08 Februari 2008

TETRALOGI LASKAR PELANGI : SANG PEMIMPI, DAN DAYA MOVERE SASTRA

Saya baru saja usai membaca buku kedua tetralogi Laskar Pelangi karangan Andrea Hirata: Sang Pemimpi. Sungguh mengagumkan! Betapa sebuah buku bergenre sastra yang patut dikoleksi. Benar-benar mencerahkan!

Tiba-tiba lembaran-lembaran memori masa kecil saya seolah-olah diproyeksikan kembali di depan saya melalui sebuah in focus. Begitu jelas dan nyata. Entah bagaimana caranya sehingga semua kenangan masa kecil saya terkuak kembali setelah puluhan tahun tersimpan dalam lipatan-lipatan waktu. Padahal, masa-masa kecil saya sangat jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh tokoh-tokoh Ikal, Arai, dan Jimbron, dalam buku Sang Pemimpi. Sebuah masa kecil yang penuh dengan kemanjaan, rengekan-rengekan keinginan yang lebih banyak menyusahkan orang tua, dan sepertinya hidup hanya untuk bermain kala itu. Sepertinya saya ingin kembali ke masa kecil saya dan menjalaninya kembali dengan cara yang lebih bermakna. Tapi mungkinkah? Saya bukan orang konyol yang obsesif kompulsif (karakter yang diberikan Andrea Hirata pada beberapa tokoh-tokoh novelnya).

Saya tiba-tiba merasa iri pada beberapa orang yang saya ketahui hidupnya begitu penuh perjuangan. Mencari sesuap nasi dan menghidupi dirinya sendiri jauh dari ketergantungan orang tua. Saya membayangkan betapa nikmatnya mengunyah nasi sesuap demi sesuap yang diperoleh dari hasil pergumulan hidup dengan tenaga sendiri. Dengan cara yang halal dan dibasahi tetesan keringat. Apa lagi jika hasil tetesan keringat ini juga dapat dinikmati orang lain.

Ingin rasanya saya menceritakan isi novel ini kepada para penyapu jalanan, anak-anak kecil yang memunguti sampah-sampah plastik, penjaja jalangkote, pisang goreng dan makanan ringan lainnya, penjual-penjual koran di jalanan, yang hari-hari mereka adalah hari-hari kerja keras di tengah kesibukan waktu sekolahnya demi biaya pendidikan yang kian menanjak kurvanya dalam bentuk kurva kuadrat dalam kuadran pertama. Saya ingin menceritakan kepada mereka tentang perjuangan hidup Arai dan Ikal yang tidak jauh berbeda dengan mereka, tetapi berkat kekuatan bermimpi mereka mampu mengenyam pendidikan tinggi. Ke luar negeri malah!.

Bahkan saya ingin mendaraskan isi buku ini kepada para wakil rakyat di ruang pertemuan mereka. Terutama tentang ketulusan Jimbron menyerahkan celengan miliknya yang isinya dikumpulkannya selama kurang lebih tiga tahun kepada sahabatnya Arai dan Ikal saat akan merantau ke Jawa. Celengan yang memang telah dipersiapkannya sejak awal untuk kedua sahabatnya itu. Tentu saja kepada para wakil rakyat ini saya harus mengkontekstualkannya secara langsung dalam darasan saya. Khawatir mereka salah memaknainya dengan cara hanya memikirkan kroni-kroninya saja. Bukannya memikirkan rakyak yang diwakilinya. Sesuatu yang memang seharusnya mereka lakukan.

* * *


Mengapa tiba-tiba perasaan-perasaan dan keinginan-keinginan di atas muncul setelah membaca sebuah novel berjudul Sang Pemimpi karangan Andrea Hirata?

Sastra, novel dalam hal ini, memang punya kekuatan menggerakkan (movere) dari dalam yang luar biasa. Dengan cara yang unik dan mengejutkan dapat memberi kita pengetahuan, juga bisa membuat kita menjadi pribadi yang berbeda. Lewat untaian kata-kata dalam jalinan kalimat-kalimat, penulis novel yang berkualitas dapat membimbing imajinasi kita, menarik emosi kita larut dalam alur cerita yang dibangun. Dan dengan cara yang begitu halus membawa kita untuk mengambil bagian dalam rangkaian peristiwa-peristiwa yang berbagai-bagai, mendebarkan, dramatis, mengucurkan air mata, lucu, membuat kita terpingkal-pingkal, dan menegangkan tanpa dikenai resiko gawat dari peristiwa bersangkutan.

Menurut Agus R. Sarjono dalam Catatan Kebudayaan-nya yang dimuat dalam Majalah Horison edisi Februari 2006, sastra dapat mengajak pembaca berhadapan dan mengalami secara langsung kategori-kategori moral dan kategori-kategori sosial dengan segala parodi dan ironinya. Ruang-ruang yang tersedia dalam karya sastra itu akan membuka peluang bagi pembaca untuk tumbuh menjadi pribadi yang kritis pada satu sisi, dan pribadi yang bijaksana karena pengalaman membaca sastra telah membawanya bertemu berbagai macam tema dan latar manusia, serta membawanya pula bertemu dengan beragam manusia dengan beragam karakter, ideologi, kecemasan, kegirangan, dan harapan-harapannya.

Demikian hebatnya kekuatan sastra. Dan untuk dapat mengalami semua itu, tentu prasyarat mutlaknya adalah CINTA MEMBACA.

Sangat berutunglah kita karena saat ini gerakan cinta membaca telah ramai diiklankan dan dipromosikan lewat berbagai program. Program Makassar Gemar Membaca, bertumbuhnya kafe-kafe buku, turun gunungnya suhu-suhu sastra ke sekolah-sekolah, dan sebagainya. Ini juga didukung dengan menghijaunya penerbitan-penerbitan buku, lahirnya penulis-penulis berbakat, terbitnya buku-buku berkualitas yang best seller dan mencerahkan termasuk buku tetralogi Laskar Pelangi yang menginspirasi lahirnya tulisan “celoteh sok” ini.

* * *


Yup!!!.... Tiba-tiba aku terlonjak. Buku Sang Pemimpi yang kubaca adalah buku yang sudah masuk cetakan keduabelas. Saya mendadak merasa malu. Sepertinya saya adalah orang yang paling belakangan membaca buku ini. Tapi kok, mengapa saya merasa paling confidence dengan membuat tulisan ini? Akhh…, muka saya rasanya berubah bersemu merah, cuping telinga rasanya agak panas, senyum saya terasa agak kikuk, malu! Saya seperti seorang sarjana S1 yang dengan percaya diri tinggi membual tentang sel surya, yang saya ketahui ─padahal pengetahuan saya sangat cetek─ hanya karena kebetulan menjadi bahasan skripsi saya dulu, di depan orang-orang yang tampak sangat awam. Padahal mereka itu adalah M. Barmawi, Wilson W. Wenas, Jasruddin, dan sebagainya yang semuanya adalah professor-profesor dan doktor dalam bidang sel surya. Idihhhh….. Saya rasanya seperti seorang mahasiswa yang sedang asyik menyontek catatan pada waktu ujian sementara dosen pengawas ujian itu telah berada tepat di samping saya tanpa saya sadari dan memberi tahu saya di halaman mana materi ujian itu berada….

Tapi saya berani menjamin bahwa nun jauh di kampung saya sana, di Manipi, saya masuk dalam daftar lima besar yang telah membaca novel ini. Bahkan mungkin peringkat pertama!

Lepas dari itu semua saya tetap ingin mengatakan, meskipun harus menekan rasa malu, bahwa buku Tetralogi Laskar Pelangi ini sangat perlu dibaca dan dikoleksi terutama untuk perpustakaan sekolah-sekolah. Demi pencerahan tentu saja!


Tidak ada komentar:

Daftar Tulisan