Artikel Fisika :

Penulis

Mhomank, memiliki inisial nama lengkap A.M.Y.
Lahir di sebuah desa terpencil di Sinjai Barat: Manipi.

Link ke Sini

Ingin memasang link ke blog saya? Silahkan copy kode di bawah ini lalu konfirmasikan agar saya link balik.

View blog reactions

Artikel Fisika

Meneropong Masa Depan Indonesia

07 Agustus 2010

“Berikanlah aku kondisi masa kini, maka aku akan dapat menentukan masa depan,” kata seorang ilmuwan matematika sekaligus seorang filsuf: Gottfried W. Leibniz. Dan meneropong masa depan Indonesia dari kondisi sekarang, kemudian menerapkan ungkapan Leibniz di atas, maka akan tampaklah kesuraman yang pekat di masa depan bangsa kita. Betapa tidak, kerapuhan moral tampaknya telah melanda kita dimana-mana.

Kerapuhan pertama dapat kita simak dari moral para politisi di gedung parlemen. Mereka yang sesungguhnya adalah wakil rakyat semestinya menyuarakan aspirasi rakyat. Tetapi kenyataannya kebanyakan di antara mereka lebih mementingkan mempertahankan kekuasaan mereka ketimbang memperjuangkan hak-hak rakyat. Skandal bank Century misalnya, yang dibuatkan pansus untuk mengusutnya memang sempat membuat rakyat optimis, tetapi akhirnya skandal ini pelan-pelan mengedap tanpa hasil sama sekali. Padahal milyaran uang rakyat telah dikeluarkan untuk membiayai kerja pengusutan ini. Tapi seiring dengan kepergian Sri Mulyani ke Washington DC, lalu terbentuknya Sekretariat Bersama Partai Koalisi, usailah sudah episode Pansus Bank Century ini. Tampaknya sebuah kepentingan telah tercapai.

Contoh lain kerapuhan moral di parlemen adalah ngototnya usulan dana aspirasi yang diajukan oleh Partai Golkar. Usulan ini meskipun telah ditolak oleh sejumlah partai politik ternyata tetap muncul di draft anggaran dewan. Padahal sebelumnya sejumlah pakar dan pengamat menilai bahwa usulan ini melanggar wewenang dan fungsi lembaga legislatif dan berpotensi melanggar undang-undang serta dapat menjadi lahan korupsi baru bagi anggota dewan. Tapi begitulah adanya, usul ini tetap masuk dalam draft anggaran, hanya sedikit ada perubahan nomenklatur.

Kerapuhan yang kedua tampak di berbagai institusi penegak hukum negara. Para mafia hukum bertebaran di lembaga kejaksaan dan kepolisian. Sepak terjang para Mafioso ini bersama-sama dengan koruptor yang sulit diberantas telah menggerogoti kekayaan bangsa kita di tengah-tengah kesengsaraan rakyat. Bahkan gurita korupsi dan kongkalikong ini telah membelit dan menyeret mereka yang berada di kejaksaan dan kepolisian yang justru harus memberantas mafioso dan koruptor ini. Sulit mengharapkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dengan kondisi yang seperti ini.

Bagaimana pembangunan bangsa kita ini akan berjalan untuk mencapai tujuan kemerdekaan seperti yang dimaklumatkan dalam konstitusi jika kondisinya sedemikian ini? Modal kapital tergerus untuk kepentingan pribadi dan segolongan kecil saja, pajak digelapkan, sumber daya alam yang potensial hampir semuanya dikuasai asing, penyelenggara negara lumpuh menjalankan program-program pembangunan kebangsaan akibat tersandera kepentingan segelintir golongan, penegak hukum dan keadilan tak bertaji menegakkan hukum dan keadilan. Dan, generasi muda kita? Pelanjut tongkat estafet pembangunan?

Mereka menunjukkan kerapuhan yang ketiga. Generasi bangsa yang akan melanjutkan gerak roda pembangunan telah terpapar perilaku tak bermoral yang tersaji di depan mata mereka di hampir segala lini. Dari gedung wakil rakyat, dari pemerintah, lembaga penegak hukum, institusi pendidikan, semua menunjukkan negasi atas nilai-nilai dan norma-norma moral yang mereka ketahui. Di usia mereka yang labil mereka lalu menjadikan artis sebagai figur. Tetapi, para artis yang diidolakan justru menawarkan moral yang tidak lebih baik. Pergaulan bebas, narkoba, gaya hidup glamour, adalah warna yang melekat di figur-figur artis itu. Bahkan belakangan ini sebuah video mesum yang melibatkan sejumlah artis papan atas, yang pasti banyak diidolakan generasi muda kita, telah menghebohkan tanah air hingga ke mancanegara.

Lebih parah lagi, kasus video ini dieksploitasi habis-habisan oleh media massa, elektronik maupun cetak, menampilkan pro dan kontra hukuman bagi pelakunya. Eksploitasi ini telah mengesankan bahwa seks bebas bukanlah lagi hal yang tabu sekarang. Sungguh kita telah membenamkan mereka ke jurang kebobrokan moral yang tiada tara!

Betapa mengerikannya kerapuhan demi kerapuhan moral di negara kita ini. Wajarlah masa depan negeri ini tampak suram. Penyelenggara negara, modal pembangunan, dan generasi pelanjut kita, hampir semuanya menunjukkan kerapuhan.

Bagaimana kita hendak memperbaikinya?

Dasar dari semua kerapuhan di atas sesungguhnya adalah moralitas kita yang telah luntur tergerus oleh zaman. Zaman dengan kemajuan teknologi dan informasi ini telah menumbuhkan benih individualisme tanpa kita. Jauh-jauh hari sebelumnya, seorang filsuf yang juga fisikawan: Fritjof Capra, telah mengingatkan kita bencana yang dibawa oleh zaman ini. Menurut Capra zaman dengan segala kemajuan seperti sekarang ini sangat berpotensi mengasingkan pribadi kita ke dalam jurang egoisme. Di zaman ini kita tanpa sadar telah memaknai diri kita terlepas dari keberadaan orang lain di sekitar kita. Kita beraksi dan bereaksi tanpa memedulikan sekitar kita. Empati dan kebersamaan yang kita miliki telah hilang yang berimplikasi pada merosotnya moral kita. Padahal dengan semangat kebersamaan dan empati inilah, para pejuang pendahulu kita menegakkan fondasi awal negara dan kehidupan berbangsa kita. Alangkah mustahilnya membayangkan negara kita akan berdiri seperti sekarang ini andai para pejuang kita dahulu adalah orang-orang dengan mental dan moral seperti yang kita miliki sekarang ini.

Maka demi membenahi kerapuhan demi kerapuhan yang telah melanda kita, kita harus memulainya dengan membenahi moral dan mental kita masing-masing. Menyingkirkan jauh-jauh sifat individualistis kita. Berhentilah kita saling mencari kesalahan hanya demi mementingkan kepentingan diri pribadi atau golongan. Berhentilah kita menggerogoti milik rakyat hanya untuk kepentingan diri sendiri. Saatnya kini kita bahu membahu untuk bekerja sama berbuat yang terbaik demi mencapai cita-cita negara yang diamanatkan sekarang di pundak kita. Semuanya harus dimulai dari masing-masing diri kita! Kebersamaan dan empati kita harus kita bangkitkan kembali.

Jalannya pemerintahan harus kita dukung dan kontrol, korupsi dan guritanya harus kita berantas, kasus penggelapan pajak harus kita tuntaskan, hukum dan keadilan harus kita tegakkan, generasi muda kita bina sedini mungkin, semuanya kita lakukan secara bersama-sama, secara holistik!

Dengan jalan inilah masa depan Indonesia yang tampak suram kita harapkan akan menjadi cerah di depan sana. Semoga.


Suka? Bagikan ke yang lain!


Membuang SDM dan Mimpi Menjadi Negara Maju

13 Juni 2010

Namanya Profesor Nelson Tansu, pria kelahiran Medan, dengan usianya yang masih sangat muda, telah menjadi profesor (ketika itu profesor termuda) di belantara akademika Amerika Serikat. Tidak tanggung-tanggung, dia guru besar di salah satu universitas ternama di negeri Paman Sam: Lehigh University, Pensylvania. Sejumlah hak paten atas penemuannya dalam bidang material semikonduktor dan superkonduktor yang terdaftar di Amerika ada digenggamannya.

Prestasi dan reputasi ini telah membuat banyak negara menginginkannya untuk menjadi warga negaranya. Bahkan beberapa negara maju secara langsung telah mengklaimnya sebagai berkewarganegaraan negara itu. Tapi Profesor Nelson tidak pernah melupakan dirinya sebagai orang Indonesia.

Namun ironisnya, di tengah rebutan negara-negara maju ini, negerinya sendiri seakan tidak terlalu peduli pada potensi besar yang dimilikinya. Ketika negara-negara maju ramai dan berebut untuk menjadikannya sebagai warga negaranya, negaranya sendiri seolah tak peduli. Ini adalah petunjuk jelas bahwa kita sesungguhnya tidak membutuhkan orang-orang yang luar biasa semacam Profesor Nelson. Padahal keahlian dan potensi yang dimilikinya sangat mungkin untuk dapat mengantarkan kita menjadi salah satu negara pelopor kemajuan teknologi. Tampaknya kita jauh lebih senang dengan predikat yang melekat pada kita sebagai negeri dengan konsumsi terbesar produk-produk teknologi ketimbang berupaya menjadi pelopor teknologi.

Dulu memang kita pernah punya mimpi untuk menjadikan negara kita sebagai salah satu negara dengan teknologi yang maju. Impian itu terbetik sejak beberapa dekade yang lalu tetapi melihat kenyataan seperti di atas, sepertinya impian itu hanya utopia belaka. Puluhan tahun belakangan ini kita hanya berasyik masyuk pada persoalan politik yang membingungkan, menguras energi dan biaya yang tidak sedikit namun hasil yang diperoleh tidak cukup signifikan untuk kemajuan negeri kita.

Modal apakah yang harus kita punyai untuk dapat mengantarkan kita agar dapat menjadi negara yang bisa bersaing di kancah internasional?

Jawabannya tentu antara lain adalah sumber daya alam dan sumber daya manusia. Sumber daya alam kita tak usah diragukan lagi kelimpahannya. Tetapi mengenai sumber daya manusia, beberapa hal telah membuat kita miris.
Pertama adalah pembangunan bidang pendidikan yang setengah hati, dan yang kedua adalah pengabaian kita pada sumber daya manusia kita yang telah nyata sangat kita butuhkan.

Pendidikan yang setengah hati

Pendidikan sebagai wahana untuk membangun dan membentuk sumber daya manusia kita sampai sekarang masih setengah hati kita urusi. Padahal pendidikan adalah bidang yang sangat penting untuk diberi perhatian penuh. Jepang telah mengajarkan kita arti penting pemrioritasan pendidikan itu.

Kita tahu bahwa Jepang pernah hancur justru di saat kita akan mencapai kemerdekaan kita. Namun sekarang Jepang telah sangat jauh meninggalkan kita. Ketika Jepang hancur, pemerintah Jepang tahu bahwa untuk membangun kembali negeri mereka akibat bom atom di Nagasaki dan Hiroshima, maka pendidikan adalah hal pertama yang harus dibenahi. Mereka harus memiliki sumber daya manusia yang akan memikul bertanggung jawab membangun negeri mereka. Dan pendidikan adalah jalan utama untuk itu. Oleh karena itu Jepang memulai pembangunan negaranya dengan mengirimkan dan memfasilitasi sumber daya manusia mereka untuk mereguk ilmu sebanyak mungkin dari seluruh negeri di dunia lalu para ilmuwan Jepang ini ditarik kembali ke negeri mereka sendiri. Tak lebih dari tiga dekade kemudian, Investasi Jepang di bidang pendidikan ini telah menampakkan hasilnya. Dewasa ini Jepang adalah salah satu negara maju dalam bidang teknologi yang disegani oleh dunia.

Bertentangan dengan Jepang, sejak kita memproklamasikan kemerdekaan bangsa kita, hingga saat ini kita bahkan belum dapat menemukan bentuk demokrasi yang pas bagi negara kita. Padahal dengan usia kemerdekaan yang telah setengah abad lebih seharusnya kita telah mapan dalam bidang politik sehingga kita bisa beralih ke bidang yang lainnya terutama dalam bidang pendidikan. Namun yang terjadi justru sebaliknya, hingga saat ini peri kehidupan politik kita seolah belum beranjak dewasa. Kisruh politik masih sangat sering terjadi. Dan kekisruhan ini menyedot begitu banyak energi dan biaya, serta perhatian yang tidak sedikit yang menyebabkan terabaikannya sektor-sektor yang lain. Termasuk bidang pendidikan.
Selain kekisruhan demi kekisruhan pada bidang politik, hingga saat ini, dalam tataran implementasinya, pemerintah kita juga belum begitu menyadari pentingnya pembangunan bidang pendidikan. Meskipun konstitusi kita sangat jelas mengatakan bahwa salah satu tujuan pendirian negara kita adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah masih setengah hati mengalokasikan anggaran yang memadai untuk membangun bidang pendidikan kita. Perlu jalan panjang dan berliku untuk kemudian dapat memenuhi 20% dari APBN kita untuk bidang pendidikan. Sekali lagi itu pun dengan setengah hati!

Dan tentu saja, untuk dapat memanggil Profesor Nelson Tansu ke negerinya kembali –jika pun kita sadar bahwa kita membutuhkannya– kita harus berani menganggarkan lebih dari 20% itu untuk mendukung pelaksanaan riset-riset yang akan dilakukannya.

Ironi Sri Mulyani

Profesor Nelson Tansu di atas mungkin cerita yang telah klasik tentang fenomena ‘membuang’ sumber daya manusia kita. Yang sedikit lebih aktual adalah ketika orang sekaliber Sri Mulyani, mantan menteri keuangan Indonesia mengundurkan diri dari jabatannya karena diangkat menjadi salah satu direktur eksekutif Bank Dunia tanpa sepengetahuannya sama sekali. Sri Mulyani adalah seseorang yang memiliki reputasi internasional yang tidak sembarang orang dapat mencapainya, menduduki jabatan penting di negerinya, toh ‘dibuang’ dengan cara yang sangat elegan demi memuaskan hasrat berkuasa penguasa yang, meminjam istilah Sri Mulyani, merupakan perkawinan politikus dan pengusaha.

Walaupun dikesankan bahwa pengunduran diri Sri Mulyani adalah atas kehendaknya sendiri, publik tidak semudah itu akan terkecoh. Logika awam pasti akan seperti ini: jika memang kita mengakui kualitas dan kompetensi seorang Sri Mulyani dan sangat dibutuhkan untuk kemajuan perekonomian bangsa kita, mengapa kita dengan begitu ikhlas dan senang hati melepaskan dia untuk menjadi direktur eksekutif di Bank Dunia? Bukankah kita jauh lebih membutuhkannya dibanding Bank Dunia yang toh bisa mencari calon lain dari seluruh penjuru dunia? Betapa pun bergengsinya jabatan baru yang diembannya, Sri Mulyani pastilah lebih suka bekerja dan berbuat untuk Indonesia.

“Saya adalah nasionalis sejati”, kata Sri Mulyani ketika ditanya tentang kepergiannya ke Washington menduduki jabatan baru adalah karena dia tidak senang lagi bekerja di Indonesia seperti di wartakan dalam harian Kompas, 16 Mei 2010. Jawaban singkat ini jelas menyiratkan bahwa sesungguhnya Sri Mulyani masih ingin melakukan yang terbaik untuk negerinya.
Sekali lagi inilah contoh faktual ‘pembuangan’ sumber daya manusia kita. Kita lebih suka membiarkan orang-orang yang potensial untuk membawa kemajuan di negeri kita menjadi tersingkir, bekerja bukan untuk kepentingan kemajuan negara kita.

Jadi, jika sekarang kita masih memimpikan bahwa suatu saat Indonesia akan menjadi negara maju, impian itu adalah utopia belaka. Sebab sampai saat ini kita masih lebih suka membuang sumber daya manusia kita yang potensial dan masih setengah hati berinvestasi demi kualitas pendidikan kita. Nelson Tansu dan Sri Mulyani adalah sekedar contoh sumber daya manusia potensial yang kita miliki tetapi bekerja untuk kemajuan negara lain. Pendidikan yang tersendat-sendat dan carut marut adalah bukti kesetengah-hatian pemerintah kita mengurusi pendidikan. Implikasinya adalah negeri kita tak pernah maju-maju sampai sekarang.

Suka? Bagikan ke yang lain!

Intermezo : Kisah Kecil Tentang Namaku

27 Mei 2010

Nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku waktu aku masih kecil dulu bukanlah nama yang kupakai sekarang. Tapi karena saya sering sakit-sakitan dengan nama asliku dulu itu, maka lazimnya orang-orang tua dulu aku harus ganti nama. Dan otoritas menentukan nama itu sepenuhnya diberikan padaku. Alhasil, aku pun ganti nama seperti yang kupakai sekarang.

Kala itu, di tahun 80-an televisi bukanlah barang lazim seperti sekarang ini. Di kampungku hanya satu orang yang punya. Sebuah televisi hitam putih yang di saat menontonnya nyata sekali bahwa citra yang terlihat di layar tabung itu dibentuk oleh bintik-bintik yang sangat kasar. Tapi di zaman itu, dengan kualitas gambar yang sedemikian itu, memadailah untuk menarik minat banyak orang berbondong-bondong sehabis shalat isya mengerubuti rumah pemilik televisi itu.

Aku tak ketinggalan. Di malam yang gelap dan becek, om ku dengan senang hati selalu, mendukungku di pundaknya. Membawaku melihat berbagai kejadian di tempat lain lewat televisi itu di rumah tetangga yang jaraknya kurang lebih 10 rumah dari rumahku di pinggir lapangan.

Dan program acara yang paling kuminati adalah acara Hankamnas. Mungkin karena waktu itu tidak banyak alternatif lain selain acara itu. Maklum satu-satunya penyedia layanan siaran televisi waktu itu hanyalah TVRI yang muatan acaranya penuh dengan doktrinasi.

Di acara Hankamnas itulah aku terpana pada figur seorang tentara yang saat itu menjabat sebagai Panglima ABRI. Seorang jenderal bersahaja dari Sulawesi Selatan: Jenderal M. Yusuf. Aku kagum pada banyak hal yang ada padanya, yang tak dapat kugambarkan lagi kini. Dan sebagai bentuk kekagumanku padanya aku pun memakai nama kecil sang Jenderal idolaku itu : Momang Yusuf.

Aku ingat waktu pertama kali masuk sekolah dasar. Guruku menanyakan nama kepadaku dan dengan lantang ku jawab: “Yusuf”.

Guruku mengernyit. Mungkin karena dia tahu betul bahwa namaku sesungguhnya bukan itu. Tapi aku menegaskan. “Yusuf, Bu. Nama saya Yusuf.”

Dia pun menulis namaku itu di buku absennya. Tapi dia tambahkan menjadi M. Yusuf. Ketika aku diharuskan menuliskan secara lengkap nama yang harus dituliskan di ijazah waktu akan tamat SD beberapa tahun kemudian, kupanjangkan menjadi Momang Yusuf, seperti nama yang kupakai sekarang ini.

Jadi itulah sekelumit asal usul namaku yang bagi banyak orang agak aneh. Kalau ada yang tanyakan apa makna nama itu, maka jawabnya adalah saya ingin mengabadikan nama kecil tokoh idolaku waktu kecil dulu. Aku ingin meneladaninya! Tapi jika ditanyakan apa arti nama itu, hanya Allah yang Maha Tahu tentang itu, atau haruskah kutanyakan ke Almarhum Jenderal M. Yusuf, yang telah mengilhamiku tentang nama itu?

Suka? Bagikan ke yang lain!

Tanda-tanda

02 Mei 2010

Sebuah rasa yang tidak nyaman, yang sulit diurai musababnya kadang-kadang adalah tanda-tanda yang dianugerahkan oleh Allah SWT. Tanda-tanda itu disebut firasat. Mungkin membutuhkan tingkat “kesucian” tertentu atau bahkan perlu “spiritualitas seorang wali” untuk bisa mengetahui secara tepat tentang petunjuk itu.

Demikianlah, ketika Rasulullah menyampaikan khotbahnya yang terakhir pada Haji Wada’ sekian abad yang lampau, tentulah Beliau telah diberikan sebuah tanda-tanda tentang sesuatu hal. Dan sebagai seorang yang memiliki tingkat kesucian yang tertinggi yang dapat dimiliki oleh manusia di jagad raya ini, pastilah Rasulullah mampu membaca dengan tepat apa makna tanda-tanda itu. Makna tanda-tanda itu, dapat dibaca dari siratan khotbahnya yang mengarah kepada akan berpisahnya ia dengan segala anugerah kehidupannya, umatnya beserta seluruh sahabat-sahabatnya, dan perjuangannya mendakwahkan dan menegakkan agama Allah. Tepatnya, Rasulullah telah tahu bahwa ajalnya telah dekat saat itu, lewat tanda-tanda yang dibacanya.
* * *

Dan sebuah rasa yang tak nyaman tiba-tiba pula mendera saya malam ini. Bahkan telah bermula pada sore hari sabtu ini.

Sebagai orang awam, jauh dari “tingkat kesucian seorang wali”, rasa tak nyaman itu belum dapat kupahami sebagai sebuah tanda-tanda. Pikiran rasional-logis yang kumiliki masih mendominasi akalku sehingga menutupi kalbuku yang sedang berupaya mengingatkan bahwa rasa itu adalah sebuah tanda-tanda. Sebuah firasat tentang sesuatu yang akan terjadi. Dan sebagai orang yang sangat awam pula, dalam keadaan bagaimanapun tak akan pernah dapat kubaca dengan jelas dan sadar pesan firasat itu pada saat itu.

“Mungkinkah aku akan sakit?”

“Atau adakah aku telah menyantap sesuatu yang tidak higienis, atau aku kurang beristirahat, atau sesuatu hal lain yang tak sengaja kulakukan sehingga mengganggu metabolisme tubuhku, dan muncullah rasa tak nyaman ini sebagai reaksi gangguan metabolisme tubuh?”

Dengan pendekatan rasional-logis itu kucoba menelusuri akar rasa tak nyaman itu. Tapi tentu saja tanda-tanda semacam itu bukanlah gejala metabolisme yang salah. Maka jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diagnosa itu nihil. Buntu tentu saja, sebab tanda-tanda seperti itu hanya dapat dibaca oleh kalbu.

Larut malam, rasa tak nyaman itu kian mendera, membawa insomnia.

Di tengah kebuntuan nalar logis-ku dengan pendekatan rasionalismenya, aku beralih pada kemungkinan bahwa rasa tak nyaman itu berasal dari kalbu.

“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya Al-Qur’an itu penyejuk bagi hati.”

Kata sebuah bisikan dari dalam kalbuku. Ia telah menundukkan rasionalitas otak yang kini tak berkutik. Beruntunglah kita memiliki sisi spiritualitas yang, walaupun kita sering mengabaikannya karena kita lebih mengunggulkan rasio, potensi kemampuannya jauh melebihi rasio itu sendiri.

Maka kuraih Qur’an, dan membuka surah ke-36: Yasin.

Pelan-pelan kueja kata demi kata dalam surah yang sangat besar fadhilahnya itu.

“Yasin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah,.... “ (Q.s. 36 : 1-2)

Dengan penuh tawadhu, kuresapkan ayat-ayat suci itu semampuku. Walaupun jauh lebih banyak ayat yang tak kutahu artinya, jadinya aku lebih banyak hanya sekedar membaca, tetaplah hikmah surat itu mampu merayap dan memberikan relaksasi pada syaraf-syaraf otakku. Rasa tak nyaman itu pun pelan-pelan luruh. Hingga di akhir ayat surat itu:

“Maka Maha Suci (Allah) yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Q.s. 36: 83)

Rasa tak nyaman itu pun mengalami netralisasi. Kini hanya insomnia yang tersisa. Hal yang lumrah padaku jika melewati pukul 00.30 tetapi aku belum memicingkan mata juga.

Lalu apakah makna rasa tak nyaman yang kurasakan sebelumnya? Adakah itu sebuah tanda-tanda? Atau firasat?

Sebagai orang yang awam, makna tanda-tanda itu baru dapat terbaca olehku kemudian. Setelah pesan yang dibawanya menjelma. Seperti jawaban yang datang di dini hari ini, pukul 04.00.
Rasa tak nyaman yang sempat menderaku itu mengabarkan makna pesan yang dibawanya lewat sebuah panggilan di handphone-ku pada saat yang tidak biasanya. Dini hari!

Di seberang telepon, adalah suara tante di kampung.

“Kamu sedang apa?”

“Seseorang telah berniat mencelakakan kakakmu dengan cara membakar rumahnya. Ludes, semuanya ludes. Tak ada yang tersisa. Untunglah mereka berhasil selamat sebelum api membakar mereka.”

“Kejadiannya sekitar pukul 02.00 dini hari tadi.” Sambungnya.

Aku membeku, rasa pilu mengiris. Itulah makna rasa tak nyaman itu. Sebuah tanda-tanda yang Dia berikan kepadaku. Sebuah firasat yang mengabarkan tentang musibah yang akan menimpa kakak saya nun di sana. Entah, motif apa di balik niat jahat itu.

“Tiada daya upaya, juga tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”.

“Duh, Rabb.... Seperti Engkau menimpakan musibah kepada kami, berikan pula kepada kami kekuatan dan ketabahan atas semua cobaan ini....”

Suka? Bagikan ke yang lain!

Hukum, Seperti Sabit?

22 April 2010

Konon, hukum di negeri kita ini bekerja seumpama sabit. Tumpul di atas tajam di bawah.

Seperti di ujung jalan itu. Seorang tukang becak, diam tak sanggup berkata-kata di depan seorang petugas berkemeja biru muda dengan celana warna biru gelap. Nyalinya ciut, dengan jelas terpancar rasa takut dari wajahnya. Dia hanya menatapi ujung jari kakinya. Raut mukanya yang sudah tua memelas. Di hadapannya seorang lelaki tegap, bersepatu kulit tinggi hingga betis, mencatat-catat sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan tukang becak tua itu. Mukanya garang, membuat sang tukang becak hanya mampu mengedip-ngedipkan kelopak matanya tanpa berani memandang sekalipun lelaki tegap dan tinggi itu.

Lelaki tua itu hanya mampu membisu. Sekolahnya mungkin tak tamat sekolah dasar. Dengan tingkat pendidikan itu, tentu ia sama sekali tak punya kemampuan berargumentasi untuk bisa beretorika dengan licin. Baginya apa yang disangkakan oleh lelaki muda di depannya adalah benar.

Dan memang benar, bahwa ia telah melanggar memasuki daerah yang seharusnya tak boleh ia masuki.

Sesungguhnya dia hanya tidak ingin melewatkan seorang calon penumpang yang mungkin membutuhkan jasa transportasinya. Ketika dilihatnya calon penumpang itu bersimbah peluh, dengan banyak barang bawaan, dia yakin bahwa penumpang itu membutuhkan jasanya. Maka tanpa pikir panjang dihampirinya sang calon penumpang. Dia sama sekali tak menyadari bahwa daerah itu adalah daerah yang tidak boleh dimasuki alat transportasi tradisional seperti miliknya: becak. Atau mungkin saja dari gambar becak yang disilang, yang terpasang di daerah itu, dia tahu bahwa di tempat itu adalah daerah larangan. Tetapi karena persoalan rezeki dari seorang calon penumpang, dia tetap mencoba menerobos. Hitung-hitungannya, tokh dia tak lama di tempat terlarang itu. Hanya butuh beberapa menit saja untuk mengangkut calon penumpangnya, lalu mengayuh becaknya sesegera mungkin berlalu. Tak ada resiko apa-apa bagi pengguna jalan lain, selain mungkin agak macet. Tetapi dia sungguh sial.

Sekonyong-konyong, muncullah lelaki tegap berseragam biru muda-biru tua yang kini menginterogasinya. Nomor becaknya dicatat, dan entah hukuman apa yang akan diterimanya. Mungkin becaknya, tumpuan harapan satu-satunya untuk mencari nafkah, akan diangkut paksa ke mobil petugas itu, atau becak itu akan dirusakkan seperti yang sering terlihat di ibukota beberapa masa yang lampau? Entahlah.

Yang jelas, aturan begitu tanggap bagi orang tua tukang becak itu. Petugas begitu sigap menangkapnya. Dan karena sadar akan pelanggarannya, maka tukang becak itu hanya bisa memelas untuk bisa dimaklumi. Tak sanggup berkelit. Apa pula yang harus dikelitkan? Tokh, dari awal dia tahu dirinya melanggar.

Hukum memang bekerja seperti sabit. Tajam di ujungnya, memotong rumput-rumput, bahkan mencabuti akar-akarnya. Hukum bekerja sangat baik untuk orang tua tukang becak itu.

Sementara kita membaca kisah orang kecil di atas, nun di ibukota sana, lewat siaran kotak kaca tivi, kasus dana talangan bank Century begitu sulitnya diurai. Mungkinkah karena banyak orang yang terlibat sehingga tak dapat didekati secara sigap oleh petugas? Untuk dilakukan penangkapan? Atau juga tentang kasus mafia pajak yang tak kalah sulitnya diurai. Mungkinkah karena terbentur pada persoalan siapa yang akan melakukan penangkapan itu? Dan sebagainya, dan sebagainya. Begitu berseliweran kasus-kasus sedemikian, yang hanya akan memiriskan jika diingat.

Yang pasti pada kasus-kasus itu, pada umumnya melibatkan, atau sekedar menyerempet, orang-orang atas yang berpendidikan tinggi. Mereka tentu saja punya kemampuan argumentasi yang dahsyat, membuat kebenaran menjadi diragukan. Atau kalau tak bisa, toh mereka mampu membayar orang lain untuk melakukan hal itu baginya. Bahkan pada banyak kasus, mereka yang terlibat atau yang terserempet adalah mereka yang membuat aturan, atau mereka yang akan menegakkan aturan. Hukum.

Dan hukum bukankah akan bekerja seperti sebuah sabit? Tumpul di atas pada bagian gagangnya. Siapa pula yang hendak memegang sabit kalau justru akan melukainya?

Hukum mungkin memang bekerja bagai sabit di negeri kita ini.

Suka? Bagikan ke yang lain


Daftar Tulisan

 
© Copyright Catatan Kontemplasi 2010 -2011 | Adopt by Mhomnak | Powered by Blogger.com.