18 Juli 2008

Menyandingkan Sains dan Sastra : Antara Yohanes Surya dan Taufiq Ismail

Salah satu dari sekian tokoh pendidikan di negara kita dalam bidang sains fisika yang punya perhatian begitu dalam terhadap anak-anak muda adalah Yohanes Surya. Tenaga pengajar di Universitas Pelita Harapan Jakarta ini selain punya nama besar di kancah fisikawan Indonesia, juga seorang fisikawan kaliber Internasional.

Tuntutan profesinya memang mengharuskannya untuk banyak bergelut dengan para mahasiswa dan sejumlah penelitian-penelitian untuk pengembangan ilmu pengetahuan fisika yang digelutinya, serta memimpin beberapa organisasi profesinya. Tetapi di tengah kesibukan-kesibukan itu, dia masih meluangkan banyak waktu untuk membina dan mendidik putra-putri Indonesia yang masih duduk di bangku sekolah menengah, baik sekolah lanjutan pertama maupun sekolah lanjutan atas. Tentu saja dalam bidang fisika.

Apa yang dilakukannya ini tanpa pamrih apa pun kecuali demi satu impian: menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara peraih nobel bidang fisika. Jika hal ini dapat diwujudkan, betapa nama Indonesia akan terangkat di kancah sains internasional, peraih nobelnya akan mendapatkan medali atau penghargaan atau apapun yang bersifat material, dan Yohanes Surya sendiri sekedar mendapatkan rasa bangga dan kepuasan yang tiada tara atas keterwujudan cita-citanya.

Berawal dari pembentukan TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) bersama rekan-rekannya sekitar tahun 1991, Yo (panggilan akrab Yohanes Surya) membimbing sejumlah siswa sekolah menengah dan berupaya mengikutsertakan mereka dalam olimpiade fisika sedunia. Awalnya memang begitu sulit dan butuh perjuangan, tetapi TOFI setapak demi setapak mendekati cita-citanya. Kini TOFI telah menjadi sebuah tim yang disegani dalam bidang fisika di seluruh belahan dunia dan telah banyak menyumbangkan medali emas dalam lomba fisika tingkat internasional (Olimpiade Fisika Internasional). Untuk sementara waktu, prestasi ini tentu saja telah mengukir keharuman nama Indonesia di tengah-tengah berbagai predikat negatif yang dilekatkan pada negara kita.

Alumni-alumni TOFI kini telah banyak tersebar di perguruan-perguruan tinggi ternama di seluruh dunia. Hal ini akan membuka akses mereka terhadap begawan-begawan fisika dunia termasuk fisikawan peraih nobel. Dari interaksi mereka dengan para peraih nobel bidang fisika ini tidak berlebihan jika Yo berharap mereka dapat memperoleh banyak pengalaman dalam bidang penelitian fisika yang kelak akan mengantarkan mereka menjadi salah satu pemenang nobel beberapa masa mendatang.

Selain Yohanes Surya, nama Taufiq Ismail juga pantas disebutkan sebagai salah satu tokoh yang memiliki interest yang mendalam terhadap dunia pendidikan generasi muda. Bedanya, kalau Yohanes Surya dalam bidang sains fisika, maka Taufiq Ismail bergerak dalam bidang sastra.

Siapa yang tidak mengenal Taufiq Ismail. Dia adalah salah seorang sastrawan kawakan Indonesia. Sastrawan angkatan 66 ini sebenarnya adalah seorang dokter hewan yang justru pernah bekerja di PT. Unilever. Sebuah perusahaan yang bergerak bukan dalam bidang yang pernah dikaji olehnya.

Di samping bekerja di PT. Unilever, Taufiq Ismail hingga sekarang adalah salah seorang redaktur senior bahkan sekaligus sebagai salah seorang penggagas berdirinya satu-satunya majalah sastra yang terkenal di tanah air, Majalah Horison.
Melalui Majalah Horison ini, Taufiq Ismail berupaya mengkampanyekan kebiasan membaca di kalangan generasi muda. Kebiasan yang kelihatannya begitu dihindari oleh anak-anak muda jaman sekarang yang ironisnya justru merupakan sumber wawasan yang luas.

Menurut penelitian yang pernah dilakukan oleh Taufiq tentang kebiasaan membaca siswa-siswa sekolah menengah di seluruh dunia, ternyata sekolah-sekolah di Indonesia memiliki predikat dengan 0 (nol) buku (Majalah Horizon, Maret 2007). Tidak mengherankan jika Taufiq berupaya keras untuk membangun kebiasaan membaca bagi anak-anak sekolah sang generasi pelanjut melalui bacaan-bacaan sastra bermutu. Melalui kegiatan Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (SBSB) yang diadakan tiap tahun, Taufiq beserta sejumlah sastrawan-sastrawan lain “turun gunung” merambah sekolah demi sekolah untuk mengkampanyekan kebiasan membaca sekaligus menanamkan rasa cinta dan apresiasi siswa terhadap sastra.

Apa yang dilakukan baik oleh Yohanes Surya maupun Taufiq Ismail begitu penting dan fundamental. Hal itu terutama karena apa yang mereka lakukan bersentuhan langsung dengan generasi penerus bangsa kita. Fisika penting sebab ia adalah salah satu jantung teknologi yang mau tidak mau akan terus berkembang. Negara yang menguasai iptek sudah pasti akan menjadi negara yang maju. Lihatlah negara-negara Asia yang dekat dengan kita. Jepang, China, Korea Selatan, bahkan Malaysia adalah negara-negara yang maju karena penguasaan mereka terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Demikian pula negara Pakistan yang pernah punya fisikawan peraih nobel : Abdus Salam.

Sementara itu, sastra adalah sebuah karya seni yang sarat dengan nilai-nilai budaya dan nilai-nilai moral yang sangat dibutuhkan dalam mengiringi perkembangan sains dan teknologi. Sastra akan menyebabkan pembacanya menjadi pribadi yang bijaksana karena dengan sastra pembaca akan diajak mengalami dan menyelami secara langsung sejumlah kategori-kategori moral dan kategori-kategori sosial yang disuguhkan dalam karya itu beserta segala dinamikanya. Ruang-ruang yang tersedia dalam karya sastra akan membuka peluang bagi pembaca untuk tumbuh menjadi kritis dan bijaksana.

Pernah suatu ketika dalam ceramah kuliahnya, Einstein mengeluh di hadapan mahasiswa California Institute of Technology, “Dalam peperangan ilmu menyebabkan kita saling meracun dan saling menjagal. Dalam perdamaian dia membuat hidup kita dikejar waktu dan penuh tak tentu... Mengapa ilmu yang amat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hidup lebih murah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit sekali kepada kita?” (Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, 1997). Apa yang dikemukakan oleh Albert Einstein ini secara tidak langsung mewanti-wanti kita mengenai masalah yang dapat timbul sebagai akibat dari hakikat ilmu (sains) itu sendiri.

Ilmu termasuk sains yang di dalamnya adalah fisika bersifat netral dan bebas nilai. Sains tidak mengenal sifat baik atau buruk juga tidak memiliki penilaian moral. Sehingga, jika perkembangan sains hanya dibiarkan berjalan tanpa diimbangi dengan perkembangan nilai-nilai budaya dan moralitas, bukan mustahil apa yang dikeluhkan oleh Einstein di atas akan semakin menjadi-jadi terutama pada abad sekarang ini.
Di sinilah sasta tampil sebagai sumber nilai-nilai budaya dan moral yang akan terintegrasi dalam diri generasi pelanjut bangsa yang memiliki apresiasi yang tinggi terhadap sastra disamping kemampuan penguasaan sains dan iptek yang tinggi. Dengan demikian, perkembangan sains dan teknologi yang kita harapkan ke depan dapat mengarah pada kemaslahatan masyarakat Indonesia khususnya dan kemaslahatan umat manusia di seluruh dunia umumnya. Bukan justru sumber malapetaka dan bencana. Majunya Ilmu pengetahuan dan teknologi yang kelak akan dicapai oleh generasi muda kita harus bersanding dengan tingginya nilai-nilai budaya luhur dan moralitas para generasi muda bangsa yang kesemuanya dapat direguk dari sastra.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Hallou,...

Rofie mengatakan...

hhmm...ilmu memang delematis mas, dan itu adalah tanda betapa manusia tiada apa2 nya di hadapan Tuhan. hanya sedikti Ilmu itu buat kita, karna Ilmu itu sendiri ada lah sisi lain dari Tuhan..hehehe agak filosofis nih mas..hehehe.. karna Ilmu lah manusia itu istimewa.. apapun konsekuensi dari ilmu adalah bukti dari kekuatan sekaligus kelemahan ilmu itu sendiri. Hanya Iman dan Ihsan lah menjadi kaloborasi ilmu yag baik.ok mas... good articel..

Anonim mengatakan...

(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
(Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Daftar Tulisan