INDAHNYA PADEPOKAN KAWANKU...</title><content type='html'>Hari ini ahad, 20 Januari 2008 saya berada di 'padepokan' teman saya, Syarief, yang terletak di pusat kota Pare-pare. Padepokannya sungguh terasa bagai surga bagiku. &lt;br /&gt;Sebuah rumah kayu yang dibuat berlantai dua yang sekaligus merupakan kantor keduanya selain kantornya di SMPN 5 Pare-pare. Kawan saya ini memang bekerja di dua tempat dengan status yang berbeda. Satu sebagai guru fisika SMPN 5 Pare-pare dengan status pns, satunya lagi karyawan di Pare-pare Cyber Education Center (PCEC). &lt;br /&gt;Nah, di kantor PCEC inilah yang dijadikan sebagai padepokannya. Dari padepokannya ini, kita bisa memandang laut lepas yang terletak di sebelah barat Pare-pare. Pantainya di kenal dengan nama pantai bibir.&lt;span id="fullpost"&gt; Entah dari mana asal nama ini. Konon, disebut demikian karena hampir setiap malam di tempat itu dua bibir sering ketemu. Entah bibir apa. Bisa saja bibir sendal ketemu bibir pantai, atau bibir-bibir yang lainnya lagi. &lt;br /&gt;Jika anda pernah mendengarkan dan penasaran tentang cerita-cerita keindahannya Pantai Miami, Anda bisa mencoba berkunjung ke tempat kawan saya ini. Sungguh mengasyikkan walaupun sebenarnya yang membuat saya lebih enak di sini adalah karena informasi yang melimpah. Akses internet dengan kecepatan yang lumayan tinggi itulah yang menjadi penyebabnya....&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/170979554487225743-4353229143902134433?l=mhomank.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mhomank.blogspot.com/feeds/4353229143902134433/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=170979554487225743&amp;postID=4353229143902134433&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/4353229143902134433'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/170979554487225743/posts/default/4353229143902134433'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mhomank.blogspot.com/2008/01/hari-ini-ahad-20-januari-2008-saya.html' title='INDAHNYA PADEPOKAN KAWANKU...'/><author><name>Mhomank</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_nJRyCNUpNAQ/SSkM8TcGTII/AAAAAAAAAHo/vCMKwnzeens/S220/Picture1.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
