13 Juni 2010

Membuang SDM dan Mimpi Menjadi Negara Maju

Namanya Profesor Nelson Tansu, pria kelahiran Medan, dengan usianya yang masih sangat muda, telah menjadi profesor (ketika itu profesor termuda) di belantara akademika Amerika Serikat. Tidak tanggung-tanggung, dia guru besar di salah satu universitas ternama di negeri Paman Sam: Lehigh University, Pensylvania. Sejumlah hak paten atas penemuannya dalam bidang material semikonduktor dan superkonduktor yang terdaftar di Amerika ada digenggamannya.

Prestasi dan reputasi ini telah membuat banyak negara menginginkannya untuk menjadi warga negaranya. Bahkan beberapa negara maju secara langsung telah mengklaimnya sebagai berkewarganegaraan negara itu. Tapi Profesor Nelson tidak pernah melupakan dirinya sebagai orang Indonesia.

Namun ironisnya, di tengah rebutan negara-negara maju ini, negerinya sendiri seakan tidak terlalu peduli pada potensi besar yang dimilikinya. Ketika negara-negara maju ramai dan berebut untuk menjadikannya sebagai warga negaranya, negaranya sendiri seolah tak peduli. Ini adalah petunjuk jelas bahwa kita sesungguhnya tidak membutuhkan orang-orang yang luar biasa semacam Profesor Nelson. Padahal keahlian dan potensi yang dimilikinya sangat mungkin untuk dapat mengantarkan kita menjadi salah satu negara pelopor kemajuan teknologi. Tampaknya kita jauh lebih senang dengan predikat yang melekat pada kita sebagai negeri dengan konsumsi terbesar produk-produk teknologi ketimbang berupaya menjadi pelopor teknologi.

Dulu memang kita pernah punya mimpi untuk menjadikan negara kita sebagai salah satu negara dengan teknologi yang maju. Impian itu terbetik sejak beberapa dekade yang lalu tetapi melihat kenyataan seperti di atas, sepertinya impian itu hanya utopia belaka. Puluhan tahun belakangan ini kita hanya berasyik masyuk pada persoalan politik yang membingungkan, menguras energi dan biaya yang tidak sedikit namun hasil yang diperoleh tidak cukup signifikan untuk kemajuan negeri kita.

Modal apakah yang harus kita punyai untuk dapat mengantarkan kita agar dapat menjadi negara yang bisa bersaing di kancah internasional?

Jawabannya tentu antara lain adalah sumber daya alam dan sumber daya manusia. Sumber daya alam kita tak usah diragukan lagi kelimpahannya. Tetapi mengenai sumber daya manusia, beberapa hal telah membuat kita miris.
Pertama adalah pembangunan bidang pendidikan yang setengah hati, dan yang kedua adalah pengabaian kita pada sumber daya manusia kita yang telah nyata sangat kita butuhkan.

Pendidikan yang setengah hati

Pendidikan sebagai wahana untuk membangun dan membentuk sumber daya manusia kita sampai sekarang masih setengah hati kita urusi. Padahal pendidikan adalah bidang yang sangat penting untuk diberi perhatian penuh. Jepang telah mengajarkan kita arti penting pemrioritasan pendidikan itu.

Kita tahu bahwa Jepang pernah hancur justru di saat kita akan mencapai kemerdekaan kita. Namun sekarang Jepang telah sangat jauh meninggalkan kita. Ketika Jepang hancur, pemerintah Jepang tahu bahwa untuk membangun kembali negeri mereka akibat bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, maka pendidikan adalah hal pertama yang harus dibenahi. Mereka harus memiliki sumber daya manusia yang akan memikul bertanggung jawab membangun negeri mereka. Dan pendidikan adalah jalan utama untuk itu. Oleh karena itu Jepang memulai pembangunan negaranya dengan mengirimkan dan memfasilitasi sumber daya manusia mereka untuk mereguk ilmu sebanyak mungkin dari seluruh negeri di dunia lalu para ilmuwan Jepang ini ditarik kembali ke negeri mereka sendiri. Tak lebih dari tiga dekade kemudian, Investasi Jepang di bidang pendidikan ini telah menampakkan hasilnya. Dewasa ini Jepang adalah salah satu negara maju dalam bidang teknologi yang disegani oleh dunia.

Bertentangan dengan Jepang, sejak kita memproklamasikan kemerdekaan bangsa kita, hingga saat ini kita bahkan belum dapat menemukan bentuk demokrasi yang pas bagi negara kita. Padahal dengan usia kemerdekaan yang telah setengah abad lebih seharusnya kita telah mapan dalam bidang politik sehingga kita bisa beralih ke bidang yang lainnya terutama dalam bidang pendidikan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, hingga saat ini peri kehidupan politik kita seolah belum beranjak dewasa. Kisruh politik masih sangat sering terjadi. Dan kekisruhan ini menyedot begitu banyak energi dan biaya, serta perhatian yang tidak sedikit yang menyebabkan terabaikannya sektor-sektor yang lain. Termasuk bidang pendidikan.
Selain kekisruhan demi kekisruhan pada bidang politik, hingga saat ini, dalam tataran implementasinya, pemerintah kita juga belum begitu menyadari pentingnya pembangunan bidang pendidikan. Meskipun konstitusi kita sangat jelas mengatakan bahwa salah satu tujuan pendirian negara kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah masih setengah hati mengalokasikan anggaran yang memadai untuk membangun bidang pendidikan kita. Perlu jalan panjang dan berliku untuk kemudian dapat memenuhi 20% dari APBN kita untuk bidang pendidikan. Sekali lagi itu pun dengan setengah hati!

Dan tentu saja, untuk dapat memanggil Profesor Nelson Tansu ke negerinya kembali –jika pun kita sadar bahwa kita membutuhkannya– kita harus berani menganggarkan lebih dari 20% itu untuk mendukung pelaksanaan riset-riset yang akan dilakukannya.

Ironi Sri Mulyani

Profesor Nelson Tansu di atas mungkin cerita yang telah klasik tentang fenomena ‘membuang’ sumber daya manusia kita. Yang sedikit lebih aktual adalah ketika orang sekaliber Sri Mulyani, mantan menteri keuangan Indonesia mengundurkan diri dari jabatannya karena diangkat menjadi salah satu direktur eksekutif Bank Dunia tanpa sepengetahuannya sama sekali. Sri Mulyani adalah seseorang yang memiliki reputasi internasional yang tidak sembarang orang dapat mencapainya, menduduki jabatan penting di negerinya, toh ‘dibuang’ dengan cara yang sangat elegan demi memuaskan hasrat berkuasa penguasa yang, meminjam istilah Sri Mulyani, merupakan perkawinan politikus dan pengusaha.

Walaupun dikesankan bahwa pengunduran diri Sri Mulyani adalah atas kehendaknya sendiri, publik tidak semudah itu akan terkecoh. Logika awam pasti akan seperti ini: jika memang kita mengakui kualitas dan kompetensi seorang Sri Mulyani dan sangat dibutuhkan untuk kemajuan perekonomian bangsa kita, mengapa kita dengan begitu ikhlas dan senang hati melepaskan dia untuk menjadi direktur eksekutif di Bank Dunia? Bukankah kita jauh lebih membutuhkannya dibanding Bank Dunia yang toh bisa mencari calon lain dari seluruh penjuru dunia? Betapa pun bergengsinya jabatan baru yang diembannya, Sri Mulyani pastilah lebih suka bekerja dan berbuat untuk Indonesia.

“Saya adalah nasionalis sejati”, kata Sri Mulyani ketika ditanya tentang kepergiannya ke Washington menduduki jabatan baru adalah karena dia tidak senang lagi bekerja di Indonesia seperti di wartakan dalam harian Kompas, 16 Mei 2010. Jawaban singkat ini jelas menyiratkan bahwa sesungguhnya Sri Mulyani masih ingin melakukan yang terbaik untuk negerinya.
Sekali lagi inilah contoh faktual ‘pembuangan’ sumber daya manusia kita. Kita lebih suka membiarkan orang-orang yang potensial untuk membawa kemajuan di negeri kita menjadi tersingkir, bekerja bukan untuk kepentingan kemajuan negara kita.

Jadi, jika sekarang kita masih memimpikan bahwa suatu saat Indonesia akan menjadi negara maju, impian itu adalah utopia belaka. Sebab sampai saat ini kita masih lebih suka membuang sumber daya manusia kita yang potensial dan masih setengah hati berinvestasi demi kualitas pendidikan kita. Nelson Tansu dan Sri Mulyani adalah sekedar contoh sumber daya manusia potensial yang kita miliki tetapi bekerja untuk kemajuan negara lain. Pendidikan yang tersendat-sendat dan carut marut adalah bukti kesetengah-hatian pemerintah kita mengurusi pendidikan. Implikasinya adalah negeri kita tak pernah maju-maju sampai sekarang.

Suka? Bagikan ke yang lain!

Tidak ada komentar:

Daftar Tulisan