27 Mei 2010

Intermezo : Kisah Kecil Tentang Namaku

Nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku waktu aku masih kecil dulu bukanlah nama yang kupakai sekarang. Tapi karena saya sering sakit-sakitan dengan nama asliku dulu itu, maka lazimnya orang-orang tua dulu aku harus ganti nama. Dan otoritas menentukan nama itu sepenuhnya diberikan padaku. Alhasil, aku pun ganti nama seperti yang kupakai sekarang.

Kala itu, di tahun 80-an televisi bukanlah barang lazim seperti sekarang ini. Di kampungku hanya satu orang yang punya. Sebuah televisi hitam putih yang di saat menontonnya nyata sekali bahwa citra yang terlihat di layar tabung itu dibentuk oleh bintik-bintik yang sangat kasar. Tapi di zaman itu, dengan kualitas gambar yang sedemikian itu, memadailah untuk menarik minat banyak orang berbondong-bondong sehabis shalat isya mengerubuti rumah pemilik televisi itu.

Aku tak ketinggalan. Di malam yang gelap dan becek, om ku dengan senang hati selalu, mendukungku di pundaknya. Membawaku melihat berbagai kejadian di tempat lain lewat televisi itu di rumah tetangga yang jaraknya kurang lebih 10 rumah dari rumahku di pinggir lapangan.

Dan program acara yang paling kuminati adalah acara Hankamnas. Mungkin karena waktu itu tidak banyak alternatif lain selain acara itu. Maklum satu-satunya penyedia layanan siaran televisi waktu itu hanyalah TVRI yang muatan acaranya penuh dengan doktrinasi.

Di acara Hankamnas itulah aku terpana pada figur seorang tentara yang saat itu menjabat sebagai Panglima ABRI. Seorang jenderal bersahaja dari Sulawesi Selatan: Jenderal M. Yusuf. Aku kagum pada banyak hal yang ada padanya, yang tak dapat kugambarkan lagi kini. Dan sebagai bentuk kekagumanku padanya aku pun memakai nama kecil sang Jenderal idolaku itu : Momang Yusuf.

Aku ingat waktu pertama kali masuk sekolah dasar. Guruku menanyakan nama kepadaku dan dengan lantang ku jawab: “Yusuf”.

Guruku mengernyit. Mungkin karena dia tahu betul bahwa namaku sesungguhnya bukan itu. Tapi aku menegaskan. “Yusuf, Bu. Nama saya Yusuf.”

Dia pun menulis namaku itu di buku absennya. Tapi dia tambahkan menjadi M. Yusuf. Ketika aku diharuskan menuliskan secara lengkap nama yang harus dituliskan di ijazah waktu akan tamat SD beberapa tahun kemudian, kupanjangkan menjadi Momang Yusuf, seperti nama yang kupakai sekarang ini.

Jadi itulah sekelumit asal usul namaku yang bagi banyak orang agak aneh. Kalau ada yang tanyakan apa makna nama itu, maka jawabnya adalah saya ingin mengabadikan nama kecil tokoh idolaku waktu kecil dulu. Aku ingin meneladaninya! Tapi jika ditanyakan apa arti nama itu, hanya Allah yang Maha Tahu tentang itu, atau haruskah kutanyakan ke Almarhum Jenderal M. Yusuf, yang telah mengilhamiku tentang nama itu?

Suka? Bagikan ke yang lain!

5 komentar:

Bugis Blog mengatakan...

beda-beda tipis JENDRAL, antara momang dan muhammad.......... tapi kalo dilihat dari fece maka bisa dikatakan turunan ke tiga

AMY mengatakan...

O, ya? Mudah2an reputasinya juga bisa seperti beliau... :D

Unknown mengatakan...

Saya kira Baco nama kecilta'... hehehe.... Sebenarnya berulang kali sya tanya nenek apa artinya... tampaknya dia juga bingung sendiri...

AMY mengatakan...

Echi: Ya pastilah Nak... Kan yg pilih nama itu saya sendiri...

Unknown mengatakan...

Among : Enaknya itu... saya juga mau kalau disuruh pilih nama sendiri...

Daftar Tulisan