01 Januari 2009

Tahun Baru: Kontemplasi

Suasana sedikit berubah. Tempat-tempat yang jadi sasaran berlibur tiba-tiba padat. Jalan-jalan menuju ke tempat itu macet. Wisma-wisma, penginapan-penginapan, mendadak telah habis dipesan orang beberapa hari sebelumnya. Penjualan petasan atau mercon serta merta meningkat. Penjual terompet di pinggir-pinggir jalan seperti cendawan di akhir musim hujan. Tiba-tiba bermunculan satu demi satu. Semakin larut aktivitas transaksi mereka semakin meningkat.

Inilah situasi yang lazim menjelang pergantian tahun. Terompet dan petasan, adalah propertinya yang paling khas, sementara kemacetan dan kepadatan pengunjung di tempat-tempat wisata adalah lumrah karena libur yang didedikasikan untuk momen pergantian tahun ini.

Sekali dua kali pesan singkat masuk di handphone bututku.

“Dimana merayakan tahun baru ini Kawan?”

Apa yang harus dirayakan pada malam pergantian tahun?

Hemat saya, tak ada kejadian fenomenal apa pun di waktu itu. Selain bahwa bumi kita ini untuk yang kesekian kalinya dengan begitu patuhnya kembali menggenapkan fitrahnya berevolusi mengitari matahari satu putaran penuh. Selebihnya tak ada apa-apa.

Pada intinya, sesungguhnya tahun baru, bulan baru, hari baru itu adalah sama. Semuanya hanyalah satuan sekuens-sekuens waktu, yang satu berdurasi lebih panjang dari yang lain, yang dibuat manusia yang diasosiasikan dengan pergerakan sistem matahari, bumi, dan bulan.
Tahun baru berarti genap sudah satu kali putaran bumi mengedari matahari yang dijadikan pusat. Bulan baru pun berarti genap sudah bulan mengitari bumi satu kali putaran lengkap. Hari baru juga berarti genap sudah bumi terpusing di porosnya satu kitaran lengkap. Itu yang terjadi berulang-ulang. Lalu mengapa harus ada perayaan untuk tahun baru sementara bulan baru dan hari baru tidak? Terlalu sering jika semua harus diperingati? Terlalu banyak biaya? Energi?

Bagi hampir semua orang, pertanyaan di atas mungkin adalah pertanyaan yang hanya akan diajukan oleh mereka yang kolot. Maka termasuklah saya ke dalam golongan yang kolot itu. Tidak mengapa. Entah ada berapa orang lagi yang masuk kategori kolot itu selain saya.

Namun pun demikian, tahun baru sebagai sebuah sekuens waktu yang setara dengan waktu yang dibutuhkan oleh bumi mengitari matahari tentu tetap memiliki arti penting. Dapat dibayangkan betapa anehnya hidup ini jika kita tidak menetapkan sebuah penanda skala waktu. Kita akan hidup seolah-olah berada dalam keabadian. Hari ini melulu hari ini. Hari dimana kita lihat pergantian siang-malam terjadi berkali-kali. Tetapi kita tidak menandai itu sebagai pergantian hari. Dan mendadak kita akan terkejut saat maut telah menjemput seseorang di antara kita. Dia telah tiada. Sangat paradoksal: abadi tetapi mendadak tiada. Dan nyatanya, memang tidak ada sesuatu pun yang akan abadi. Semua hanya tampak abadi karena kita tidak memenggal kejadian-kejadian itu dalam sekuens-sekuens waktu.

Jadi tetaplah momen tahun baru itu memiliki makna yang penting. Namun tak perlu dirayakan begitu rupa sebab dia tak lebih dari pergantian hari, seperti halnya hari-hari kemarin yang senantiasa berganti.

Bagi saya sendiri, momen tahun baru ini hanyalah berati bahwa impian-impian saya yang telah saya tasbihkah di waktu lalu kini semakin dekat jaraknya untuk saya capai. Tak ada kemenangan apa-apa yang mesti kurayakan.

Tahun baru ini juga saya maknai bahwa kesempatan saya untuk menggapai segala cita-cita dan impian saya yang belum tercapai semakin sempit. Sebab saya menyadari sepenuhnya bahwa saya hanya memiliki penggalan jatah waktu tertentu, yang disebut umur, untuk melewati sekuens-sekuens waktu itu sendiri yang telah lama berjalan.
Maka dari itulah, di malam tahun baru ini ketimbang ikut dengan hingar bingar mereka yang modern (tidak kolot), aku lebih memilih untuk berdiam diri di rumah. Menghitung impian demi impian yang ingin kucapai, menetapkan skala prioritas bagi impian-impian itu demi efektivitas waktu yang tersisa. Juga aku hendak mengevaluasi hari-hari yang telah kulalui. Tentang seberapa bermakna dan seberapa efektifkah aku telah melaluinya.

Di momen tahun baru ini, aku ingin menginventarisir semuanya: niat, sikap, perbuatan, cita-cita, perencanaan, kemudian bertekad membenahi kekurangan-kekurangannya untuk efektivitas waktu yang tersisa. Sekaligus juga aku akan mengevaluasi tentang kesiapan diri saya untuk menghadapi masa yang akan bermula tepat pada saat jatah waktuku telah habis.

Begitulah, maka di tengah hingar-bingar hampir seluruh penduduk dunia merayakan momentum tiap 365 hari ini, aku ingin tetap di rumah. Seperti hari-hari sebelumnya.

Kontemplasi! Itulah yang akan kulakukan di malam pergantian tahun baru ini.

“Aku tidak akan kemana-mana. Hanya di rumah”

Demikian akhirnya kubalas pesan singkat dari sejumlah kawanku.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Tahun baru sebagian besar dianggap oleh orang2 sebagai prinsip hidup modern yang kemudian melupakan bahwa tiap detik, menit, hari kemudian bulan yang diakhiri tahun merupakan hari-hari terpenting dalam hidup kita yang seharusnya dimaknai bukan hanya diakhir tahun pemmaknaan itu timbul dengan berhura-hura......
Tidak jadi masalah kita kolot dalam urusan yang satu ini, tapi urusan yang lain maju dengan tegap coy...

Daftar Tulisan