Konon, hukum di negeri kita ini bekerja seumpama sabit. Tumpul di atas tajam di bawah.Seperti di ujung jalan itu. Seorang tukang becak, diam tak sanggup berkata-kata di depan seorang petugas berkemeja biru muda dengan celana warna biru gelap. Nyalinya ciut, dengan jelas terpancar rasa takut dari wajahnya. Dia hanya menatapi ujung jari kakinya. Raut mukanya yang sudah tua memelas. Di hadapannya seorang lelaki tegap, bersepatu kulit tinggi hingga betis, mencatat-catat sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan tukang becak tua itu. Mukanya garang, membuat sang tukang becak hanya mampu mengedip-ngedipkan kelopak matanya tanpa berani memandang sekalipun lelaki tegap dan tinggi itu.
Lelaki tua itu hanya mampu membisu. Sekolahnya mungkin tak tamat sekolah dasar. Dengan tingkat pendidikan itu, tentu ia sama sekali tak punya kemampuan berargumentasi untuk bisa beretorika dengan licin. Baginya apa yang disangkakan oleh lelaki muda di depannya adalah benar.
Dan memang benar, bahwa ia telah melanggar memasuki daerah yang seharusnya tak boleh ia masuki.
Sesungguhnya dia hanya tidak ingin melewatkan seorang calon penumpang yang mungkin membutuhkan jasa transportasinya. Ketika dilihatnya calon penumpang itu bersimbah peluh, dengan banyak barang bawaan, dia yakin bahwa penumpang itu membutuhkan jasanya. Maka tanpa pikir panjang dihampirinya sang calon penumpang. Dia sama sekali tak menyadari bahwa daerah itu adalah daerah yang tidak boleh dimasuki alat transportasi tradisional seperti miliknya: becak. Atau mungkin saja dari gambar becak yang disilang, yang terpasang di daerah itu, dia tahu bahwa di tempat itu adalah daerah larangan. Tetapi karena persoalan rezeki dari seorang calon penumpang, dia tetap mencoba menerobos. Hitung-hitungannya, tokh dia tak lama di tempat terlarang itu. Hanya butuh beberapa menit saja untuk mengangkut calon penumpangnya, lalu mengayuh becaknya sesegera mungkin berlalu. Tak ada resiko apa-apa bagi pengguna jalan lain, selain mungkin agak macet. Tetapi dia sungguh sial.
Sekonyong-konyong, muncullah lelaki tegap berseragam biru muda-biru tua yang kini menginterogasinya. Nomor becaknya dicatat, dan entah hukuman apa yang akan diterimanya. Mungkin becaknya, tumpuan harapan satu-satunya untuk mencari nafkah, akan diangkut paksa ke mobil petugas itu, atau becak itu akan dirusakkan seperti yang sering terlihat di ibukota beberapa masa yang lampau? Entahlah.
Yang jelas, aturan begitu tanggap bagi orang tua tukang becak itu. Petugas begitu sigap menangkapnya. Dan karena sadar akan pelanggarannya, maka tukang becak itu hanya bisa memelas untuk bisa dimaklumi. Tak sanggup berkelit. Apa pula yang harus dikelitkan? Tokh, dari awal dia tahu dirinya melanggar.
Hukum memang bekerja seperti sabit. Tajam di ujungnya, memotong rumput-rumput, bahkan mencabuti akar-akarnya. Hukum bekerja sangat baik untuk orang tua tukang becak itu.
Sementara kita membaca kisah orang kecil di atas, nun di ibukota sana, lewat siaran kotak kaca tivi, kasus dana talangan bank Century begitu sulitnya diurai. Mungkinkah karena banyak orang yang terlibat sehingga tak dapat didekati secara sigap oleh petugas? Untuk dilakukan penangkapan? Atau juga tentang kasus mafia pajak yang tak kalah sulitnya diurai. Mungkinkah karena terbentur pada persoalan siapa yang akan melakukan penangkapan itu? Dan sebagainya, dan sebagainya. Begitu berseliweran kasus-kasus sedemikian, yang hanya akan memiriskan jika diingat.
Yang pasti pada kasus-kasus itu, pada umumnya melibatkan, atau sekedar menyerempet, orang-orang atas yang berpendidikan tinggi. Mereka tentu saja punya kemampuan argumentasi yang dahsyat, membuat kebenaran menjadi diragukan. Atau kalau tak bisa, toh mereka mampu membayar orang lain untuk melakukan hal itu baginya. Bahkan pada banyak kasus, mereka yang terlibat atau yang terserempet adalah mereka yang membuat aturan, atau mereka yang akan menegakkan aturan. Hukum.
Dan hukum bukankah akan bekerja seperti sebuah sabit? Tumpul di atas pada bagian gagangnya. Siapa pula yang hendak memegang sabit kalau justru akan melukainya?
Hukum mungkin memang bekerja bagai sabit di negeri kita ini.
Suka? Bagikan ke yang lain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar