
Sejak terbit pertama kali pada bulan September 2005 silam, Novel Laskar Pelangi (Tetralogi) yang ditulis oleh Andrea Hirata telah terjual lebih dari ratusan ribu eksemplar. Jika ditaksir-taksir secara kasar dengan asumsi bahwa tiap kali cetak sebanyak 10.000 eksemplar, maka hingga pada bulan Mei 2008 pada cetakan ke-22-nya setidaknya telah terjual kurang lebih 220.000 eksemplar.
Rata-rata harga jual novel ini adalah Rp. 60.000,-. Jadi nominal uang hasil penjualannya adalah sebesar Rp. 13.200.000.000,-. Sangat fantastis! Sebagaimana lazimnya 10% dari nominal ini adalah hak sang penulis, yang jika dirupiahkan akan sebesar Rp. 1.320.000.000,-. Ini baru satu buku, padahal akan ada empat buku dengan tingkat kelarisan yang bisa dipastikan akan setara. Maka akan mengalir uang kurang lebih Rp. 5.000.000.000,-, ke kantong Andrea Hirata.
Dengan jumlah kekayaan sebanyak itu, Ikal tidak sekedar meloncati nasibnya yang melarat tetapi meloncat dengan kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Maka kini Ikal adalah seorang Milyarder. Subhanallah!....
Namun,Andrea Hirata tetaplah Ikal yang dulu. Ikal yang telah menyatu dengan pahit getir kehidupan, Ikal yang pekerja keras, yang bersubuh-subuh hari telah sempoyongan memikul ikan besar dari pantai ke los pasar ikan demi biaya pendidikan, Ikal yang rela memecahkan tabungan ayam jagonya demi sebuah radio transistor kecil buat Weh yang hidup terasing.
Meskipun rasanya semua orang sepakat untuk menahbiskan Andrea Hirata sebagai seorang Milyarder baru, sedikit pun Andrea Hirata tidaklah nampak seperti itu. Andrea tetaplah dengan kesederhanaannya. Sebagai orang yang akrab dengan kemiskinan bahkan boleh dibilang kemiskinan telah imanen dengan dirinya, empatinya terhadap orang-orang miskin begitu dalam. Andrea dengan solidaritas Laskar Pelangi justru menggunakan semua keuntungan materialnya itu demi kepentingan orang-orang miskin di Belitong. Royaltinya dengan orde magnitudo milyaran rupiah dimanfaatkan untuk membangun sekolah gratis mulai dari tingkat TK sampai SMA di Belitong. Betapa luhur jiwanya, padahal nominal uang sebesar itu dapat saja menyebabkan orang-orang tertentu mabuk kepayang seperti seekor ayam jago menelan pil Bodrex. Tak usah dibilang uang itu memang jatahnya, jatah orang lain saja akan dirampasnya, digasak tanpa rasa berdosa sedikit pun. Anda pasti tahu dan tidak kesulitan menemukan contoh orang-orang yang demikian ini yang memang bertebaran di Republik kita ini.
Manakala kita bandingkan dengan sejumlah kasus-kasus korupsi yang jadi andalan negeri ini, maka Andrea Hirata lewat Novelnya Laskar Pelangi adalah “antitesis” dari semua kasus-kasus tersebut.
Saat ini kita semua sama tahu begitu banyak kasus korupsi, sogok-menyogok dengan nilai milyaran rupiah yang dilakukan oleh orang-orang elit yang dekat dengan pusat kekuasaan. Hanya demi kepentingan kemewahan sendiri. Bumi kita dengan segala kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dieksploitasi habis-habisan untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan cara yang semampu-mampunya demi kepentingan orang-orangnya yang sesedikit-sedikitnya. Untuk sanak famili dan dirinya saja. Kalau mereka tidak mampu mengeksploitasi sendiri, maka mereka akan menyerahkannya kepada orang asing dengan membagi hasilnya untuk mereka berdua saja. Padahal di sekeliling mereka bertebaran anak-anak bangsa yang juga memiliki hak terhadap kekayaan bumi ini, yang sangat kesulitan hidupnya. Mereka butuh sekadarnya untuk memenuhi kesejahteraannya yang dirampok secara elegan dan sombong. Mereka butuh untuk membiayai pendidikan mereka yang kian mahal.
Ini kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Sudah beberapa kejadian media massa memberitakan seorang anak sekolah yang bunuh diri lantaran tidak mampu membayar ongkos sekolah. Atau pun seorang Bapak atau Ibu bunuh diri karena tidak sanggup membiayai sekolah anak-anaknya yang begitu bersemangat untuk meraih pendidikan. Begitu sulitnya akses pendidikan di tanah air ini sehingga bagi rakyat kecil seakan mustahil untuk dijangkau. Terjerembablah mereka ke dalam rasa keputusasaan yang diselesaikan dengan kematian. Sungguh tragis!
Maka kehadiran Andrea Hirata dengan novel tetralogi Laskar Pelanginya adalah ibarat oase di tengah padang pasir. Menawarkan sebuah kesejukan, spirit dan optimisme lewat jalinan kata-kata dan kalimat yang dirangkai secara piawai oleh Andrea. “Andrea adalah seniman kata-kata”, kata Nicola Horner, seorang jurnalis di London.
Novel Laskar Pelanginya memang sungguh luar biasa. Membaca novel ini akan terasa memiliki daya spiritualitas yang kuat. Novel ini seperti memiliki sebuah roh yang dapat menggerakkan pembacanya (semua karya sastra berkualitas memang memiliki potensi ini. Hanya tingkat daya geraknya yang barangkali bervariasi). Betapa tidak, setelah membaca novel ini, seorang remaja, Nico, tiba-tiba memiliki semangat dan tekad yang kuat untuk dapat terlepas dari ketergantungan narkoba. Padahal remaja ini telah dua kali menjalani rehabilitasi dan tidak pernah mampu menyelesaikan program rehabilitasinya. Alhasil, setelah membaca novel Laskar Pelangi, dia mampu menjalaninya dan terbebas dari ketergantungan narkoba.
Setelah membaca novel ini, sejumlah pengusaha keturunan Tionghoa yang sukses di Jakarta dan punya pertalian darah dengan komunitas Tionghoa Belitong --kampung asal Ikal beserta 9 orang sahabat kecilnya— terpanggil dan berbondong-bondong untuk kembali menengok kampung halaman leluhur sembari membawa bingkisan Rp 20 juta untuk Lintang.
Sejumlah guru-guru di daerah-daerah terpencil setelah membaca novel ini tiba-tiba memiliki semangat dan bertekad untuk mengabdi sepenuh hati di daerah medan pengabdian mereka. Mengikuti contoh yang telah ditunjukkan oleh Ibu Muslimah. Kita merasa seolah berada di tengah-tengah anggota Laskar Pelangi saat menerima nasihat Pak Harfan bahwa hidup bisa demikian bahagia dalam keterbatasan jika dimaknai dengan keikhlasan berkorban untuk sesama. Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima apalagi mengambil atau merampok sebanyak-banyaknya.
Inilah sejumlah fakta-fakta yang menunjukkan betapa novel Laskar Pelangi memang memiliki daya gugah yang sangat kuat. Daya gugah nilai pengabdian tanpa pamrih. Sebuah nilai yang sepertinya telah sangat menipis di negeri ini. Maka novel Laskar Pelangi dapatlah menjadi sebuah alat terapi moral tersendiri terhadap sejumlah penyakit-penyakit kejiwaan akut negeri ini yang ditimbulkan oleh mentalitas yang serakah, egois, dan pesimistis.
Pembaca yang budiman, jika sedemikian hebatnya pengaruh novel ini terhadap mereka yang telah membacanya, kira-kira mampukah juga untuk mengubah mentalitas para koruptor jika mereka diminta membaca dan meresapi baik-baik novel Laskar Pelangi ini?
Barangkali ini adalah sebuah kajian penelitian sosial yang cukup menarik. Sampel untuk penelitian ini pun tersedia banyak, sebab bukankah koruptor di negeri kita ini adalah makhluk yang banyak bergentayangan dimana-mana?
Anda tertarik menelitinya? Saya tunggu hasilnya!
Bravo Andrea Hirata dan Laskar Pelanginya....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar