19 Juli 2008

Jelang "Masa Kemudahan"

Ibarat musim semi di mana kuncup-kuncup bunga, buah, atau pucuk daun mencuat bermunculan di sana-sini. Ataupun laksana akhir musim hujan dimana jamur bertumbuhan di mana-mana, begitulah bulan-bulan ini di tahun 2008 sampai 2009. Begitu Komisi Pemilihan Umum mengibarkan bendera start awal kampanye partai politik kontestan pemilihan umum 2009, maka saat itu pulalah akan segera bermunculan, cuat-mencuat, dan bertebaran janji-janji manis ‘lip-service’ parpol-parpol untuk menarik simpati masyarakat.

Masa-masa ini adalah masa dimana ‘bargaining position’ rakyat kecil mendadak naik. Masyarakat akar rumput yang berada di pelosok-pelosok terpencil sekalipun bersiap-siaplah menerima kunjungan demi kunjungan tokoh-tokoh yang sedari dulu sangat diimpi-impikan kedatangannya tapi tidak kunjung tiba. Saat ini adalah saat dimana impian itu akan terkabul, justru pada saat kita tidak pernah berharap untuk dikunjungi. Tapi begitulah, saatnya memang baru tiba sekarang.

Kita bagai orang yang baru bangun dari tidur hendak bersih-bersih kamar, tiba-tiba di ruang tamu kita yang sederhana telah duduk dengan anggunnya seorang tamu agung. Begitu rapi, anggun, sangat bersahabat, dan penuh perhatian duduk menunggui kita. Begitu baik dia saat ini. Wajah kusut kita yang baru bangkit dari pembaringan dengan muka yang bentol-bentol digulati kutu bantal dan kasur, di depan mata mereka terlihat bagai muka malaikat. Dan di halaman rumah kita yang sempit, berdesak-desakan pengantar tamu kita dengan senyum yang tak kalah ramah. Mereka membawa bermacam-macam sembako yang sangat kita butuhkan. Tentu saja semua itu akan diberikan kepada kita. Tak ketinggalan dari barang-barang mereka itu pasti ada baju kaos. Tentu saja harapan mereka setelah kita menerima semua pemberian itu adalah kita mengingatnya.

Sungguh beruntungnya kita pada masa-masa seperti itu. Dikunjungi oleh orang-orang kenamaan. Bagi kita yang ‘ngefans’ artis, jangan khawatir mereka akan mengajak serta artis-artis tertentu. Bagi kita yang punya keluh kesah atau berharap ada perbaikan nasib, tak usah sungkan. Utarakan saja unek-unek kita langsung kepada mereka dan mereka akan mendengar dan mengingatnya, lalu kemudian berjanji untuk memenuhi unek-unek kita. Betul-betul merupakan sebuah masa kemudahan. Tak perlu birokrasi berbelit-belit untuk menyampaikan sesuatu, juga tidak perlu aksi curi-curi perhatian, atau malah rampok perhatian (melalui demonstrasi misalnya), tetapi langsung saja dialog. Istilahnya : si’langsungan.

Namun sayang, keadaan itu hanya akan berlangsung selama beberapa bulan; bahkan tidak cukup setahun. Setelah hari-hari itu, kita akan kembali terlupakan. Terhempas di ruang-ruang pengap negeri. Terjepit di tengah-tengah perebutan kekuasaan yang justru kepunyaan kita. Menjadi kaum marginal. Unek-unek yang dulunya didengar dan diingat baik-baik oleh mereka tiba-tiba hilang tanpa bekas di ingatan. Tak pernah ada realisasi sedikit pun.

Kita pun tiba-tiba ingin bertemu mereka mengingatkan tentang unek-unek dan keluh kesah kita. Tapi jangan harap kemudahan-kemudahan itu masih menjadi milik kita sebab untuk menemui mereka saja, kita harus menempuh sejumlah prosedur birokrasi yang berbelit-belit. Itupun pada akhirnya kadang kala mereka yang ingin kita temui enggan atau ogah-ogahan menerima kita. Apakah kita mesti menunggu kurang lebih lima tahun lagi untuk kemudian menagih realisasi janji? Sangat mustahil. Sebab lima tahun kemudian saat bendera start yang sama kembali dikibaskan, itu bukanlah pertanda untuk merealisasikan janji tetapi pertanda untuk kembali menabur janji-janji baru.

Jadi, masa-masa ini sesungguhnya adalah masa-masa memetik janji-janji yang bertaburan. Setelah masa ini tibalah masa paceklik. Janji-janji itu tak berarti apa-apa lagi pada masa itu. Kita hanya menunggu untuk masa memetik janji berikutnya lima tahun kemudian. Celakanya, masa memetik janji jauh lebih singkat daripada masa pacekliknya.

Hal ini tidak bisa disangkal sebab berpuluh tahun telah berulang-ulang. Kalaupun ada yang hendak menyangkal, lakukanlah dengan membuktikan bahwa keadaannya memang tidak seperti itu.

7 komentar:

Anonim mengatakan...

wah suka politik juga ya bro hehhehe hajar deh sikat..hee

Anonim mengatakan...

yg bisa kita lakukan sebagai rakyat adalah berdoa supaya pemimpin itu bisa merealisasikan janji-janji mereka..

Anonim mengatakan...

saya sebenarnya g mau lagi bicara pemilu dan politik ini mas..karna susah, kita punya masyarakat yg bodoh dalam tanda kutips, alias tidak mendapatkan pendidikan yg wajar.. imbasnya adalah pembodohan politik..thd masayrakat.. saya ingin tanya mas.. apa yg kita banggakan dari para politisi negeri ini..? apa merek apunya rekord yg baik ? prestasi yg baik.. justru mereka adalah kebanyakn bekas tukang adu ayam dari kampung semua...hehehe gmn mau bicara rakyat.. artinya apa.. milih g milih mereka ttp ada, ini lah dari kekejaman sistem yg peluknya ada lah penjahat kerah putih.. wallhu a.lam.. mas.. tks mas komentaya di blog ku hehehe

Anonim mengatakan...

kedewasaan berpolitik bangsa ini memang masih memprihatinkan, tapi bagaimanapun juga ini bangsa kita, kita harus peduli, seperti kata Kennedy, right or wrong is my country, justru di tangan orang muda seperti kita ini, arah kapal besar bernama Indonesia mau dibawa, banyak hal yg bisa kita lakukan, kalo punya akses ke partai2, ayo masuk, calonkan diri anda jadi anggota legislatif, buat perubahan dari dalam, kalo tidak punya, wjudkan kesadaran politik dengan tidak golput pada perhelatan politik mendatang. Kesadaran politik kitalah yg akan menentukan nasib bangsa ini, Intinya, mari kita tetap optimis

Anonim mengatakan...

Politik...? Gak kepikiran sebelumnya

Anonim mengatakan...

ooo...janji bisa dipentik juga ya...kirain cuma bunga....he...he...

Anonim mengatakan...

ooo...janji bisa dipentik juga ya...kirain cuma bunga....he...he...

Daftar Tulisan