Kerapuhan pertama dapat kita simak dari moral para politisi di gedung parlemen. Mereka yang sesungguhnya adalah wakil rakyat semestinya menyuarakan aspirasi rakyat. Tetapi kenyataannya kebanyakan di antara mereka lebih mementingkan mempertahankan kekuasaan mereka ketimbang memperjuangkan hak-hak rakyat. Skandal bank Century misalnya, yang dibuatkan pansus untuk mengusutnya memang sempat membuat rakyat optimis, tetapi akhirnya skandal ini pelan-pelan mengedap tanpa hasil sama sekali. Padahal milyaran uang rakyat telah dikeluarkan untuk membiayai kerja pengusutan ini. Tapi seiring dengan kepergian Sri Mulyani ke Washington DC, lalu terbentuknya Sekretariat Bersama Partai Koalisi, usailah sudah episode Pansus Bank Century ini. Tampaknya sebuah kepentingan telah tercapai.
Contoh lain kerapuhan moral di parlemen adalah ngototnya usulan dana aspirasi yang diajukan oleh Partai Golkar. Usulan ini meskipun telah ditolak oleh sejumlah partai politik ternyata tetap muncul di draft anggaran dewan. Padahal sebelumnya sejumlah pakar dan pengamat menilai bahwa usulan ini melanggar wewenang dan fungsi lembaga legislatif dan berpotensi melanggar undang-undang serta dapat menjadi lahan korupsi baru bagi anggota dewan. Tapi begitulah adanya, usul ini tetap masuk dalam draft anggaran, hanya sedikit ada perubahan nomenklatur.
Kerapuhan yang kedua tampak di berbagai institusi penegak hukum negara. Para mafia hukum bertebaran di lembaga kejaksaan dan kepolisian. Sepak terjang para Mafioso ini bersama-sama dengan koruptor yang sulit diberantas telah menggerogoti kekayaan bangsa kita di tengah-tengah kesengsaraan rakyat. Bahkan gurita korupsi dan kongkalikong ini telah membelit dan menyeret mereka yang berada di kejaksaan dan kepolisian yang justru harus memberantas mafioso dan koruptor ini. Sulit mengharapkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan kondisi yang seperti ini.
Bagaimana pembangunan bangsa kita ini akan berjalan untuk mencapai tujuan kemerdekaan seperti yang dimaklumatkan dalam konstitusi jika kondisinya sedemikian ini? Modal kapital tergerus untuk kepentingan pribadi dan segolongan kecil saja, pajak digelapkan, sumber daya alam yang potensial hampir semuanya dikuasai asing, penyelenggara negara lumpuh menjalankan program-program pembangunan kebangsaan akibat tersandera kepentingan segelintir golongan, penegak hukum dan keadilan tak bertaji menegakkan hukum dan keadilan. Dan, generasi muda kita? Pelanjut tongkat estafet pembangunan?
Mereka menunjukkan kerapuhan yang ketiga. Generasi bangsa yang akan melanjutkan gerak roda pembangunan telah terpapar perilaku tak bermoral yang tersaji di depan mata mereka di hampir segala lini. Dari gedung wakil rakyat, dari pemerintah, lembaga penegak hukum, institusi pendidikan, semua menunjukkan negasi atas nilai-nilai dan norma-norma moral yang mereka ketahui. Di usia mereka yang labil mereka lalu menjadikan artis sebagai figur. Tetapi, para artis yang diidolakan justru menawarkan moral yang tidak lebih baik. Pergaulan bebas, narkoba, gaya hidup glamour, adalah warna yang melekat di figur-figur artis itu. Bahkan belakangan ini sebuah video mesum yang melibatkan sejumlah artis papan atas, yang pasti banyak diidolakan generasi muda kita, telah menghebohkan tanah air hingga ke mancanegara.
Lebih parah lagi, kasus video ini dieksploitasi habis-habisan oleh media massa, elektronik maupun cetak, menampilkan pro dan kontra hukuman bagi pelakunya. Eksploitasi ini telah mengesankan bahwa seks bebas bukanlah lagi hal yang tabu sekarang. Sungguh kita telah membenamkan mereka ke jurang kebobrokan moral yang tiada tara!
Betapa mengerikannya kerapuhan demi kerapuhan moral di negara kita ini. Wajarlah masa depan negeri ini tampak suram. Penyelenggara negara, modal pembangunan, dan generasi pelanjut kita, hampir semuanya menunjukkan kerapuhan.
Bagaimana kita hendak memperbaikinya?
Dasar dari semua kerapuhan di atas sesungguhnya adalah moralitas kita yang telah luntur tergerus oleh zaman. Zaman dengan kemajuan teknologi dan informasi ini telah menumbuhkan benih individualisme tanpa kita. Jauh-jauh hari sebelumnya, seorang filsuf yang juga fisikawan: Fritjof Capra, telah mengingatkan kita bencana yang dibawa oleh zaman ini. Menurut Capra zaman dengan segala kemajuan seperti sekarang ini sangat berpotensi mengasingkan pribadi kita ke dalam jurang egoisme. Di zaman ini kita tanpa sadar telah memaknai diri kita terlepas dari keberadaan orang lain di sekitar kita. Kita beraksi dan bereaksi tanpa memedulikan sekitar kita. Empati dan kebersamaan yang kita miliki telah hilang yang berimplikasi pada merosotnya moral kita. Padahal dengan semangat kebersamaan dan empati inilah, para pejuang pendahulu kita menegakkan fondasi awal negara dan kehidupan berbangsa kita. Alangkah mustahilnya membayangkan negara kita akan berdiri seperti sekarang ini andai para pejuang kita dahulu adalah orang-orang dengan mental dan moral seperti yang kita miliki sekarang ini.
Maka demi membenahi kerapuhan demi kerapuhan yang telah melanda kita, kita harus memulainya dengan membenahi moral dan mental kita masing-masing. Menyingkirkan jauh-jauh sifat individualistis kita. Berhentilah kita saling mencari kesalahan hanya demi mementingkan kepentingan diri pribadi atau golongan. Berhentilah kita menggerogoti milik rakyat hanya untuk kepentingan diri sendiri. Saatnya kini kita bahu membahu untuk bekerja sama berbuat yang terbaik demi mencapai cita-cita negara yang diamanatkan sekarang di pundak kita. Semuanya harus dimulai dari masing-masing diri kita! Kebersamaan dan empati kita harus kita bangkitkan kembali.
Jalannya pemerintahan harus kita dukung dan kontrol, korupsi dan guritanya harus kita berantas, kasus penggelapan pajak harus kita tuntaskan, hukum dan keadilan harus kita tegakkan, generasi muda kita bina sedini mungkin, semuanya kita lakukan secara bersama-sama, secara holistik!
Dengan jalan inilah masa depan Indonesia yang tampak suram kita harapkan akan menjadi cerah di depan sana. Semoga.
Suka? Bagikan ke yang lain!





