Demikianlah, ketika Rasulullah menyampaikan khotbahnya yang terakhir pada Haji Wada’ sekian abad yang lampau, tentulah Beliau telah diberikan sebuah tanda-tanda tentang sesuatu hal. Dan sebagai seorang yang memiliki tingkat kesucian yang tertinggi yang dapat dimiliki oleh manusia di jagad raya ini, pastilah Rasulullah mampu membaca dengan tepat apa makna tanda-tanda itu. Makna tanda-tanda itu, dapat dibaca dari siratan khotbahnya yang mengarah kepada akan berpisahnya ia dengan segala anugerah kehidupannya, umatnya beserta seluruh sahabat-sahabatnya, dan perjuangannya mendakwahkan dan menegakkan agama Allah. Tepatnya, Rasulullah telah tahu bahwa ajalnya telah dekat saat itu, lewat tanda-tanda yang dibacanya.
* * *
Dan sebuah rasa yang tak nyaman tiba-tiba pula mendera saya malam ini. Bahkan telah bermula pada sore hari sabtu ini.
Sebagai orang awam, jauh dari “tingkat kesucian seorang wali”, rasa tak nyaman itu belum dapat kupahami sebagai sebuah tanda-tanda. Pikiran rasional-logis yang kumiliki masih mendominasi akalku sehingga menutupi kalbuku yang sedang berupaya mengingatkan bahwa rasa itu adalah sebuah tanda-tanda. Sebuah firasat tentang sesuatu yang akan terjadi. Dan sebagai orang yang sangat awam pula, dalam keadaan bagaimanapun tak akan pernah dapat kubaca dengan jelas dan sadar pesan firasat itu pada saat itu.
“Mungkinkah aku akan sakit?”
“Atau adakah aku telah menyantap sesuatu yang tidak higienis, atau aku kurang beristirahat, atau sesuatu hal lain yang tak sengaja kulakukan sehingga mengganggu metabolisme tubuhku, dan muncullah rasa tak nyaman ini sebagai reaksi gangguan metabolisme tubuh?”
Dengan pendekatan rasional-logis itu kucoba menelusuri akar rasa tak nyaman itu. Tapi tentu saja tanda-tanda semacam itu bukanlah gejala metabolisme yang salah. Maka jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diagnosa itu nihil. Buntu tentu saja, sebab tanda-tanda seperti itu hanya dapat dibaca oleh kalbu.
Larut malam, rasa tak nyaman itu kian mendera, membawa insomnia.
Di tengah kebuntuan nalar logis-ku dengan pendekatan rasionalismenya, aku beralih pada kemungkinan bahwa rasa tak nyaman itu berasal dari kalbu.
“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya Al-Qur’an itu penyejuk bagi hati.”
Kata sebuah bisikan dari dalam kalbuku. Ia telah menundukkan rasionalitas otak yang kini tak berkutik. Beruntunglah kita memiliki sisi spiritualitas yang, walaupun kita sering mengabaikannya karena kita lebih mengunggulkan rasio, potensi kemampuannya jauh melebihi rasio itu sendiri.
Maka kuraih Qur’an, dan membuka surah ke-36: Yasin.
Pelan-pelan kueja kata demi kata dalam surah yang sangat besar fadhilahnya itu.
Dengan penuh tawadhu, kuresapkan ayat-ayat suci itu semampuku. Walaupun jauh lebih banyak ayat yang tak kutahu artinya, jadinya aku lebih banyak hanya sekedar membaca, tetaplah hikmah surat itu mampu merayap dan memberikan relaksasi pada syaraf-syaraf otakku. Rasa tak nyaman itu pun pelan-pelan luruh. Hingga di akhir ayat surat itu:
Rasa tak nyaman itu pun mengalami netralisasi. Kini hanya insomnia yang tersisa. Hal yang lumrah padaku jika melewati pukul 00.30 tetapi aku belum memicingkan mata juga.
Lalu apakah makna rasa tak nyaman yang kurasakan sebelumnya? Adakah itu sebuah tanda-tanda? Atau firasat?
Sebagai orang yang awam, makna tanda-tanda itu baru dapat terbaca olehku kemudian. Setelah pesan yang dibawanya menjelma. Seperti jawaban yang datang di dini hari ini, pukul 04.00.
Rasa tak nyaman yang sempat menderaku itu mengabarkan makna pesan yang dibawanya lewat sebuah panggilan di handphone-ku pada saat yang tidak biasanya. Dini hari!
Di seberang telepon, adalah suara tante di kampung.
“Kamu sedang apa?”
“Seseorang telah berniat mencelakakan kakakmu dengan cara membakar rumahnya. Ludes, semuanya ludes. Tak ada yang tersisa. Untunglah mereka berhasil selamat sebelum api membakar mereka.”
“Kejadiannya sekitar pukul 02.00 dini hari tadi.” Sambungnya.
Aku membeku, rasa pilu mengiris. Itulah makna rasa tak nyaman itu. Sebuah tanda-tanda yang Dia berikan kepadaku. Sebuah firasat yang mengabarkan tentang musibah yang akan menimpa kakak saya nun di sana. Entah, motif apa di balik niat jahat itu.
“Duh, Rabb.... Seperti Engkau menimpakan musibah kepada kami, berikan pula kepada kami kekuatan dan ketabahan atas semua cobaan ini....”
Suka? Bagikan ke yang lain!
“Mungkinkah aku akan sakit?”
“Atau adakah aku telah menyantap sesuatu yang tidak higienis, atau aku kurang beristirahat, atau sesuatu hal lain yang tak sengaja kulakukan sehingga mengganggu metabolisme tubuhku, dan muncullah rasa tak nyaman ini sebagai reaksi gangguan metabolisme tubuh?”
Dengan pendekatan rasional-logis itu kucoba menelusuri akar rasa tak nyaman itu. Tapi tentu saja tanda-tanda semacam itu bukanlah gejala metabolisme yang salah. Maka jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diagnosa itu nihil. Buntu tentu saja, sebab tanda-tanda seperti itu hanya dapat dibaca oleh kalbu.
Larut malam, rasa tak nyaman itu kian mendera, membawa insomnia.
Di tengah kebuntuan nalar logis-ku dengan pendekatan rasionalismenya, aku beralih pada kemungkinan bahwa rasa tak nyaman itu berasal dari kalbu.
“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya Al-Qur’an itu penyejuk bagi hati.”
Kata sebuah bisikan dari dalam kalbuku. Ia telah menundukkan rasionalitas otak yang kini tak berkutik. Beruntunglah kita memiliki sisi spiritualitas yang, walaupun kita sering mengabaikannya karena kita lebih mengunggulkan rasio, potensi kemampuannya jauh melebihi rasio itu sendiri.
Maka kuraih Qur’an, dan membuka surah ke-36: Yasin.
Pelan-pelan kueja kata demi kata dalam surah yang sangat besar fadhilahnya itu.
“Yasin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah,.... “ (Q.s. 36 : 1-2)
Dengan penuh tawadhu, kuresapkan ayat-ayat suci itu semampuku. Walaupun jauh lebih banyak ayat yang tak kutahu artinya, jadinya aku lebih banyak hanya sekedar membaca, tetaplah hikmah surat itu mampu merayap dan memberikan relaksasi pada syaraf-syaraf otakku. Rasa tak nyaman itu pun pelan-pelan luruh. Hingga di akhir ayat surat itu:
“Maka Maha Suci (Allah) yang ditangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan” (Q.s. 36: 83)
Rasa tak nyaman itu pun mengalami netralisasi. Kini hanya insomnia yang tersisa. Hal yang lumrah padaku jika melewati pukul 00.30 tetapi aku belum memicingkan mata juga.
Lalu apakah makna rasa tak nyaman yang kurasakan sebelumnya? Adakah itu sebuah tanda-tanda? Atau firasat?
Sebagai orang yang awam, makna tanda-tanda itu baru dapat terbaca olehku kemudian. Setelah pesan yang dibawanya menjelma. Seperti jawaban yang datang di dini hari ini, pukul 04.00.
Rasa tak nyaman yang sempat menderaku itu mengabarkan makna pesan yang dibawanya lewat sebuah panggilan di handphone-ku pada saat yang tidak biasanya. Dini hari!
Di seberang telepon, adalah suara tante di kampung.
“Kamu sedang apa?”
“Seseorang telah berniat mencelakakan kakakmu dengan cara membakar rumahnya. Ludes, semuanya ludes. Tak ada yang tersisa. Untunglah mereka berhasil selamat sebelum api membakar mereka.”
“Kejadiannya sekitar pukul 02.00 dini hari tadi.” Sambungnya.
Aku membeku, rasa pilu mengiris. Itulah makna rasa tak nyaman itu. Sebuah tanda-tanda yang Dia berikan kepadaku. Sebuah firasat yang mengabarkan tentang musibah yang akan menimpa kakak saya nun di sana. Entah, motif apa di balik niat jahat itu.
“Tiada daya upaya, juga tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung”.
“Duh, Rabb.... Seperti Engkau menimpakan musibah kepada kami, berikan pula kepada kami kekuatan dan ketabahan atas semua cobaan ini....”
Suka? Bagikan ke yang lain!
4 komentar:
Turut prihatin kawan. Hikmahnya untukku yang saat ini juga sedang mengalami beratnya hidup, harta (rumah) bisa diusahakan kembali tetapi nyawa tetaplah yang terpenting. Alhamdulillah karena kakakmu baik2 saja kawan.
Thanks kawan...
* Beranda
* Artikel
* Puisi
* Diari
* Belajar Fisika Yuk
pak tolong dong mnt tutorial yg lengkap saya pemula banget,,,bikin readmore aja gagal mulu apa lg bikin kaya tulisan diataas seperti
Beranda, Artikel, Puisi, Diari, Belajar Fisika Yuk
saya ini pemula banget pak jadi dibikin sedetail mgkin kl prl plus gambar,,,tiap klik beranda artikel dll isiA beda nah itu cara nulisA juga bgmn,,,,
/kirim ke email saya cucuk.hariyanto@yahoo.co.id
terima kasih....
Posting Komentar